Bagaimana Hukum Memanggil Manusia dengan Panggilan yang Dia Benci?

0
12

BincangSyariah.Com – “Oi gendut”, “woi hitam”, “dekil”, “eh tuli”, “dasar monyet”, “kurus”. Apakah Anda akrab dengan kalimat di atas? Atau Anda sering dipanggil dengan sebutan itu? Atau sebaliknya. Anda bisa memenggil teman dan saudara dengan istilah di atas? Nah, bagaimana hukum memanggil manusia dengan panggilan yang dia benci?

Syahdan, panggilan di atas jamak kita jumpai dalam pergaulan anak muda, remaja, pun dalam pergaulan orang dewasa. Nahasnya, dalam pergaulan anak-anak,  pun ghalib panggilan di atas terdengar. Lebih dari itu, para publik pigur di stasiun televisi sering menggunakan panggilan di atas sebagai jokes atau sebagai materi komedi.

Tak bisa dipungkiri, panggilan di atas terkadang ditujukan oleh  seorang teman pada sahabat akrabnya. Atau panggilan biasa yang digaungkan oleh anak muda dalam dunia pergaulan. Atau ini panggilan lelucon dalam dunia komodi di televisi.

Nah, orang yang dipanggil dengan sebutan di atas terkadang tak mempermasalahkan dengan spanggilan  itu. Namun, tak sedikit yang keberatan dengan sebutan tersebut. Ia benci dengan panggilan tersebut. Panggilan ini bisa tergolong dengan bulliying. Sikap bulliying bisa merusak mental sesorang.

Nah sebenarnya bagaimana Islam memandang persolan ini? Bolehkah seorang dipanggil dengan sebutan tersebut? Atau bolehkah dalam Islam memanggil manusia dengan panggilan yang dia benci?

Dalam kitab Al-Adzkar, karya Mahyuddin Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawi, menjelaskan haram hukumnya seseorang dipanggil dengan seruan tersebut. Lebih lanjut,  Imam Nawawi mengatakan dilarang dalam syariat Islam dengan panggilan yang ia benci. Dalam Islam hal itu sangat dilarang.

Meskipun, panggilan tersebut disifatkan kepada orang tuanya. Misalnya Ahmad punya ayah atau ibu yang berkulit hitam.  Lantas si Ahmad pun dipanggil dengan “Si hitam”.  Dan ia tak ridha  atau benci dengan sebutan tersebut. Ini pun dilarang dalam Islam.

Imam Nawawi berkata:

وتفقوا العلماء على تحريم تلقيب الانسان بما يكره سواء كان له صفة كالاعمش والاعرج. او كان صفة لابيه او لامه او غير ذالك مما يكره

Artinya: Sepakat para ulama atas haram hukumnya memanggil seseorang dengan panggilan yang ia benci. Meskipun panggilan tersebut memang  disifati oleh orang yang dipanggil tersebut. Seperti panggilan “Si buta” atau “Si Pincang”. Atau panggilan tersebut merupakan sifat yang menempel pada orang tua atau panggilan lain yang dibenci oleh orang yang dipanggil dengan nama tersebut.

Imam Nawawi merujuk firman Allah dalam Q.S Al Hujarat ayat 11. Ini landasan utama dari hujah  atas haramnyamemanggil manusia dengan panggilan yang dia benci.

Allah berfiman dalam Alquran:

وَلَا تَنَابَزُوۡا بِالۡاَلۡقَابِ‌ؕ

Wa laa tanaabazu bil alqob

Artinya: Jangan kamu panggi-memanggil dengan gelar yang buruk.

Meski demikian, Imam Nawawi membuat pengecualian hukum. Ia mengatakan boleh hukumnya—memangil seseorang dengan nama yang ia benci—, sebagai pengenal atau identitas. Pendek kata, bila tak disebut “Si Hitam”, maka orang tak mengenal si Ahmad. Nama itu sudah melekat dalam diri yang diseru. Maka kata Imam Nawawi, boleh hukumnya menyeru dengan panggilan tersebut, meskipun yang dipanggil tak ridho.

Berikut pendapat Imam Nawawi:

واتفقوا على جواز ذكره بذالك على جهة التعريف لمن لا يعرفه الا بذالك

Artinya: Sepakat Ulama, boleh memanggil sebutan yang dibenci sebagai pengenalan/identitas, bagi oran yang tak mengenalnya kecuali dengan panggilan tersebut.

Demikianlah penjelasan bagaimana hukum memanggil manusia dengan panggilan yang dia benci?

(Baca: Hukum Memanggil Orang Lain dengan Nama Hewan)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here