Bagaimana Hukum Adzan di Gunung Bagi Para Pendaki Gunung?

0
18

BincangSyariah.Com –  Anda Pecinta alam? Anda tergabung dengan komunitas pendaki gunung, dan hobi naik gunung? Atau Anda sering camping untuk menepi sejenak dari kebisingan kota? Tak dapat dipungkiri, mendaki gunung  atau camping merupakan olahraga yang banyak digemari para millenial. Nah, pada saat Anda di puncak gunung atau camping, jamak kita lihat pemandangan;  ketika hendak melaksanakan salat, sebagian para pendaki gunung mengumandangkan adzan dan iqomat terlebih dahulu. Untuk peristiwa ini, bagaimana hukum adzan di gunung bagi para pendaki gunung?

Status adzan dalam hukum Islam  merupakan perkara yang disyariatkan  oleh Allah. Namun, terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang hukum mengumandangkan adzan; apakah adzan wajib atau sekadar sunnah. Menurut Jumhur (kebanyakan) ulama mahzab yang empat berpendapat, hukum adzan adalah sunnah muakkadah—sangat dianjurkan Nabi.

Nah, terkait mengumandangkan adzan di gunung atau tempat camping sebelum masuk waktu salat, hukumnya adalah sunnah. Pendapat ini bisa dibaca dalam kita Nihayatus Zain, karya Abi Abdul Mukti Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Al-Jawi. Imam Nawawial-Jawi berkata;

.فصل; في سنن  الصلاة المكتوبة قبل الدخول فيها, و هي الشيئان :  الاذان و الاقامة

Artinya: Ada dua perkara hukumnya sunnah  dikerjakan sebelum melaksanakan salat wajib, yaitu adzan dan iqomat. (Nihayatus Zain, hal. 94).

Ada pun sunnahnya adzan dan iqomat sebelum melaksanakan salat adalah hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim:

(اذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم (الصحيحين

Artnya; Apabila datang waktu salat, maka hendaklah adzan salah seorang dari kalian.

Di samping itu, ada juga hadist nabi yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

وتقول اذا قمت الى الصلاة : الله اكبر الله اكبر الى اخر الاقامة

Artinya: Apabila kamu hendak melaksanakan salat, katakanlah “Allohu Akbar Allohu Akbar” sampai akhir dan laksanakan juga iqomat.

Selanjutnya terdapat juga hadis  Nabi yang termaktub dalam kitab Bulughul Maram,  karya  Syekh Ibnu Hajar Al-Asqolani.  Pada pembahsan Adzan beliau mengutip hadis Nabi yang bersumber dari Malik bin Huwairis. Berikut hadisnya:

(و عن مالك بن الحويرث قال: قال لنا النبي صلى الله عليه و سلم : و اذا حضرة الصلاة فليئذن لكم احدكم .(الحديث, اخرجه السبعة

Artinya: Dari Malik bin Huwairist, ia berkata;”Nabi pernah bersabda kepada kami, apabila waktu salat telah tiba , hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan untuk kalian semua. (al Hadis, dikeluarkan oleh Imam yang tujuh).

Persoalan selanjutanya, ketika seseorang hendak salat sendiri (munfarid) di gunung atau tempat camping, maka adzan pun tetap disunatkan kepadanya. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi Al-Jawi;

.سن اذان و اقامة) (لذكر ولو منفردا) بالصلاة في صحراء او غيرها , و يكفي في الاذان المنفرد اسماع نفسه)

Artinya: Sunat mengumandangkan adzan dan iqomat bagi lelaki walapun ia dalam keadaan salat munfarid (sendirian) di gurun sahara atau selainnya.  Ketika adzan untuk salat munfarid cukup ia sendiri yang mendengar suara adzannya.

Terkadang ada persolan lain, ketika sedang berada dipuncak gunung terjadi sesuatu, misalnya ada salah seorang pendaki yang terkena gangguan jin (kesurupan) atau terjadi kebakaran di hutan. Dalam keadaan demikian pun tetap disunatkan adzan. Sunat adzan tetap berlaku meskipun niat adzan bukan untuk melaksanakan salat.

Pendapat ini bisa kita baca dalam kitab Tuhfatul Muhtaj karya dari Imam Ibn Hajar al-Haitami;

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي …وَعِنْدَ الْحَرِيقِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ.

Artinya: sesungguhnya di sunatkan juga melaksanakan adzan selain untuk melaksanakan salat , salah satunya ketika terjadi kebakaran, dan ketika ada gangguan jin yang jahat.

Demikianlah pembahasan bagaimana hukum adzan di gunung bagi para pendaki gunung.

(Baca: Hukum Menjawab Adzan Sambil Berjalan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here