Bagaimana Hubungan Islam dengan Kebangsaan?

0
504

BincangSyariah.Com – Hubungan Islam dengan kebangsaan bisa dilihat dari pentingnya menegakkan nilai-nilai universal dalam ajaran Islam. Nilai-nilai yang dimaksud adalah kebenaran, keadilan, kasih sayang, kesabaran, perpaduan, kebaikan, keindahan dan lain sebagainya.

Sebagai misal, dalam al-Qur’an, surah al-Anfal (6) ayat 41 dikatakan bahwa tanah-tanah negeri yang ditaklukan oleh tentara Isam dibagikan untuk tentara yang menaklukkannya, fakir miskin, dan lain sebagainya.

وَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Wa in janaḥụ lis-salmi fajnaḥ lahā wa tawakkal ‘alallāh, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm

Artinya: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Lantas, bagaimana sebenarnya hubungan Islam dengan kebangsaan?

Pertama, kebangsaan adalah sebuah produk ijtihad. Konsep kebangsaan memang tidak secara langsung dan eksplisit dijumpai dalam ajaran Islam, tapi ada nilai-nilai universal di dalamnya yang sejalan dengan ajaran Islam.

Kedua, dalam konteks Indonesia, secara historis, wawasan dan pilar-pilar kebangsaan Indonesia seperti Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dilahirkan oleh para pendiri bangsa atau biasa disebut sebagai The Founding Father.

Sebagian besar The Founding Fathers Indonesia adalah para ulama dan tokoh-tokoh Islam. Ada K.H.Wahid Hasyim, H.Agus Salim, Muhammad Natsir, K.H. Mas Mansyur, bahkan Soekarno dan Hatta, yang tidak tergolong sebagai ulama atau ahli agama. (Baca: Ijtihad Tasawuf Kebangsaan Syaikhona Kholil Madura)

Meski begitu, Soekarno dan Hatta adalah dua tokoh yang tergolong sebagai orang yang religius dan Islamis. Keduanya ingin sekali mengamalkan ajaran-ajaran Islam tentang kemajuan sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dalam buku Agama dalam Kehidupan Bangsa (1991) K.H. Ali Yafie mengatakan bahwa sejauh ini, rakyat Indonesia sudah cukup berpengalaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini. (Baca: Prof. K.H. M. Ali Yafie: Pakar Hukum Islam Penggagas Fikih Sosial)

Baca Juga :  Dasar Zikir Huu Huu Huu dalam Ajaran Tasawuf

Mengapa demikian? Sebab, bangsa Indonesia telah menampilkan suatu pola kehidupan beragama yang dituangkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara. Bahkan lebih dari itu, ada aset nilai-nilai agama dakam suratan konstitusi UUD 1945 yang cukup besar untuk bisa dikembangkan.

Usaha para tokoh Islam di Indonesia untuk membangun pilar-pilar kebangsaan dan melaksanakannya dalam sebuah negara kesatuan Republik Indonesia, sesungguhnya mempunyai kemiripan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. sebagaimana yang tertuang dalam Piagam Madinah atau Mitsaq al-Madinah.

Konsep kebangsaan, sebagaimana yang telah digagas oleh para tokoh agama memperlihatkan bahwa hubungan Islam dengan negara di Indonesia tidak didasarkan pada logo, simbol, atau namanya yang bersifat formal, tapi lebih pada isi dan substansinya.

Meskipun dasar kebangsaan negara Indonesia bukan syari’at Islam, tapi pilar-pilar kebangsaan Indonesia yang telah terbentuk sangat menjamin, melindungi, dan menyuburkan pelaksanaan nilai-nilai ajaran Islam dalam berbagai bidang kehidupan baik dalam sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dakwah dan lain sebagainya.

Ketiga, secara psikologis, manusia adalah makhluk yang dalam menjaga keberlangsungan hidupnya, baik secara jasmani atau rohani, spiritual atau material yang sangat membutuhkan orang lain dan bergantung kepada orang lain.

Berbagai kebutuhan hidup manusia, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan, hiburan dan lain sebagainya tidak bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri. Seluruh kebutuhan manusia di dunia berasal dari hasil tolong menolong dan kerjasama dengan orang lain, terutama orang-orang di sekelilingnya.

Secara psikologis, manusia terkadang melampaui batas, cenderung melanggar, anarkis dan lain sebagainya. Dalam mendapatkan segala kebutuhan tersebut, maka diperlukan adanya nilai-nilai dan etika yang harus dipatuhi terlebih dahulu.

Agar nilai-nilai etika mampu ditegakkan, maka diperlukan adanya pemerintahan dan agar pemerintahan tersebut tidak berbuat sewenang-wenang. Maka, pemerintahan pun mesti tunduk pada aturan yang lebih tinggi yang berasal dari Tuhan.

Baca Juga :  Sabda Nabi Agar Meninggalkan Debat Meskipun Benar

Keempat, secara pragmatis, wawasan kebangsaan sangat dibutuhkan untuk menjamin terwujudnya sebuah kehidupan yang aman, tertib dan damai. Dalam keadaan negara yang demikian, maka memungkinkan manusia bisa memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.

Pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam membutuhkan sebuah wadah yakni negara yang tertib, aman dan damai, dan negara yang demikian harus memiliki wawasan kebangsaan yang kokoh.

Jika telah menjalankan kehidupan kebangsaan yang telah dijelaskan di atas, maka umat Islam akan bisa menjalankan ibadahnya dengan khusyuk, melakukan kegiatan dakwah, melaksanakan pendidikan, dan melahirkan berbagai karya-karya yang inovatif lainnya. Itulah hubungan Islam dengan kebangsaan yang sudah ditanamkan sejak Indonesia berdiri []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here