Bagaimana Cara Islam Membingkai Kesehatan Mental?

0
12

BincangSyariah.Com – Kesehatan mental dalam perspektif Islam adalah kemampuan diri individu dalam mengelola fungsi-fungsi kejiwaan. Kesehatan mental juga berkaitan dengan terciptanya penyesuaian dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar dengan dinamis berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Al-Qur’an dan as-Sunnah dijadikan sebagai pedoman hidup agar bisa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam hal ini, Islam sebenarnya membingkai kesehatan mental tidak jauh berbeda dengan pandangan para ahli pada umumnya.

Peran agama Islam bisa membantu manusia dari gangguan kejiwaan serta membina kodisi kesehatan mental seorang manusia. Kesehatan mental bisa diartikan sebagai kondisi terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental.

Orang yang sehat secara mental akan selalu merasa aman dan bahagia dalam kondisi apa pun. Dengan begitu, ia akan melakukan introspeksi atas segala hal yang dilakukannya. Atas pijakan tersebut, ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.

Agama tidak dapat dipisahkan dari aspek-aspek baik yang kecil maupun besar dalam kehidupan manusia. Pengingkaran manusia pada agama bisa saja terjadi karena ada faktor tertentu, entah karena oleh kepribadian atau lingkungan masing-masing.

Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. ialah manusia diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan. (Baca: Kepribadian Islami: Solusi Masalah Kesehatan Mental)

Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Agama (2005) mendeskripsikan bahwa kesehatan mental adalah kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram.

Usaha atau upaya untuk menemukan ketenangan batin tersebut bisa dilakukan dengan melakukan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Islam bisa berarti penyerahan diri atau berserah diri pada Allah Swt.

Baca Juga :  Apakah Anak Angkat Berhak Mendapatkan Warisan?

Jalaluddin Rakhmat mencatat, sesuai dengan pengertian Islam, ditinjau dari segi bahasanya dan asal katanya, Islam memiliki beberapa pengertian sebagai berikut:

Pertama, berasal dari ‘salm’ ( (السَّلْم) yang berarti damai dalam QS. 8:61.

وَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Wa in janaḥụ lis-salmi fajnaḥ lahā wa tawakkal ‘alallāh, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm

Artinya: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kedua, berasal dari kata ‘aslama’ (أَسْلَمََ ) yang berarti menyerah. Quran Surat An-Nisa Ayat 125:

 وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًا

Wa man aḥsanu dīnam mim man aslama waj-hahụ lillāhi wa huwa muḥsinuw wattaba’a millata ibrāhīma ḥanīfā, wattakhażallāhu ibrāhīma khalīlā

Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”

Ketiga, berasal dari kata istaslama–mustaslimun (اسْتَسْلَمَ -َ مَُسْتَسْلِمُوْنََ ) penyerahan total kepada Allah Swt. Quran Surat As-Saffat Ayat 26:

 بَلْ هُمُ ٱلْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ

Bal humul-yauma mustaslimụn

Artinya: “Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.”

Keempat, berasal dari kata ‘saliim’ (سَلَِيْ مَ) yang berarti bersih dan suci. Quran Surat Asy-Syu’ara Ayat 89:

 إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Illā man atallāha biqalbin salīm

Artinya: Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

Kelima, berasal dari ‘salam’ ( سَلاَ مَ ) yang berarti selamat dan sejahtera. Quran Surat Maryam Ayat 47

 قَالَ سَلَٰمٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّىٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِى حَفِيًّا

Baca Juga :  Hakikat Kepribadian Seorang Muslim

Qāla salāmun ‘alaīk, sa`astagfiru laka rabbī, innahụ kāna bī ḥafiyyā

Artinya: “Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”

Islam membingkai kesehatan mental sebagai kemampuan diri individu dalam mengelola terwujudnya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan. Selain itu, terciptanya penyesuaian dengan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar secara dinamis berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here