Bagaimana Cara Ahlus Sunnah Menghadapi Covid-19?

0
1263

BincangSyariah.Com- Covid-19 atau yang sering disebut dengan virus corona menarik perhatian seluruh masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, virus pandemi ini menyerang ratusan negara di dunia. Semua orang dihimbau untuk melakukan social distancing, menjaga jarak dari kerumunan dan keramaian. Bahkan, beberapa negara mengeluarkan kebijakan lockdown guna menekan dan memutus mata rantai penyebaran.

Namun di Indonesia maraknya kampanye #DiRumahAja, tidak dirasa cukup untuk menyadarkan masyarakat agar tetap berada di rumah. Hal tersebut tentu bisa dimaklumi bagi mereka para pekerja yang tidak bisa tidak harus pergi keluar untuk mengais rezeki. Seperti pedagang asongan, tukang ojek, dan lain sebagainya. Yang menjadi persoalan ialah, beberapa kelompok yang justru masih menganggap bahwa virus ini adalah makhluk Allah dan tidak perlu takut karena hidup dan mati merupakan takdir Tuhan.

Tepat pada poin inilah ajaran Islam tentang qadha dan qadar diuji. Dalam sejarah Islam, persoalan qadha dan qadar adalah salah satu wacana yang mengemuka. Kelahiran madzhab Mu’tazilah, Jabbariyah dan Ahlus Sunnah adalah produk perdebatan ini. Umat Islam di Indonesia sebagai penganut faham sunni terbesar di dunia, semestinya memahami dengan baik bagaimana cara memahami qadha dan qadar.

Pernyataan bahwa “corona adalah makhluk Allah, jangan takut karena hidup dan mati merupakan takdir Tuhan” sama sekali tidak mencerminkan ajaran paham Ahlus Sunnah. Alih-alih menunjukkan sikap Ahlus Sunnah, pernyataan semacam itu justru menunjukkan betapa paham jabbariyah menjangkiti umat Islam Indonesia. Sedangkan paham ini, dalam sebuah kitab KH Hasyim Asy’ari yang berjudul Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, menjadi salah satu ajaran yang dianggap sesat.

Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari, dengan mengutip pendapat Syaikh Ibnu Abdussalam, membagi bid’ah menjadi lima. Salah satu jenis bid’ah, yaitu bid’ah yang haram. Beliau mencontohkan bid’ah jenis ini dengan bid’ah yang dilakukan oleh kelompok Mu’tazilah, dan Jabbariyah. Sebagaimana diketahui, Mu’tazilah merupakan kelompok yang sangat menjunjung tinggi kehendak manusia di atas teks kewahyuan. Sedangkan sebaliknya, Jabbariyah adalah pendukung paham tentang ketiadaan kehendak manusia.

Baca Juga :  Berwudhu Sebelum Belajar Adalah Bagian dari Memuliakan Ilmu

Dalam konteks covid-19, Mu’tazilah tentu akan berusaha semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan manusia dalam menghadapi virus ini. Penelitian, eksperimen dan eksplorasi di laboratorium-laboratorium barangkali adalah jawaban pandangan kelompok ini dalam melawan virus ini. Kehendak Tuhan dalam persoalan virus ini, menurut mereka, ialah perintah untuk berfikir menggunakan rasio mereka untuk menemukan obat atau penawar virus ini. Dalam titik yang paling ekstrem, berdoa adalah kesia-sian belaka.

Sebaliknya, paham Jabbariyah dalam menghadapi virus ini akan jatuh pada kepada kepasrahan belaka. Mereka meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah, termasuk di dalamnya peristiwa wabah covid-19 ini. Bahkan kematian massal akibat virus inipun juga terjadi atas kehendak-Nya. Manusia dengan demikian harus menerima kehendak-Nya.

Barangakali apa yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari untuk mengarahkan umat Islam berpegang pada akidah Ahlus Sunnah adalah pilihan yang tepat. Mengikuti kehendak manusia secara mutlak ala Mu’tazilah sangat tidak sesuai bagi kosmologi mayoritas umat Islam di Indonesia.

Karena dalam sejarahnya, spiritualitas (tasawuf) adalah ciri yang melekat dalam umat Islam di Nusantara. Muslim Nusantara sangat terbiasa dengan doa, mujahadah, istighosah dan hal-hal semacamnya dalam menghadapi persoalan kehidupan. Kegiatan spiritual semacam itu adalah cermin bahwa umat Islam Nusantara masih meyakini bahwa Tuhan secara bebas berkehendak sesuai dengan kehendak-Nya.

Sedangkan pasrah secara mutlak dan meyakini semua yang terjadi adalah kehendak-Nya, dalam situasi seperti ini, sangat bertentangan dengan maqasid as-syar’iyyah. Karena di dalam tujuan pemberlakuan syariat terdapat tujuan hifdzun nafs (menjaga jiwa manusia). sedangkan bersikap pasrah saja, tentu akan sangat membahayakan nyawa manusia dalam wabah semacam ini.

Ahlus Sunnah tidak serta merta cenderung pada satu aspek, baik kehendak manusia maupun kehendak Tuhan. Faham ini ialah sintesa dari dialektika kedua paham sebelumnya. Mengutip Syaikh Thohir bin Sholeh dalam Jawahir al-Kalamiyah pembahasan iman terhadap qadha dan qadar.

Baca Juga :  Hukum Menjarah dalam Islam

إنَّهُ يَجِبُ كُلُّ إِنْسَانٍ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْتَقِدَ وَ يَجْزِمَ بِأَنَّ جَمِيْعَ أَفْعَالِهِ وَأَقْوَالِهِ وَجَمِيْعِ حَرَكَاتِهِ – سَوَاءٌ كَانَتْ خَيْرًا أَوْ شَرًا – هِيَ وَاقِعَةٌ بِإِرِادَةِ اللهِ وَتَقْدِيْرِهِ وَعِلْمِهِ، لَكِنَّ الْخِيْرَ بِرِضَاهُ. وَالشَّرَّ لَيْسَ بِرِضَاهُ. وأنَّ لِلْعَبْدِ إِرَادَةً جُزْئِيَّةً فِيْ أَفْعَالِهِ الْاِخْتِيَارِيَّةِ. وَاِنَّهُ يُثَابُ عَلَى الْخَيْرِ وَيُعَاقَبُ عَلَى الشَّرِّ. وَأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ عُذْرٌ فِيْ فِعْلِهِ الشَّرَّ. وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ .

Bahwa mukallaf wajib yakin dan mantap bahwa semua perbuatan, ucapan dan segala aktifitas mereka, baik ataupun buruk itu atas kehendak, takdir dan ilmu Allah SWT, namun (hanya) kebaikan yang diridhai-Nya dan keburukan tidak diridhai-Nya. Sedangkan bagi hamba mempunyai keinginan sendiri dalam hal yang bersifat ikhtiari, dan itu juga menjadikannya diberi pahala ketika berbuat kebaikan dan akan disiksa ketika melakukan keburukan. Tiada alasan baginya ketika melakukan keburukan. Dan Allah bukanlah dzat yang berbuat dzalim kepada para hamba-Nya.

Dengan demikian, menyelamatkan manusia dari wabah adalah perbuatan baik dan membiarkan wabah ini terus menyebar adalah perbuatan buruk dan Tuhan tentu tidak akan bersikap buruk (zalim) kepada hamba-Nya. Sehingga ikhtiar untuk menyelamatkan umat manusia dari wabah ini adalah hal yang baik dan harus dilakukan.

Selain itu, ulama Ahlus Sunnah telah mengajarkan bagaimana hidup secara seimbang (tawazun). Dalam konteks covid-19, sebagaimana apa yang disampaikan Gus Mus, kita semestinya menyeimbangkan ikhtiar yang bersifat lahir dan batin. Oleh karena itulah, sebagai penganut faham sunni terbesar di dunia, semestinya Indonesia menjadi teladan bagi dunia. Bahwa ikhtiar seperti social distancing, memakai Alat Pelindung Diri (APD), mematuhi himbauan pemerintah dan kerja-kerja para tenaga medis harus terus dilakukan. Akan tetapi, berdoa dan menyadari semua ini terjadi atas kehendak-Nya juga dijadikan landasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here