Bagaimana Bentuk Cinta Tuhan pada Hamba-Nya ?

0
1483

BincangSyariah.Com – Mendapatkan julukan al-Ustadz, ‘Abdu al-Karim bin Hawazin bin ‘Abd al-Malik bin Tholhah bin Muhammad, atau lebih dikenal dengan Abu al-Qasim al-Qusyairi (l. 986 M – w. 1072 M) adalah diantara ulama besar yang lahir dari kata Khurasan, kini masuk di wilayah negara Iran. Ia adalah diantara rombongan orang-orang Arab yang bermigrasi ke wilayah Khurasan ini. Khurasan adalah kota yang banyak melahirkan para sarjana-sarjana besar yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Seljuqiyyah (Seljuk). Al-Ghazali (w. 505 H/1111 M), pernah memimpin salah satu akademi keislaman terbesar di kota ini, al-Madrasah an-Nizhamiyyah. Guru-guru al-Qusyairi juga diantara ulama besar di wilayah ini. Diantaranya adalah Abu ‘Ali al-Hasan bin ‘li ad-Daqqaq, Abu Bakar bin al-Faurak (salah seorang pakar mazhab Asy’ari dari kalangan mutakallimiin), hingga Abu al-Ishaq al-Isfarayini (pakar Ushul al-Fiqh).

Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam karyanya, ar-Risalah al-Qusyairiyah, cinta atau al-Mahabbah, adalah sebuah kondisi yang sangat mulia yang Allah persaksikan sendiri kondisi tersebut berada pada seorang hamba. Cinta Tuhan kepada hamba-Nya bahkan beliau tegaskan sendiri bahwa Dia berkuasa mengerahkan makhluk-makhluk-Nya untuk ikut mencintai hamba yang merupakan kekasih-Nya. Kisah ini misalnya terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim,

إذا أحب الله عزّ وجلّ العبد قال لجبريل: يا جبريل، إنِّيْ أحبّ فلانًا فأحبّه، فيحبّه جبريل ثم ينادي جبريل في أهل السّماء، إنّ الله تعالى قد أحبّ فلانًا فأحبّوه، فيحبّه أهل السّماء، ثمّ يضع له القبول في الأرض. و

sesungguhnya ketika Allah ‘Azza wa Jalla ketika mencintai seorang hamba, ia berkata kepada Malaikat Jibril: “wahai Jibril, sesungguhnya saya mencintai orang ini, maka cintailah juga dia. Jibril pun mencintainya, kemudian ia memanggil para penghuni langit “sesungguhnya Allah mencintai orang ini maka kalian cintailah ia.” Lalu kemustajaban doanya diberikan kepada hamba yang di bumi itu.

Lalu siapa yang bisa dikategorikan orang yang Allah cintai? Dalam hadis lain riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Saw. bersabda,

Baca Juga :  Viral, Benarkah Kata Ijazah Satu Akar Kata dengan Mukjizat?

من أحبّ لقاء الله أحب الله لقاءه، ومن لم يحبّ لقاء الله لم يحبّ الله لقاءه

siapa yang senang bertemu dengan Allah, Allah senang unuk bertemu dengannya. Dan siapa yang tidak suka bertemu Allah, Allah menjadi tidak senang bertemu dengannya. (H.R. al-Bukhari)

al-Qusyairi mengatakan yang dimaksud dengan cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah “kehendaknya secara khusus dari Allah yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Ia berbeda dengan rahmat Allah atau sekadar kehendak-Nya. Cinta Allah Swt. kepada hamba-Nya juga bagian sifat rahmat-Nya. Jadi sebagian ulama sufi mengatakan, sebenarnya cinta adalah diantara sifat-sifat-Nya yang kekal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here