Ayat tentang Larangan Bersedih dalam Al-Quran

0
25

Bincangsyariah.com – Kesedihan adalah sifat dasar manusia yang bergantung pada situasi tertentu. Selama masih hidup, selama itu pula seseorang akan dihinggapi kesedihan. Karena menjalani kehidupan tidak selamanya selalu bahagia. Kebahagiaan dan kesedihan adalah pasangan yang selalu berdampingan dalam sebuah kehidupan. Namun berlarut pada kesedihan dilarang oleh Allah Swt yang tertuang dalam ayat-ayat-Nya.

Kesedihan yang hadir pada diri seseorang tidak hadir begitu saja. Terdapat hal-hal yang menyebabkan kesedihan muncul. Imam al-Ghazali dalam Mizan al-‘Amal mengatakan bahwa terdapat empat penyebab kesedihan,

pertama, karena keinginan yang berlebihan terhadap suatu.

Kedua, kehilangan sesuatu yang kita miliki.

Ketiga, terlalu memikirkan masa depan.

Keempat, merasa bersalah dalam melakukan hal buruk. Untuk menghindari kesedihan, alangkah baiknya kita untuk menghindari penyebab-penyebab hadirnya kesedihan dalam diri.

Dr. Edward Bodowlski dalam Leave Worrying and Seek Betterment menjelaskan bahwa kesedihan berdampak buruk terhadap kesehatan. Di antara dampak buruknya ialah dapat mengganggu pencernaan, mempengaruhi kesehatan jantung, meningkatkan tekanan darah tinggi dan dapat menyebabkan rematik.

Pandangan ini sejalan dengan al-Qur’an yang melarang hambaNya bersedih. Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij as-Saalikin mengatakan bahwa kata “sedih” dalam al-Qur’an berada dalam konteks larangan. Adapun ayat tentang larangan bersedih dalam Al-Quran adalah sebagai berikut,

Pertama, surah Ali Imran [3]: 139,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Kedua, surah An-Nahl [16]: 127,

وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Ketiga, surah At-Taubah [9]: 40,

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Qur’an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here