Ayat-Ayat Alquran tentang Malu dan Tafsir Singkatnya

0
4470

BincangSyariah.Com – Malu adalah diantara perasaan yang dimiliki oleh manusia. Diantara bentuk dari sikap atau rasa malu adalah enggan melakukan sesuatu baik sendiri maupun di hadapan orang banyak, karena sebab-sebab tertentu. Umumnya dikarenakan sikap yang bersumber dari internal kita, tidak siap dikritik misalnya atau merasa akan di-bully, atau gugup, dan masih banyak lagi. Tapi malu adakalanya praktiknya bisa positif. Tapi bisa juga negatif.

Dalam bahasa Arab, kata malu adalah al-hayaa’. Kata al-Hayaa’ seakar dengan kata al-hayat yang bermakna kehidupan. Kata dasarnya adalah hayiya – yuhyii yang makna awalnya adalah mengekalkan sesuatu seperti kondisi awalnya. Kehidupan dimaknai al-hayaat karena makna yang terkandung adalah sesuatu yang tidak berubah atau berakhir, yaitu kematian (al-mawt). Kata al-hayat punya persinggungan makna dengan malu (al-hayaa’) karena malu juga punya arti menahan sesuatu (al-ihtibas/al-imtina’) agar tidak berubah dari yang sudah seharusnya.

Dalam Alquran, kata yang ada untuk menunjukkan makna malu ada di beberapa tempat diantaranya adalah,

  1. Al-Baqarah [2]: 26

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا

Sesungguhnya Allah tidak malu (untuk menunjukkan keagungan-Nya) dengan mengambil perumpamaan berupa nyamuk, maka (tentu lebih tidak malu lagi jika contohnya) lebih besar dari (nyamuk) itu.

Pesan dari ayat ini adalah, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, Allah bahkan tidak merasa sungkan, atau tidak percaya diri layaknya makhluk-Nya, untuk menggunakan perumpaan yang sangat sederhana sekali, misalnya nyamuk. Dalam ayat tersebut juga, disebutkan kalau orang beriman pasti mengerti kalau ada kebenaran pada pengambilan nyamuk sebagai contoh dari Allah. Sementara bagi orang yang tidak beriman (kafir), ia malah memungkiri dan meremehkan, “kok, nyamuk mau menunjukkan kebesaran Tuhan.” (Lihat: Fragmen Gus Baha: Agar Sadar Betapa Dahsyatnya Mukjizat Nabi Muhamamad)

  1. Al-Ahzab: 53

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ

Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian masuk ke dalam rumah-rumah Nabi kecuali jika kalian sudah diizinkan (untuk datang menikmati) jamuan, dengan tidak menunggu-nunggu waktu (masakan)-nya. Tetapi jika kalian sudah dipanggil untuk datang, maka hadirlah. Dan jika kalian sudah nikmati makanannya, pergilah dan jangan malah memperbanyak pembicaraan (yang tidak perlu). Sesungguhnya yang demikian itu menyakiti Nabi Saw. (namun) kemudian beliau malu terhadap kalian. Dan Allah tidak malu (menerangkan) kebenaran.

Pesan dari ayat ini adalah, ayat ini oleh banyak ulama disebut sebagai dasar etika bertamu dalam Islam. Di ayat ini, disebutkan Allah Swt. langsung bahwa salah satu sifat Nabi Saw. itu malu, dengan contohnya adalah para tamu yang datang ke rumah Nabi Saw. tidak kunjung kembali. Lalu Allah memungkas sifat Nabi Saw. tersebut bahwa Allah justru sebaliknya tidak malu menyampaikan apa yang benar. Kata fa yastahyii tersebut, kalau kita kembali pada penjelasan titik temu makna antara al-hayaat dengan al-hayaa, maka sikap malu Nabi Saw. (yastahyii) itu terwujud juga pada pembiaran pada kondisi yang ada. Maka, hemat penulis, tidak keliru jika memang kata al-hayaat dan al-hayaa’ punya dimensi makna yang sama.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here