Ayat Al-Quran Tentang Keragaman Suku Bangsa

1
1112

BincangSyariah.Com – Ada sekian ayat Al-Quran tentang keragaman suku bangsa. Salah satu yang paling spesifik, dan seringkali dijadikan landasan keniscayaan kehidupan berbangsa dan bernegara, adalah surah al-Hujurat [49]: 13, yang isinya adalah sebagai berikut,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah menciptakan kalian menjadi laki-laki dan perempuan, dan (dengan menciptakan manusia berpasangan) kami telah jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling bertakwa diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

 

Ada ayat lain yang semisal pesannya sebenarnya dalam ayat tersebut, yaitu pada awalnya manusia ini sebenarnya dari keturunan yang sama, yaitu Nabi Adam As. Kemudian, ketika Allah takdirkan ada pasangannya, yaitu Siti Hawa, jadilah manusia kemudian berketurunan terus menerus berkembang biak, menyebar ke seluruh penjuru bumi dengan beragam bangsa dan warna kulit. Demikian seperti dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim ketika menafsirkan surah An-Nisa [4]: 1,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Wahai manusia!, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari jiwa yang satu, dan menciptakan dari jiwa tersebut pasangannya dan memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.  Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Bahkan, dalam ayat 1 surah An-Nisa’, kenyataan bahwa manusia berasal dari nenek moyang yang sama lalu berkembang biak sehingga menjadi bersuku dan berbangsa dikaitkan langsung dengan ajaran menjaga hubungan kekeluargaan. Ini menunjukkan bahwa dari sisi sebagai manusia, saling berkasih sayang, saling mengenal dan saling membantu sesama suku bangsa menjadi sebuah keniscayaan.

Baca Juga :  Bacaan yang Dibaca Ketika Imam Membaca Surah At-Tin

Ibn Katsir, masih dalam karya tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, mengutip sekian riwayat berisi kritik Rasulullah Saw. terhadap perilaku merendahkan orang lain. Salah satunya adalah kisah yang disebutkan oleh Ibn ‘Abbas, ketika sejumlah orang di kota Mekkah sempat ‘nyinyir’ ketika Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan azan,

قال ابن عباس : لما كان يوم فتح مكة أمر النبي – صلى الله عليه وسلم – بلالا حتى علا على ظهر الكعبة فأذن ، فقال عتاب بن أسيد بن أبي العيص : الحمد لله الذي قبض أبي حتى لا يرى هذا اليوم . قال الحارث بن هشام : ما وجد محمد غير هذا الغراب الأسود مؤذنا . وقال سهيل بن عمرو : إن يرد الله شيئا يغيره . وقال أبو سفيان : إني لا أقول شيئا أخاف أن يخبر به رب السماء ، فأتى جبريل النبي – صلى الله عليه وسلم – وأخبره بما قالوا ، فدعاهم وسألهم عما قالوا فأقروا ، فأنزل الله تعالى هذه الآية . زجرهم عن التفاخر بالأنساب ، والتكاثر بالأموال ، والازدراء بالفقراء ، فإن المدار على التقوى . أي : الجميع من آدم وحواء ، إنما الفضل بالتقوى

Ibn ‘Abbas berkata: Ketika Fath Makkah terjadi, Rasulullah Saw. memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Lalu ‘Utab bin Usaid bin Abi al-‘Aish berkata: “Alhamdulillah, bapakku sudah wafat jadi tidak menyaksikan hari ini.” Al-Harits bin Hisyam berkata: “Muhammad tidak punya muazin lain selain gagak hitam ini.” Suhail bin ‘Amr berkata: “jika Allah berkehendak, Dia akan mengubah ini.” Abu Sufyan berkata: “saya tidak bilang apapun yang saya takut Tuhan di langit akan mengujinya untuk kita.” Jibril lalu menemui Nabi Saw. dan memberitahu apa yang mereka katakana. Lalu Nabi Saw. memanggil mereka semua dan menanyakan apa betul mereka mengatakan hal itu. Lalu mereka mengiyakan. Lalu Allah menurunkan ayat ini, untuk melarang mereka saling berbangga karena keturunan, berlomba memperbanyak harta, menghina yang fakir. Sesungguhnya intinya adalah ketakwaan. Maksudnya: semua manusia itu keturunan Adam dan Hawa. Kemuliaannya hanya terletak pada ketakwaannya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here