Ayat Ahkam: Seputar Penegakan Hukum Qishash (Al-Baqarah [2]: 179)

0
31

BincangSyariah.Com – Pembaca yang  budiman, sebagaimana kita ketahui, qishash merupakan salah satu ketentuan dalam syariat islam terkait dengan tindak pidana. Dengan menggunakan hukum qishash, maka seseorang yang membunuh dengan sengaja akan balas dibunuh, demikian juga dengan orang yang dengan sengaja memotong atau merusak fungsi organ tubuh tertentu.

Secara kesejarahan, hukum qishash bukan tidak hadir seiring dengan hadirnya syariat Islam, namun hal tersebut merupakan sebuah hukum yang berlaku sejak masa fathrah, yakni masa ketiadaan Nabi di Mekah sejak zaman Nabi Ismail hingga kelahiran Nabi Muhammad. Masyarakat Arab pra Islam sudah memberlakukan hukum qishash ini namun tentu saja dengan praktik yang melenceng dan jauh dari prinsip keadilan.

Dari sudut pandang lain, kita ketahui bahwa budaya masyarakat Arab Jahiliyah ialah budaya perang, dan saling bunuh membunuh antar suku. Maka dengan adanya qishash ini, tujuannya adalah seseorang yang berniat membunuh orang lain, maka ia akan berfikir seribu kali mengingat konsekuensi dari tindakan tersebut ialah dia akan balas dibunuh. Secara umum, tujuan semacam itu adalah apa yang tersirat dalam QS Al-Baqarah:179,

وَلَكُمْ فِى ٱلْقِصَاصِ حَيَوٰةٌ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wa lakum fil-qiṣāṣi ḥayātuy yā ulil-albābi la’allakum tattaqụn

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa.”

Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan redaksi wa lakum (manfaat bagi kalian semua), dimana secara gramatikal Arab, kata tersebut biasa digunakan untuk memberikan kabar gembira. Artinya, dengan pemberlakuan hukum qishash ini, Allah ingin memberikan kabar gembira kepada manusia bahwa kasus pembunuhan akan semakin bisa diminimalisir mengingat bahwa calon pelaku sudah keburu jerih terlebih dahulu karena terancam dengan hukuman balas bunuh.

Baca Juga :  Perjalanan Panjang Belajar Langsung kepada Syaikhul Maqashid Ahmad Al-Raysuny

Tidak lupa pula pada akhir ayat Allah menyelipkan kalimat “supaya kalian bertakwa”, maksudnya adalah dengan diberlakukannya hukum qishash ini diharapkan bahwa manusia akan semakin takut dengan larangan Allah agar jangan saling membunuh, apalagi jika mengingat bahwa di depan mata sudah ada ancaman hukuman balas bunuh.

Lantas bagaimana dengan penerapan hukum qishash di berbagai belahan negara yang notabene mayoritas penduduknya ialah muslim? Harus diakui bahwa hanya sedikit sekali negara berpenduduk mayoritas muslim yang memberlakukan penegakan hukum qishash ini. Sebagian besar diantara mereka lebih memilih menerapkan hukuman penjara ketimbang menjatuhkan hukuman mati pada si pembunuh. Prinsip kemanusiaan yang tertuang dalam HAM biasanya yang menjadi alasan mengapa hukuman mati tidak menjadi pilihan.

Menyikapi hal ini, para ulama kontemporer yang menggunakan pendekatan maqashid syariah, diantaranya Syekh al-Qaradhawi, Ibn ‘Asyur, Jasser Audah, dan lain sebagainya menyatakan bahwa dalam syariat Islam itu dikenal ada dua istilah, yakni wasail dan maqashid; perantara dan tujuan. Dalam persoalan hukum qishash ini, perantaranya ialah hukuman mati (balas bunuh) dan tujuannya ialah efek jera. Secara prinsipil dalam kajian maqashid syariah, maqashid itu tidak bisa diganggu gugat sementara wasail bisa berubah atau dimodifikasi. Karena dalam persoalan ini pemberlakuan hukum qishash hanya dijadikan sebagai perantara, maka ia bersifat tidak mutlak, tidak absolut, dan bisa dirubah.

Perubahan tersebut adalah menuju pilihan hukuman yang lain yang tentunya tidak bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia, namun harus tetap secara efektif mencapai tujuan yakni memberikan efek jera. Seperti misalkan hukuman mati tersebut diganti dengan penjara seumur hidup asalkan bisa memberikan efek jera.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here