Ayat Ahkam: Sejarah Pemindahan Arah Kiblat (Al-Baqarah: 144)

0
81

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai rasul pada saat kondisi kota Mekah sedang berada dalam zaman kegelapan. Para penduduk Mekah pada saat itu menganut kepercayaan paganisme atau dalam istilah arabnya disebut sebagai orang-orang Musyrik. Alih-alih menyembah kepada Allah yang Esa sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai kakek moyang mereka, mereka malah lebih condong untuk menyembah berhala. Pada saat itu, Ka’bah yang telah menjadi pusat peribadatan banyak diisi oleh berhala-berhala. Satu diantara berhala paling besar mereka namai dengan Hubal.

Kondisi berbeda dengan kota Yatsrib (nama sebelum kemudian diganti oleh Rasulullah dengan nama Madinah). Di kota tersebut, penduduknya sudah mengenal agama (dien). Diantaranya ialah Kabilah Bani Najran yang beragama Nasrani dan Kabilah Bani Quraidzah yang beragama Yahudi. Karena kedua agama tersebut masing-masing memiliki kitab yang dianut, maka mereka biasa disebut sebagai Kaum Ahli Kitab.

Sebagaimana kita ketahui, dakwah pertama Rasulullah dilakukan di kota Mekah. Saat perintah salat lima waktu turun seiring peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah dan para Sahabat salat menghadap kiblat ke arah Ka’bah yang berada di Masjidil Haram Mekah. Dakwah di Mekah ini ternyata tidak membawa hasil yang cukup menggembirakan. Rasulullah kemudian diperintahkan oleh Allah untuk hijrah ke kota Yatsrib. Disana, Rasulullah disambut dengan sukacita oleh penduduk setempat yang memang sudah menanti lama kedatangan seorang Rasul pembawa risalah. Rasul kemudian mengganti nama kota yang semula bernama Yatsrib menjadi Madinah Rasulullah atau dalam bahasa Indonesia berarti kota tempat tinggal Rasulullah.

Mengingat bahwa penduduk Madinah saat itu kebanyakan adalah pemeluk agama Yahudi dan Nasrani, dimana keduanya beribadah menghadap ke Baitul Muqaddas yang berada di Palestina, maka Rasulullah pun salat menghadap Baitul Muqaddas demi menghargai kepercayaan mereka. Hal ini berjalan selama beberapa waktu. Meski demikian, dalam hati kecil Rasulullah ada terbersit kerinduan untuk kembali salat menghadap Ka’bah di Masjidil Haram. Hal ini terlihat dari seringnya Rasulullah menengadah ke arah langit mengharapkan turunnya wahyu terkait hal tersebut. Kejadian ini terekam dalam surat Al-Baqarah:

Baca Juga :  Ada Titipan Salam, Wajibkah Disampaikan dan Dijawab?

قَدْ نَرى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّماءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضاها فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ وَحَيْثُ ما كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Ayat diatas menjadi salah satu momentum sejarah pemindahan arah kiblat, yang awalnya ke Ka’bah di Masjidil Haram, kemudian berpindah ke Baitul Muqaddas beberapa hari, kini berpindah kembali lagi menuju ke Ka’bah. Kejadian ini terjadi ketika Nabi sedang melaksanakan salat berjamaah bersama para sahabat di sebuah Masjid yang kemudian diberi nama masjid qiblatain (masjid yang memiliki dua kiblat).

Secara tinjauan hukum, kalimat “Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” menunjukkan kewajiban seseorang yang sedang melaksanakan salat, terutama salat fardlu, agar menghadap ke “arah” Ka’bah. Ulama kemudian memerinci perihal “arah” ini. Bagi seseorang yang salat di sekitaran Masjidil Haram dan memungkinkan untuk melihat Ka’bah, maka wajib baginya untuk menghadap ke “benda” Ka’bah tersebut, sedangkan bagi orang di luar area seperti digambarkan diatas, maka cukup mengahadap ke “arah” Ka’bahnya saja meskipun jika ditarik garis selurus-lurusnya antara orang tersebut dengan Ka’bah ternyata tidak bertemu, namun setidaknya arahnya sudah benar.

Baca Juga :  el-Bukhari Institute Menggagas Sekolah Hadis

Demikian semoga bermanfaat, wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here