Ayat Ahkam: Perintah Sa’i dalam Ibadah Haji (al-Baqarah [2]: 158)

0
249

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman, syahdan, suatu ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk membawa istri dan anaknya yakni Siti Hajar dan Nabi Ismail untuk pergi ke Mekah, sebuah daerah perbukitan padang pasir yang sangat tandus. Sesampainya di Mekah, Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan mereka berdua.

Awal pertama tinggal di Mekah, Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil yang menyusui masih bisa makan dan minum dari perbekalan yang mereka bawa. Lama kelamaan perbekalan mereka habis. Ibu dan anak itu kehausan dan kelaparan. Nabi Ismail yang ingin menyusu kemudian menangis. Dalam kebingungannya, Siti Hajar menengok kesana kemari. Kemudian mulai berjalan mencari-cari sumber air. Sumber air tak kunjung ditemukan, sementara tangis Nabi Ismail semakin keras.

Siti Hajar kemudian naik ke sebuah jabal (bukit batu) bernama Shofa untuk mencari-cari air, dari atas jabal Shofa, Siti Hajar melihat fatamorgana yang beliau sangka sebagai sumber air di arah jabal Marwah. Siti Hajar pun turun dari jabal Shofa dan berjalan menuju jabal Marwah. Sampai diatas jabal Marwah beliau tidak menemukan apapun, bahkan melihat lagi fatamorgana yang kembali beliau sangka sebagai sumber air di bukit Shofa. Beliau kemudian kembali ke bukit Shofa, demikian bolak-balik hingga tujuh kali.

Dalam kebingungan Siti Hajar tersebut, turunlah Malaikat Jibril menggerakkan kaki Nabi Ismail untuk menendang-nendang pasir yang ada di bawah kaki beliau, tak berapa lama kemudian muncullah sebuah sumber mata air yang sangat deras yang kemudian dinamai oleh Siti Hajar sebagai zamzam yang bahkan hingga kini dapat kita nikmati airnya. Siti Hajar kemudian menampung air terseTafbut dengan menyusun bebatuan di sekeliling Zamzam hingga membentuk sebuah sumur. Keduanya lantas bisa minum dengan puas melepaskan dahaga mereka. Terpenuhilah sudah kebutuhan minum mereka. Adapun untuk kebutuhan makan, mereka berdua mengandalkan para kafilah dagang yang melintas dan membutuhkan air yang mereka tukarkan dengan perbekalan makanan.

Baca Juga :  Penting! Muhammadiyah gelar Sidang Tarjih Keagamaan Nasional di Aceh

Sesudah pembangunan kembali Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dan para peziarah yang ingin beribadah di Masjidil Haram semakin banyak, peristiwa bolak baliknya Siti Hajar selama tujuh kali antara Shofa dan Marwah itu kemudian dinapaktilasi oleh para peziarah dan dinamakan sebagai sa’i yang dijadikan sebagai rangkaian ibadah haji. Sebagaimana kita ketahui, ibadah haji dilakukan sejak sebelum zaman kenabian Muhammad SAW. Namun ternyata seiring zaman, banyak sekali kaum musyrikin yang melakukan penyelewengan dalam pelaksanaan sa’i. Penyelewengan tersebut ialah mereka melakukan ibadah sa’i dalam kondisi telanjang.

Saat Nabi Muhammad hadir membawa risalah Islam yang diantaranya berisikan perintah untuk melaksanakan haji, para sahabat merasa ragu untuk melaksanakan sa’i mengingat bahwa praktiknya dipenuhi dengan pelanggaran. Untuk menjawab keraguan para sahabat tersebut, turunlah ayat perintah sa’i dalam ibadah haji, tentunya dengan perbaikan dalam segi pelaksanaannya:

إِنَّ الصَّفا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُناحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِما وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شاكِرٌ عَلِيم

inna as-shofaa wa al-marwata min sya’aairillah, fa man hajja al-bayta aw-i’tamara fa laa junaaha ‘alayhi an-yatthowwafa bihimaa. wa man tathowwa’a khoyron fa inna Allah syaakirun ‘aliim.

Sesungguhnya Shofa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Ayat diatas menjelaskan bahwa sa’i merupakan salah satu diantara tanda-tanda kekuasaan Allah yang menjadi tempat peribadatan dalam rangkaian haji dan umrah. Sehingga dengan demikian, pada umat Nabi Muhammad pun sa’i tetap dilaksanakan dengan perbaikan dalam pengerjaannya.

Baca Juga :  Empat Kategori Denda/Dam Haji

Kemudian kata “tidak ada dosanya” menunjukkan bahwa sa’i tetap diwajibkan dalam ibadah haji dan umrah. Meskipun demikian, dalam ibadah haji terdapat perbedaan antara fardlu haji dan wajib haji. Fardlu haji ialah amalan yang harus dilakukan dalam haji yang apabila ditinggalkan maka hajinya dianggap tidak sah meski harus tetap melanjutkan rangkaian peribadatan. Contoh fardlu haji ialah wukuf di tanah Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan wajib haji ialah amalan yang jika tidak dilaksanakan tidak membatalkan haji namun menimbulkan konsekuensi wajib membayar dam (denda).

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here