Ayat Ahkam: Penggalan Sejarah Kiblat dalam Islam (al-Baqarah [2]: 115)

0
83

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman, ada beberapa versi tentang mengapa ayat ke-115 dari surat Al-Baqarah ini diturunkan. Ada yang menyatakan bahwa ayat ini muncul sebelum pemindahan arah kiblat dari Ka’bah ke Masjidil Aqhsa dan kembali ke Ka’bah. Ada juga yang menyatakan bahwa ayat ini turun setelahnya.

Versi pertama yang menyatakan bahwa ayat ini turun sebelum peristiwa pemindahan kiblat, diperkuat dengan argumen dari yang dibacakan oleh Abdullah bin Amir bin Rabi’ah yang membacakan catatan milik ayahnya: “Kami pernah bersama Rasulullah Saw. di suatu malam yang ge­lap gulita dan kami turun istirahat di suatu tempat, lalu sese­orang mulai mengambil batu-batu untuk membuat masjid (tempat sujud) untuk salat. Ketika pagi harinya, ternyata jelas bagi kami bahwa kami telah salat bukan menghadap ke arah kiblat. Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tadi ma-lam salat bukan menghadap ke arah kiblat.” Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya (al-Baqarah [2]: 115),

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Versi kedua yang menyatakan bahwa ayat ini diturunkan sesudah peristiwa pemindahan kiblat berasal dari riwayat Sahabat Ibnu Abbas yang mengata­kan bahwa permulaan ayat Al-Qur’an yang di-mansukh adalah me­ngenai masalah kiblat. Hal ini terjadi ketika Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah yang penduduknya antara lain adalah orang-orang Yahudi. Maka Allah memerintahkan untuk menghadap ke arah Baitul Maqdis (dalam salatnya), hingga orang-orang Yahudi gembira meli­hat hal itu. Rasulullah Saw. menghadap ke arah Baitul Maqdis (dalam salatnya) selama belasan bulan, padahal Rasulullah Saw. sendiri lebih menyukai kiblat Nabi Ibrahim a.s. (yaitu Ka’bah). Karena itu, beliau Saw. selalu menengadahkan pandangannya ke langit. Hal ini tergambar dalam firman Allah:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit —sampai dengan firman-Nya— maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144-150)

Melihat hal tersebut orang-orang Yahudi merasa curiga, lalu mereka berkata, “Apakah gerangan yang memalingkan mereka dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang pada mulanya mereka telah berkiblat kepada­nya?” Lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

Katakanlah, “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat.” (Al-Baqa­rah: 142)

Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah. (Al-Baqarah: 115)

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, “Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah” (Al-Baqarah: 115). Yang dimaksud dengan wajah Allah ialah kiblat Allah, yakni ke mana pun kamu menghadap, di situlah kiblat Allah, baik ke arah timur ataupun ke arah barat.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan takwil firman-Nya, “Maka ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah” (Al­-Baqarah: 115), yakni di mana pun kalian berada, maka menghadaplah kalian ke arah kiblat yang kalian sukai, yaitu Ka’bah.

Dari sudut pandang hukum, Imam Syafi’i lebih berpandangan bahwa ayat ini berlaku hanya pada salat sunnah yang dilakukan dalam perjalanan ketika diatas kendaraan. Oleh karena itu Imam Syafi’i merinci hukum menghadap kiblat ketika salat adalah sebagai berikut:

  1. Bagi orang yang sedang melaksanakan salat fardlu, maka ia wajib menghadap arah kiblat dalam kondisi bagaimanapun kecuali dalam salat khouf
  2. Bagi orang yang sedang melaksanakan salat sunnah di rumah, dalam arti tidak sedang bepergian, maka ia wajib menghadap kiblat
  3. Bagi orang yang sedang melaksanakan salat sunnah di perjalanan, maka arah kiblatnya ialah arah kemana kendaraannya berjalan.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here