Ayat Ahkam: Orang-Orang yang Wajib dan Tidak Wajib Berpuasa, QS Al-Baqarah: 184

0
1027

BincangSyariah.Com – Pembaca yang dimuliakan oleh Allah SWT, ibadah puasa ramadhan merupakan ibadah yang sangat spesial. Dalam sebuah hadis qudsi diriwayatkan Allah bersabda bahwa “puasa itu untukku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Sabda itu menegaskan bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat intim yang hanya diketahui oleh pribadi orang yang berpuasa dan Allah. Alasan lain mengapa spesial juga karena meskipun umat terdahulu pun diriwayatkan disyariatkan berpuasa, namun kewajiban berpuasa selama satu bulan ramadhan penuh hanya disyariatkan pada umat Nabi Muhammad SAW.

Tentunya tidak semua umat muslim diwajibkan berpuasa ketika mendapati bulan ramadhan, ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi agar seseorang sah dalam menjalankan ibadah puasa, yakni: muslim, baligh dan berakal, serta tidak sedang dalam kondisi yang menghalangi keabsahan berpuasa seperti haidl, nifas, dan hilang akal atau gila. Pada kondisi tertentu juga seseorang boleh tidak berpuasa, yakni ketika sedang sakit atau bepergian. Orang tua renta, serta wanita hamil atau menyusui juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Persoalan siapa saja orang-orang yang wajib dan tidak wajib berpuasa, diantaranya bisa kita lihat penjelasannya dalam surah al-Baqarah [2]: 184,

أَيَّاماً مَعْدُوداتٍ فَمَنْ كانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Ayyāmam ma’dụdāt, fa mang kāna mingkum marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar, wa ‘alallażīna yuṭīqụnahụ fidyatun ṭa’āmu miskīn, fa man taṭawwa’a khairan fa huwa khairul lah, wa an taṣụmụ khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

(diwajibkan berpuasa yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang kuat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Berpuasa Sepanjang Tahun

Kalimat “hari yang tertentu” dalam ayat tersebut oleh para ulama dijelaskan maksudnya bahwa tidaklah seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa sepanjang tahun, namun hanya pada hari tertentu saja yakni selama di bulan ramadhan. Sedangkan jika seseorang ingin berpuasa di luar bulan ramadhan maka dipersilahkan untuk melaksanakan puasa sunah pada hari-hari tertentu pula, seperti di hari senin dan kamis sebagaimana kebiasaan Nabi SAW.

Puasa Bagi Orang Sakit

Berikutnya, ayat diatas menjelaskan bahwa bagi seseorang yang sakit, maka ia boleh tidak berpuasa. Sakit disini kemudian dibagi dalam dua kategori: yakni jika seseorang sakitnya teramat parah yang akan membahayakan jika ia tetap berpuasa, maka berbuka puasa hukumnya wajib bagi orang tersebut. Berikutnya, jika sakitnya seseorang tersebut tidak terlalu parah dan berpuasa dirasakannya berat dan susah meski tidak membahayakan, maka berbuka puasa hukumnya sekadar boleh, bukan wajib.

Puasa Bagi Orang dalam Perjalanan

Selanjutnya yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa ialah orang yang sedang bepergian. Tentunya tidak semua orang yang sedang bepergian yang mendapatkan kemurahan untuk tidak berpuasa. Ada beberapa syarat tertentu untuk mendapatkan keringanan tersebut. Diantara syaratnya ialah jarak tempuh perjalannya ialah jarak tempuh perjalanan seseorag yang boleh mengqashar salat dan perjalanan tersebut bukan dalam rangka perjalanan maksiat.

Tidak Puasa dengan Membayar Fidyah, Bolehkah?

Kelanjutan ayat kemudian menyebutkan bahwa seseorang yang dalam kondisi wajib puasa, dalam arti ia mampu dan kuat melaksanakannya serta tidak sakit, tidak bepergian dan lain sebagainya, namun ia menghendaki untuk tidak berpuasa, maka wajib baginya untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Teks kalimat ini mengindikasikan bahwa seseorang yang mampu berpuasa ia boleh saja tidak berpuasa asalkan mau membayar fidyah. Para ulama berpendapat bahwa teks kalimat ini telah dinaskh dengan ayat berikutnya, yakni Al-Baqarah [2]: 185,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

fa man syahida mingkumusy-syahra falyaṣum-h,

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”,

Dengan demikian, maka hukum boleh tidak berpuasa bagi orang yang mampu asalkan mau membayar fidyah tersebut tidak berlaku lagi. Hal ini biasa terjadi dalam proses pensyariatan hukum Islam, karena kita tahu bahwa islam diajarkan kepada umat Nabi Muhammad secara perlahan (at-Tadarruj) sehingga pendekatannya pun dilakukan secara bertahap. Awalnya syariat mengakomodir keberatan orang yang mampu berpuasa namun tidak mau berpuasa asalkan mau membayar fidyah, namun kemudian syariat secara tegas mewajibkan orang tersebut untuk berpuasa. Itulah mengapa dalam kelanjutan ayat QS Al-Baqarah: 184 terdapat kalimat: “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here