Ayat Ahkam: Kriteria Memilih Pemimpin dari Kisah Nabi Ibrahim (QS. Al-Baqarah: 124)

0
59

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman, Nabi Ibrahim merupakan Nabi yang dikenal pula sebagai bapak para nabi. Hal ini dikarenakan para Nabi yang diutus oleh Allah di muka bumi sesudah masa kenabian Ibrahim, semuanya menginduk nasabnya kepada beliau.

Sebagaimana kita ketahui, Nabi Ibrahim memiliki dua orang putera dari dua orang isteri, yakni Nabi Ishak dan Nabi Ismail. Nabi Ishak kemudian melahirkan Nabi Ya’qub yang juga dikenal dengan nama Israel, yang selanjutnya melahirkan keturunan yang disebut Bani Israel. Semua Nabi yang diutus olah Allah pasca Nabi Ya’qub, semuanya merupakan keturunan beliau hingga Nabi Isa.

Di sisi lain, Nabi Ismail tinggal di Mekah dan melahirkan keturunan yang beranak pinak. Namun tak satupun yang diangkat menjadi Nabi, hingga kemudian diutuslah Nabi pamungkas, Nabi Muhammad SAW yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ismail.

Syahdan, suatu ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk mengunjungi anak dan isterinya di Mekah. Beliau bersama sang putra, Nabi Ismail, bersama-sama membangun Ka’bah atau lebih tepatnya merenovasi Ka’bah, karena sejatinya Ka’bah telah dibangun sebagai tempat peribadatan sejak zaman Nabi Adam AS.

Selepas membangun Ka’bah, Allah kemudian memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi imam bagi seluruh manusia yang disusul oleh doa beliau agar hal tersebut berlaku juga bagi anak cucu beliau. Sebagaimana dikisahkan dalam QS Al-Baqarah: 124,

وَإِذِ ابْتَلى إِبْراهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِماتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قالَ إِنِّي جاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِماماً قالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قالَ لا يَنالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”

Ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran kata “janji”. Ada ulama yang mengartikannya sebagai kepemimpinan, kenabian, perintah Allah, dan ada juga yang mengartikannya sebagai selamat dari siksa di akhirat. Pendapat pertama yang menyatakan bahwa “janji” yang dimaksud disini sebagai “kepemimpinan” dianggap sebagai penafsiran yang paling mendekati kebenaran oleh para ulama.

Baca Juga :  Inilah Hakikat Maulid Menurut Para Ulama

Banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwasanya seorang pemimpin harus memiliki sifat adil, dan mengamalkan syariat dengan baik. Karena apabila seorang pemimpin tidak memiliki sifat tersebut, maka ia dianggap sebagai pemimpin yang zalim. Lebih lanjut, dengan menggunakan prinsip penafsiran bahwa pertimbangan yang dianggap ialah keumuman makna lafadz, bukan melihat pada sebab (al-mu’tabar ‘umum al-lafzhi laa khushush as-sabab), maka para ulama juga merumuskan bahwa syarat menjadi seorang pemimpin ialah selamat dari segala macam sifat zalim yang terkait dengan persoalan agama.

Meski demikian, Imam Ibn Jarir berpendapat bahwa ayat ini merupakan sebuah pengagungan dari Allah pada Nabi Ibrahim dimana beliau dikarunia oleh Allah sebagai seorang pemimpin, dan ketika Nabi Ibrahim meminta agar karunia tersebuit diberikan pula kepada sanak keluarganya, Allah mengabulkan permintaan tersebut namun tidak berlaku pada orang-orang yang zalim dari keturunan beliau.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu alam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here