Ayat Ahkam: Keutamaan Beribadah di Maqam Ibrahim (QS Al-Baqarah [2]: 125)

0
76

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman, di Masjidil Haram Mekah, tempat dimana Ka’bah berada, terdapat sebuah tempat yang diyakini merupakan tempat berdiri Nabi Ibrahim saat menyelesaikan pembangunan Ka’bah. Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Sahabat Umar bin Khatab pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata Umar, “bagaimana kalau kita jadikan maqam Ibrahim ini sebagai tempat shalat ya Rasulullah?” Tak lama kemudian Allah menyambut permohonan Umar tersebut. Maka Allah turunkan ayat berikut ini:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقامِ إِبْراهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنا إِلى إِبْراهِيمَ وَإِسْماعِيلَ أَنْ طَهِّرا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ – 125

Wa idz ja’alnaa al-bayta matsaabatan li-n-naasi wa amnan wa-ttakhadzuu min maqaami Ibraahiima musholla wa ‘ahidnaa ilaa ibraahiima wa ismaa’iila an thohhiraa baytii li-t-thoifiina wa al-‘aakifiina wa ar-rukka’i as-sujuud

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.”

Secara bahasa, “maqam” berarti “tempat berdiri”. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud sebagai maqam Ibrahim dalam ayat ini ialah sebuah tempat yang dikenal oleh manusia sebagai tempat berdiri Nabi Ibrahim. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa “maqam Ibrahim” ialah keseluruhan ibadah haji, dan ada pula yang berpendapat bahwa “maqam Ibrahim” ialah keseluruhan wilayah haram di Mekah.

Dari ketiga pendapat penafsiran diatas, yang paling mendekati kebenaran ialah pendapat yang pertama karena didukung dengan hadis asbabun nuzul sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini. Dimana dari pendapat tersebut kemudian melahirkan hukum keutamaan salat di maqam Ibrahim, tepatnya dibelakangnya, dan salat yang dilakukan ialah salat tawaf. Kita tahu bahwa salat tawaf hukumnya adalah sunah, maka perintah “jadikanlah” pada ayat diatas menunjukkan kesunnahan.

Baca Juga :  Umat Nabi Terpecah Menjadi 73 Golongan, Siapakah yang Selamat?

Jika kita mengacu pada pendapat kedua yang mengartikannya sebagai keseluruhan ibadah haji, maka kita memahami perintah “jadikanlah” sebagai sebuah kewajiban, artrinya wajib bagi kita untuk menyempurnakan ibadah haji kita.

Pada ayat ini juga terdapat perintah untuk mensucikan rumah Allah bagi orang yang tawaf, beri’tikaf, salat, serta ibadah lainnya. Rumah Allah disini bisa kita maknai secara sempit yakni Ka’bah dan Masjidil Haram yang menjadi tempat tawaf bagi kaum muslimin. Bisa juga kita artikan secara luas yakni semua masjid yang ada di muka bumi ini mesti kita sucikan.

Arti mensucikan itu sendiri bisa kita pahami secara lahir dan secara batin. Secara lahir kita mensucikan masjid dengan cara membersihkannya dari kotoran dan najis serta memberikan wewangian dan lain sebagainya yang menunjang kenyamanan orang-orang yang beribadah di Masjid. Secara batin, kita bisa mengartikan mensucikan masjid sebagai upaya membersihkan masjid dari berhala-berhala, dari fitnah dan marabahaya, dari tindak kekufuran serta ucapan yang buruk serta adu domba. Menjaga kesucian masjid juga dilakukan dengan cara melarang orang yang sedang junub, haid serta nifas dari memasuki masjid karena orang-orang tersebut secara syariat dihukumi sedang dalam kondisi tidak suci akibat memiliki hadats besar. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here