Ayat Ahkam: Keharaman Sihir (QS. Al-Baqarah: 102)

0
109

BincangSyariah.Com – Pembaca yang budiman, syahdan di zaman kehidupan Nabi Muhammad SAW, ketika beliau menggolongkan Nabi Sulaiman AS sebagai utusan Allah, kaum Yahudi merasa keberatan karena mereka terlanjur salah persepsi menganggap Nabi Sulaiman adalah seorang tukang sihir.

Jika kita tarik sejarahnya ke belakang ke zaman kehidupan Nabi Sulaiman, Sahabat Ibn Abbas pernah meriwayatkan bahwa diantara pekerjaan setan ialah mencuri dengar putusan takdir di langit yang akan berlaku di bumi. Jika seorang setan mendengar hal tersebut yang awalnya berupa kebenaran, kemudian ia mencampuradukkannya dengan 70 lipat kebohongan, kemudian menuliskannya pada sebuah buku sihir agar dibaca manusia sehingga hati manusia teracuni.

Nabi Sulaiman, seorang Nabi yang dianugerahi oleh Allah bias mendengarkan suara binatang dan Jin, mengetahui akan hal tersebut. Beliau kemudian mengambil buku catatan setan tersebut dan menaruhnya dibawah singgasana beliau. Saat Nabi Sulaiman wafat, setan berkata kepada manusia bahwa di bawah singgasana Nabi Sulaiman terdapat sebuah harta yang saat berharga. Pada saat manusia melihatnya, mereka mendapati sebuah buku yang mereka anggap sebagai buku sihir. Dari situlah kaum Yahudi menganggap Nabi Sulaiman sebagai seorang tukang sihir.

Untuk membersihkan Nabi Sulaiman dari berbagai persangkaan tersebut, maka turunlah surah al-Baqarah [2]: 102,

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Baca Juga :  BI Kenalkan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS), Sebagai Instrumen Wakaf Kontemporer yang Aman

“Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; se­dangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu kafir.” Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mere­ka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempe­lajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak mem­beri manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat; dan amat jahatlah per­buatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka me­ngetahui.”

Secara definitif, dalam kitab Fathul Qadir sebagaimana mengutip dari Tafsir Aayaat al-Ahkaam (h. 23) karya As-Sais, disebutkan bahwa sihir ialah tipu daya yang dilakukan oleh tukang sihir kepada korbannya sehingga ia masuk dalam sebuah keburukan seperti seseorang yang melihat air padahal aslinya adalah fatamorgana. Contoh lainnya seperti seseorang yang naik perahu atau kendaraan kemudian melihat gunung dan menganggap gunung tersebut berjalan padahal sebetulnya ia dan kendaraannya yang berjalan.

Kemampuan sihir ini muncul dari kesepakatan yang terjadi antara setan dengan tukang sihir. Ketentuannya adalah setan sanggup menolong tukang sihir dan tukang sihir akan sanggup melakukan berbagai keharaman atau kesyirikan. Ulama menjelaskan bahwa sihir ini bisa dalam bentuk ikatan-ikatan (sebagaimana tertuang dalam QS Al-Lahab), jampi-jampi, petkataan dalam bentuk tulisan atau ucapan, dan lain sebagainya yang kemudian membuat korban menjadi sakit, atau bahkan meninggal dunia. Bias juga menjadikan seorang suami tidak lagi memiliki kemampuan untuk menggauli istrinya dan bahkan membuat keduanya saling benci hingga bercerai.

Baca Juga :  Hukum Melanggar Lalu Lintas dalam Islam

Kembali kepada kisah Nabi Sulaiman diatas, sesudah Nabi Sulaiman wafat dan manusia menemukan kitab sihir dibawah singgasana beliau, Allah kemudian memberikan cobaan pada manusia berupa kehadiran dua malaikat yaitu Harut dan Marut di negeri Babil. Kedua malaikat ini diberi tugas oleh Allah untuk menjadi guru sihir dalam rangka memperdaya manusia. Meski demikian, keduanya tidak serta merta memberikan pelajaran ilmu sihir tersebut sebelum mereka memperingatkan bahwa mereka berdua hanyalah cobaan bagi bangsa manusia. Keduanya pun mengingatkan manusia agar jangan menjadi kafir. Dalam kenyataannya banyak sekali yang justru tertarik dengan pengajaran sihir tersebut. Mereka diantaranya mempelajari sihir untuk memisahkan suami dengan istrinya.

Dalam kelanjutan ayat, Allah juga mengingatkan bahwa secara hakikat, apapun yang terjadi di dunia ini, bahkan sampai pada persoalan keberhasilan pengaruh ilmu sihir, semuanya berasal dari kekuatan Allah, bukan dari kekuatan sihir, tukang sihir, atau Harut dan Marut tersebut. Oleh karena itu Allah memperingatkan agar jangan tertipu dengan ilmu sihir yang nyatanya berasal dari setan yang terkutuk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here