Ayat Ahkam: Hukum Asal Segala Sesuatu yang Diciptakan adalah Mubah (al-Baqarah: 29)

0
86

BincangSyariah.Com – Allah dalam berfirman dalam surah al-Baqarah [2]: 29,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ ما فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوى إِلَى السَّماءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَماواتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat ini menjelaskan bahwa hukum asal segala sesuatu yang diciptakan adalah mubah (diperbolehkan) sampai hadir sebuah dalil yang menjelaskan ketidakbolehannya. Sebagai contoh: semisal kita menemukan buah-buahan di hutan yang belum pernah kita temui apalagi kita konsumsi, maka ketika kita mencicipinya dan ternyata tidak ditemukan bahaya didalamnya, maka menggunakan hukum asal, mengkonsumsi buah tersebut diperbolehkan.

Hukum mubah ini berlaku bukan hanya pada binatang saja, tetapi pada segala sesuatu yang bisa dimanfaatkan tanpa menimbulkan bahaya.

Dari ayat ini pula, Imam Syafi’i, salah satu dari empat Imam madzhab besar pemikiran hukum Islam merumuskan sebuah kaidah hukum yang berbunyi: “hukum asal segala sesuatu ialah diharamkan hingga ditemukan dalil yang melarangnya”.

Dari kaidah diatas kemudian melahirkan berbagai macam konsekuensi hukum yakni ketika kita menemukan sesuatu apapun yang tidak kita ketahui hukumnya maka menggunakan hukum asal, kita bisa menyatakan bahwa sesuatu tersebut hukumnya adalah boleh, selama terbukti bahwa sesuatu tersebut memang bermanfaat dan tidak menimbulkan bahaya pada diri kita.

Meskipun demikian, ada sebuah pengecualian dalam kaidah ini, yakni pada persoalan ibadah dan persoalan hubungan dengan lawan jenis. Dalam persoalan ibadah, hukum asal yang digunakan ialah segala jenis ibadah itu dilarang kecuali ibadah-ibadah yang sudah disyariatkan. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa ketika kita melakukan sebuah ibadah tanpa mengetahui pensyariatannya, maka hal tersebut dilarang dan bisa masuk kategori bid’ah, yakni melakukan kebaruan dalam ibadah. Sebagai contoh, syariat Islam mengajarkan bahwa ibadah sujud itu ada tiga macam, yakni: sujud dalam shalat, sujud syukur dan sujud tilawah. Ketika seseorang tanpa niat tertentu kemudian tiba-tiba dia sujud, maka hukumnya adalah haram. Seorang muslim hanya boleh sujud ketika dia tahu judul sujudnya itu apa, apakah itu sujud dalam shalat, sujud syukur, atau sujud tilawah.

Baca Juga :  Agar Hal Mubah Berpahala, Ini Cara Doanya

Berikutnya adalah hubungan antar lawan jenis, hukum asalnya ialah haram. Artinya, antara lelaki dan perempuan haram hukumnya melakukan hubungan seksual sampai dia benar-benar yakin bahwa pasangannya tersebut adalah halal bagi dirinya lewat jalur pernikahan. Tanpa jalur pernikahan yang sah, maka secara otomatis hubungan seksual antara lelaki dengan perempuan hukum asalnya ialah haram.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu alam bi shawab.

Sumber:

نيل المرام من تفسير آيات الأحكام (ص: 11)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here