Ayat Ahkam: Dalil Metode Penetapan Awal Bulan Puasa (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

0
34

BincangSyariah.Com – Pembaca yang dirahmati oleh Allah SWT, bulan ramadhan merupakan sebuah bulan yang sangat spesial bagi umat islam karena di dalam bulan tersebut diwajibkan berpuasa, dan ibadah yang dilakukan didalamnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Sebagaimana kita tahu, di dalam bulan ramadhan, kita disunnahkan untuk melaksanakan salat tarawih, memperbanyak witir, tadarus Alquran, dan yang paling utama ialah mengaharapkan hadirnya malam lailatul qadar dengan memperbanyak ibadah.

Bukan hanya itu saja, bulan ramadhan juga dipilih oleh Allah SWT sebagai bulan dimana Alquran pertama kali diturunkan. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut,

شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كانَ مَرِيضاً أَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى ما هَداكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Syahru ramaḍānallażī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān, fa man syahida mingkumusy-syahra falyaṣum-h, wa mang kāna marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar, yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la’allakum tasykurụn

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Bulan Ramadan adalah bulan dimana Allah mulai menurunkan Alquran pada malam Lailatul Qadar, dimana Alquran tersebut berfungsi sebagai sumber hidayah bagi seluruh manusia menuju kebenaran. Di dalamnya terdapat bukti petunjuk (huda) yang paling jelas (mubayyin) yang mengantarkan kepada hidayah Allah dan pembeda (Alfurqan) antara kebenaran dengan kebatilan. Inilah alasan mengapa Alquran biasa juga disebut dengan nama Al-Huda dan Al-Furqan.

Berikutnya, kelanjutan ayat menjelaskan hukum wajib berpuasa bagi seseorang yang hadir di negeri tempat tinggalnya pada saat awal masuk bulan ramadhan. Dengan demikian, ulama merumuskan bahwasanya seseorang yang menemui awal bulan ramadhan dalam kondisi berada di rumah (tidak sedang bepergian), maka ia wajib berpuasa meskipun kemudian ia bepergian. Dengan penggalan ayat ini, ulama fiqih khususnya madzhab Syafiiyyah merumuskan bahwa dispensasi boleh tidak berpuasa bagi orang yang sedang bepergian berlaku bagi orang yang telah berada dalam status menjadi musafir sebelum terbitnya fajar sidiq (pertanda waktu shubuh; awal waktu puasa). Sebagai contoh: jika Ahmad bepergian mulai jam 12 malam (sebelum shubuh), dan sampai shubuh ia masih tetap berstatus sebagai musafir, maka ia boleh tidak berpuasa, sebaliknya, jika ia bepergian jam 7 pagi (sesudah waktu shubuh) maka ia tidak diperkenankan berbuka. Berbeda dengan pendapat Jumhur Ulama (ulama mayoritas lintas madzhab) yang menyebutkan bahwa kapanpun seseorang mulai bepergian, maka ia diperbolehkan berbuka puasa.

Baca Juga :  Empat Hal yang Menjadi Penerang dalam Kubur

Berikutnya, kalimat “hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” diartikan oleh para ulama sebagai kesunnahan melafalkan kalimat takbir pada akhir bulan ramadhan, atau di hari raya idul fitri.

Pada pembahasan ayat ini, yang menarik untuk dikaji ialah bagaimanakah awal bulan puasa ditentukan sehingga seseorang bisa disebut sebagai hadir (syahida) terhadap bulan ramadhan. Dalam hal ini, ulama madzhab Syafiiyyah merumuskan bahwa ada dua macam metode dalam penentuan awal bulan ramadhan, yaitu dengan metode hisab (perhitungan hakiki) dan rukyah hilal (melihat pertanda awal bulan di cakrawala). Metode hisab merupakan sebuah metode yang menggunakan perhitungan matematis sehingga bersifat hakiki. Sementara metode rukyah memiliki dua kriteria, yakni pertama melihat hilal di tanggal 30 Sya’ban dan jika tidak terlihat, atau cakrawala tertutupi mendung, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari dan baru hari berikutnya merupakan awal ramadhan. Hal ini selaras dengan hadis Nabi,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari.”

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here