Asmaul Husna Sebagai Kunci Berkomunikasi Hamba dengan Allah

1
2369

BincangSyariah.Com – El-Bukhari Institute bekerjasama dengan Ali Mustafa Yaqub Institute menyelenggarakan Kajian Umum bertemakan Penerapan Asmaul Husna dalam Kehidupan bersama Ustadzah Prof. Dr. Wan Maseri Wan Moch MA, pimpinan International University of Asmaul Husna, Malaysia. Kegiatan yang dihelat pagi ini, Minggu (6/1), diselenggarakan di aula lantai 3 Darus-sunnah International Institute for Hadith Sciences, Cirendeu.

Direktur Ma’had al-Dauly, Ustadz Dr. H. M. Shofin Sugito, dalam sambutannya sangat menyambut hangat kegiatan satu ini karena dapat menjadi wadah  berbagi pengalaman dalam penanjakan spiritual khususnya zikir dan pemaknaan Asmaul Husna. Ia juga mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi kajian yang berkelanjutan.

“Semoga kedatangan Ustadzah ini bukan lah kedatangan yang pertama dan yang terakhir. Harapan saya kegiatan ini terus berlanjut dan dapat dijadwalkan pada waktu-waktu berikutnya khususnya bagi mayoritas santri karena ilmu tanpa dibarengi zikir, yang merupakan implementasi keimanan, maka tidaklah pantas bagi kita mendapatkan derajat yang Allah janjikan, ” jelas Ustadz Shofin.

Beberapa santri Darus-sunnah, alumni, dan tamu umum tampak khidmat dalam mendengarkan pemaparan yang disampaikan oleh Ustadzah Wan Maseri.
Beliau menjelaskan bahwa zikir merupakan salah satu sarana untuk selalu mengingat Allah. Jika kita lupa kepada Allah, maka Allah akan kirimkan hijab atau pun masalah agar kita senantiasa memanggil-Nya.

Masalah merupakan proses mengenal Allah. Untuk mengenal Allah, manusia harus bisa memposisikan dirinya dan Tuhan-Nya. Layaknya seorang hamba, manusia harus senantiasa merendah karena ia dihadapan penciptanya bukanlah apa-apa. Jika Allah Maha Tinggi maka hamba-Nya sangatlah rendah, jika Allah Maha Kaya maka manusia adalah hamba yang sangat fakir. Maka sudah seyogyanya seorang makhluk tidak berlaku angkuh.

“Jika kita ingin meminta diberi ilmu, sebutlah Allahumma Ya ‘Aliim. Kita puji dulu Allah dengan sifat-Nya, selain itu kita juga harus mengesakan-Nya bahwa tak ada seorang makhluk pun yang memiliki kuasa terhadap ilmu. Ilmu itu hanya milik Allah semata. Kita tidak boleh merasa memiliki ilmu karena sejatinya ia adalah titipan dari-Nya yang sewaktu-waktu bisa Ia ambil kembali. Boleh jadi karena suatu kejadian kita akan lupa dengan apa yang sudah kita tahu. Tidak boleh mengambil sifat Allah dan merasa memilikinya karena kerapkali itu membuat orang menjadi sombong.” terang Ustadzah Wan Maseri.

Baca Juga :  el-Bukhari Institute Kembali Buka Pendaftaran Sekolah Hadis Angkatan Ketiga

Selanjutnya beliau menambahkan bahwa segala aktivitas yang dilakukan adalah karena tuntutan dari Allah Swt. Maka sudah seharusnya Allah Swt dihadirkan dalam setiap kegiatan, karena segala hal yang berada di sekeliling manusia sangat lekat dan erat dengan sifat-sifat-Nya. wallahu a’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here