Asghar Ali Engineer: Penyeimbang Agama dan Filsafat

0
36

BincangSyariah.Com – Salah satu pemikiran tokoh pembaharu Islam yang paling banyak dipelajari di seluruh dunia adalah Asghar Ali Engineer. Keunggulan Ashgar ketimbang tokoh pembaharu lainnya terletak pada kepiawaiannya dalam menyeimbangkan agama dan filsafat, dua bidang yang ia tekuni.

Asghar lahir di Bohra, Salumbar Rajashtan, India, pada 10 Maret 1939. Ia dilahirkan dari lingkungan keluarga ortodoks yang taat beragama atau disebut sebagai keluarga amil. Ia adalah anak dari pasangan Yaikh Qunan Husain dan Maryam.

Sang ayah, Sheikh Husain merupakan seorang alim yang mengabdi kepada pemimpin keagamaan Bohra. Husain dikenal sebagai orang yang punya sikap liberal, terbuka dan sabar. Sikap open minded tersebut menjadikannya kerap terlibat diskusi dan ikut andil dalam berbagai pengalaman keagamaan dengan pemeluk agama lain, misalnya Hindu Brahma.

Asghar tumbuh dalam lingkungan sosial keagamaan yang inklusif dan religious. Ia tekun belajar ilmu-ilmu keislaman seperti teologi, tafsir, hadis, fiqh, dan bahasa arab.

Agus Nuryatno menuliskan dalam buku Islam, Teologi Pembebasan dan Kesetaraan Gender (2001) bahwa Asghar sangat cerdas menguasai banyak bahasa yakni Inggris, Arab, India, Urdu, Persia, Gujarati, Hindy dan Marathi. Asghar kian serius mendalami agama setelah menyaksikan rentetan ekaploitasi atas nama agama dalam komunitasnya di Bohro.

Fenomena tersebut terjadi setelah Husain, sang ayah, berperan sebagai ulama Bohro. Asghar menyesali sistem eksploratif yang dihadapinya namun ia tak punya alternatif lain untuk memaknai kehidupan di dunia. Ia mesti memilih antara terlibat dalam sistem yang menghancurkan atau tetap menghadapi banyak tuntutan berat.

Saat membaca ulang al-Qur’an, Asghar Ali Engineer yakin bahwa tujuan mengapa agama Islam ada dan hadir di tengah kehidupan mansuia yang sebenarnya adalah untuk memperkaya kehidupan batin serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Baca Juga :  Ibnu Sina dan Problem Kemunduran Nalar

Akar eksploitasi yang disaksikan Asghar dengan sangat dekat di masa kecilnya memengaruhi pertumbuhannya sebagai manusia hingga masa dewasa. Hal tersebut membuatnya sangat serius dalam memikirkan kembali tentang fundamentalisme beragama.

Selain ilmu-ilmu dalam agama Islam, Asghar Ali Engineer juga gemar membaca literatur tentang rasionalisme dalam bahasa Urdu, Arab dan Inggris. Ia pun membaca tulisan Niyaaz Fatehpuri, seorang penulis yang mengarang dalam bahasa Urdu. Ia juga rutin membaca tulisan tentang konflik ortodoksi agama.

Selain itu, ia juga belajar tentang karya-karya Bertrand Russel, filsuf rasionalis asal Inggris, juga menekuni Das Capital karya Karl Marx. Meski begitu, ia tidak pernah mengabaikan studi al-Qur’an dan senantiasa mempelajari Tafsir karya para sarjana Muslim.

Ia membaca tafsir Sir Syed dan Maulana Azad dan memberikan perhatian yang ekstra pada Rasa’il Ikhwanus Safa’ yang diyakini telah disusun oleh Imam-Imam Syi’ah Ismailiyah pada saat mereka tidak menampakkan diri pada akhir abad ke-8 Hijriyah.

Keterpaduan literatur bacaan yang sangat kaya tersebutlah yang berhasil membentuk pandangan baru dalam diri Asghar tentang hidup dan maknanya. Ia sampai pada kesimpulan bahwa akal sangat penting untuk pengembangan intelektual manusia. Tapi, tidak cukup itu saja, wahyu juga berperan penting sebab merupakan sumber petunjuk. (Baca: Maslahah Mursalah sebagai Sumber Hukum Islam)

Dalam pemikiran Asghar, Akal memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan pengaruhnya tidak pernah dapat diremehkan. Tapi ia memiliki batasan yang jelas dan tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan akhir yang berkaitan dengan makna dan tujuan akhir hidup.

Dalam hal ini, hanya wahyu satu-satunya yang mampu memberikan jawaban. Baginya, wahyu tidak bisa dipertentangkan oleh akal. Wahyu mampu melebihi akal tapi tidak berarti bertentangan dengannya. Keduanya berada dalam posisi yang saling melengkapi satu sama lain.[]

Baca Juga :  Mi'yar al-'Ilm Karya Imam al-Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here