Asal Usul Ungkapan Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah

0
1214

BincangSyariah.Com – Dari mana asal usul ungkapan Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah, sebuah ungkapan berbahasa Arab yang biasa ditunjukkan kepada pasangan sejoli yang baru saja menikah. Pernah juga (atau masih sampai sekarang) disingkat menjadi samawa, sehingga sering terdengar saat mengucapkan selamat kepada pasangan baru, “semoga samawa yaa [disertai emoticon senyum atau tangan]. Tapi mungkin diantara kita masih bertanya, dari mana sebenarnya asal usul ungkap tersebut?

Usut punya usut, ungkapan sakinah, mawaddah wa Rahmah ini memang tidak hanya ditemukan di Indonesia, seperti misalnya ungkapan Halal bi Halal (dalam KBBI disambung seluruhnya menjadi: Halalbihalal). Dalam penutur bahasa Arab pun, ungkapan itu juga digunakan sebagai doa kepada pasangan yang menikah. Ungkapan tersebut basisnya sebenarnya adalah pemahaman ulama terhadap surah ar-Rum [30] ayat 21

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menciptakan pasangan dari jenis kalian sendiri, sehingga kalian menjadi cenderung tenang kepada pasangan kalian, serta Allah jadikan cinta dan kasih sayang diantara kalian, sesungguhnya hal tersebut adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.

Ayat diatas kemudian menjadi oleh para ulama dijadikan landasan ungkapan bahwa pernikahan itu harapannya agar terjadi tiga hal, yaitu sakinah, mawaddah, wa Rahmah. Menurut Imam Abu al-Hasan al-Mawardi, ada setidaknya empat pendapat terkait dengan makna mawaddah wa rahmah. Peerama, mawaddah berarti cinta (al-mahabbah) dan rahmah adalah kasing sayang (as-syafaqah). Kedua, mawaddah berarti hubungan biologis dan rahmah maknanya adalah keturunan (al-walad) hasil hubungan biologis. Ketiga, mawaddah berarti mencintai yang tua, dan rahmah berarti menyayangi yang muda. Dan keempat, mawaddah wa rahmah keduanya sama-sama memiliki arti saling berkasih diantara kedua belah pihak pasangan.

Baca Juga :  Kondisi Orang Beriman dan Tidak Beriman saat Sakaratul Maut

Dari empat pendapat tersebut, kita dapat menarik garis merah bahwa inti dari yang diharapkan pada suatu pernikahan, adalah relasi suami dan istri yang setara, saling mengasihi dan saling mencintai. Ini seperti tergambar dalam ungkapan Ibn ‘Asyur misalnya dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir ketika menafsirkan,

وأن جعل بين كل زوجين مودة ومحبة فالزوجان يكونان من قبل التزاوج متجاهلين فيصبحان بعد التزاوج متحابين، وأن جعل بينهما رحمة فهما قبل التزاوج لا عاطفة بينهما فيصبحان بعده متراحمين كرحمة الأبوة والأمّوة

Allah menjadikan antara pasangan itu cinta dan kasih sayang. Suami dan istri, sebelum mereka menikah, tidak saling mengenal (pribadi satu sama lain) lalu menjadi saling mencintai lewat pernikahan. Kemudian Allah menjadikan adanya kasih dan rahmah diantaranya keduanya, padahal sebelumnya tidak ada keterikatan emosional seperti itu. Setelah menikah, keduanya saling mengasihi layaknya kasih seorang ayah dan seorang ibu. (Ibn ‘Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir, j. 21 h. 71).

Demikianlah gambaran apa sesungguhnya asal usul dari ungkapan sakinah, mawaddah, wa Rahmah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here