As’ad bin Zurarah: Orang Yatsrib Pertama yang Memeluk Islam

0
1833

BincangSyariah.Com – Pernahkah kalian bertanya bagaimana kisah awal orang-orang Yatsrib bisa masuk Islam sehingga akhirnya penduduknya berbondong-bondong memeluk Islam? Lalu Rasulullah Saw memutuskan pindah ke Yatsrib dan menjadikan kota ini sebagai rumahnya sendiri agar Islam semakin berkembang pesat. Dan, dari sanalah awal mula Islam semakin maju. Jika kita runut dari hal ini, maka bisa dikatakan bahwa orang paling berjasa dalam perkembangan Islam adalah sahabat bernama As’ad bin Zurarah. Tulisan ini akan bercerita tentang sosok sahabat Nabi ini.

Kisah Awal Masuk Islam

Pada masa pra-Islam praktik haji telah dilakukan orang-orang dari seluruh jazirah Arab. Setiap tahun pada bulan Dzulhijjah mereka berbondong-bondong menuju Masjidil Haram untuk melakukan rangkaian haji termasuk thawaf mengelilingi kakbah. Namun, tidak seperti pada masa Islam, di sekeliling bahkan di dalam kakbah terpajang banyak sekali berhala-berhala.

Nah, pada tahun ke-13 Kenabian atau setahun sebelum hijrah, As’ad bin Zurarah pergi dari Yatsrib menuju Mekah untuk melakukan haji seperti orang-orang Arab lainnya yang juga melaksanakan haji. Belum ada bayangan sedikitpun bahwa ia akan bertemu dengan manusia agung bernama Muhammad Saw. Ketika tiba di Mekah, Ia menuju rumah kenalannya bernama ‘Utbah bin Rabi’ah untuk beristirahat.

Di tengah percakapannya, As’ad bin Zurarah curhat kepada ‘Utbah tentang berbagai problemnya di Yatsrib termasuk konflik berkepanjangan antar dua kabilah: Aus dan Khazraj. ‘Utbah pun merespon curhatnya As’ad dengan berkata, “Kami pun sedang mendapatkan masalah baru yang telah menyita waktu kami sehingga tidak dapat berkomentar apa pun tentang masalah kalian.”

As’ad lalu bertanya, “Memangnya apa masalah kalian, bukankah kalian hidup dengan aman di tempat yang aman?”

‘Utbah menjawab, “Seorang pria telah muncul di tengah-tengah kami mengaku sebagai utusan Tuhan, ia menyebut kami tidak memakai akal, melecehkan para tuhan berhala kami, masyarakat kami menjadi terpecah belah dan pemuda kami menjadi rusak.”

Baca Juga :  Pengajian Gus Baha: Memahami Kelupaan Nabi Saw. dan Pentingnya Belajar Kepada Ulama

As’ad heran lalu bertanya lagi, “Dari kabilah mana ia berasal?”

‘Utbah menjelaskan, “Dia putra Abdullah bin Abdul Muttalib dan kebetulan dari keluarga terpandang. Dia sekarang datang ke Masjidil Haram, jika engkau kesana, jangan dengarkan ucapannya dan jangan bertutur satu kata pun dengannya, karena ia penyihir handal.”

“Aku harus kesana karena aku sudah berihram dan akan melaksanakan thawaf di Ka’bab,” kata As’ad. ‘Utbah pun menimpali, “Kalau begitu, letakkan sedikit kapas di telingamu agar ucapannya tidak terdengar olehmu.”

Kemudian As’ad bin Zurarah pun pergi dan masuk ke Masjidil Haram dengan meyumpal kedua telinganya dengan kapas dan memulai thawaf. Ia melihat Muhammad Saw di samping ka’bah dikelilingi sekelompok orang yang sedang mendengarkan ucapannya dengan seksama. Ia melirik ke kerumunan itu dan cepat-cepat berlalu. Pada putaran yang kedua, As’ad bergumam, “Tidak ada orang yang lebih bodoh dari aku, bagaimanan mungkin sebuah cerita penting sedang diperbincangkan di Mekah, sementara aku tidak tahu apa-apa tentangnya.”

Lalu As’ad membuang kapas dari telinganya dan ikut duduk dalam kerumuman di sekitar Muhammad Saw untuk mendengar ucapannya. Ia tidak menemukan apa pun yang disebut sihir oleh Utbah. Apa yang didengarnya adalah cahaya petunjuk yang menerangi hatinya dan dapat diterima akalnya. As’ad pun mendekati Muhammad Saw dan bertanya, “Kemana engkau akan mengajak kami?” Nabi Muhammad Saw dengan tenang berkata, “Aku mengajak kalian kepada ajaran tauhid dan aku adalah utusan Allah Swt.” Nabi Muhammad Saw lalu membacakan QS al-An’am [06]: ayat 151 – 154.

As’ad bin Zurarah terpesona lantunan ayat-ayat al-Quran. Hatinya terguncang hebat. Kemudian Ia pun mengucapkan syahadat, “Lailaaha illallah Muhammadur Rasulullah.” Cerita ini dapat ditemukan dalam kitab alThabaqat al-Kubra karya Muhammad bin Sa’ad al-Baghdadi atau populer dengan nama Ibnu Sa’ad.

Baca Juga :  Fiddhah An-Nabawiyah; Pelayan Fatimah Putri Rasulullah SAW

Latar belakang Keluarga

Dalam kita Siyar A’lam al-Nubala dijelaskan bahwa As’ad bin Zurarah adalah putra pasangan Zurarah bin ‘Udas bin ‘Ubaid dan Su’ad al-Furai’ah binti Rafi’ bin Mu’awiyah. Ibunya adalah bibi dari Sa’ad bin Mu’adz, sahabat yang gugur di perang Khandaq. Ayah As’ad adalah tokoh yang disegani dari Bani al-Najjar, yang kemudian pengaruhnya turun kepada As’ad, atau bahkan lebih besar pengaruh As’ad dibanding ayahnya.

As’ad menikah dengan perempuan bernama ‘Umairah binti Sahal bin Tsa’labah. Istrinya sama-sama dari kalangan Bani al-Najjar. Dari pernikahan ini, As’ad memiliki tiga orang anak yaitu Habibah binti As’ad, Kabsyah, al-Furai’ah, semuanya masuk Islam bersama As’ad. Menurut keterangan al-Thabaqat al-Kubra, sama seperti Rasulullah Saw As’ad bin Zurarah tidak memiliki anak laki-laki yang hidup sampai dewasa.

Sosok Pemimpin Yang Disegani

Ibnu Sa’ad dalam kitabnya berjudul al-Thabaqat al-Kubra riwayat dari Affan bin Muslim dari Hammad bin Salamah dari ‘Ali bin Zaid dari ‘Ubadah bin al-Walid bin ‘Ubadah bin al-Shamit menceritakan bahwasanya As’ad bin Zurarah ketika malam perjanjian Aqabah kedua, memegang tangan Rasulullah Saw seraya berkata dengan suara lantang, “Wahai hadiri sekalian! Apakah kalian sadar atas bai’at kalian kepada Nabi Muhammad? Sungguh kalian berbai’at dengan penuh keyakinan untuk berjuang melawan orang-orang Arab, ‘Ajam, Jin, dan manusia.”

Para peserta bai’at sebanyak 74 orang itu pun menjawab, “Kami memerangi orang yang memerangi kami, dan berdamai dengan orang yang berdamai.”

As’ad bin Zurarah kemudian bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, berilah kami syarat.”

Rasulullah Saw pun bersabda, “Kalian berbaiat kepadaku untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, dan bersaksi bahwa aku adalah utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, taat dan patuh, tidak berselisih atas suatu urusan dengan orang yang ahli dalam urusan tersebut, dan berselisih tentang apa yang aku larang atas kalian dan keluarga kalian.”

Baca Juga :  Sahabat-Sahabat Nabi yang Paling Utama

Secara serentak mereka menjawab, “Baik.”

Salah seorang dari mereka kemudian bertanya, “Baik Rasulullah, syarat-syarat ini untukmu Wahai Rasulullah, lalu apa untuk kami?”

Rasulullah Saw menjawab, “Bagi kalian surga dan pertolongan (al-jannah wa al-nashr).”

Wafatnya

Masih dalam kitab al-Thabaqat al-Kubra diceritakan bahwa As’ad bin Zurarah wafat sekitar sembilan bulan pasca Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. As’ad menjadi orang Anshar pertama yang dishalatkan Rasulullah Saw di Masjid Nabawi dan dimakaman di Baqi’. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here