Arisan Dalam Kaca Mata Islam

0
3104

BincangSyariah.Com – Arisan memang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, Arisan diartikan sebagai pengumpulan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang, lalu diundi diantara mereka. Undian tersebut dilaksanakan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Transaksi seperti ini sama dengan pengertian yang disampaikan para ulama dengan istilah Jum’iyyah al-Muwadhdhafin atau al-Qardlu al-Ta’awun. Artinya, beberapa orang bersepakat dengan ketetapan membayar sejumlah uang yang sama besarnya, kemudian kalkulasi dari sejumlah uang ini akan diserahkan kepada nama yang mendapat undian dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Baik satu minggu, satu bulan maupun satu tahun sesuai dengan kesepakatan awal. Hal ini terus diulang, hingga semua anggota menerima jumlah uang yang sama dengan yang diterima oleh para anggota sebelumnya.

Arisan ini dianggap sebagai salah satu cara unuk menabung dan memanfaatkan perputaran uang. Selain itu, arisan juga dianggap memberikan keuntungan jika dia mendapat undian sesuai dengan waktu yang tepat.

Mengenai hukum arisan sendiri, para ulama berbeda pendapat dalam dua pandangan. Pertama, ulama yang mengharamkan seperti Syeikh Shalih bin Abdillah al-Fauzan, Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah dan Syaikh Abdurrahman al-Barak. Mereka berargumentasi bahwa setiap peserta dalam arisan ini menyerahkan uangnya dalam akad hutang bersyarat yaitu menghutangkan dengan syarat diberi hutang juga dari peserta lainnya. Ini adalah hutang yang membawa keuntungan/qardh jrra manfaatan, sedangkan para ulama sepakat bahwa hutang yang memberikan manfaat dikategorikan sebagai riba.

Kedua, ulama yang membolehkannya. Diantaranya adalah Abu Zur’ah al-‘Araqi, Syeikh Ibn Utsaimin dain Ibn Baz. Ibn Baz mengomentari arisan ini dengan mengatakan bahwa arisan adalah piutang yang tidak mengandung syarat memberi tambahan manfaat kepada siapapun. Majelis Hai’at Kibar al-Ulama telah mempelajari masalah ini dan mayoritas mereka membolehkannya mengingat adanya maslahat untuk seluruh anggota arisan tanpa mengandung mudarat.

Baca Juga :  K.H. Ahmad Dahlan: Pelopor Gerakan Modern Islam

Jika demikian, maka arisan yang dilakukan seperti itu hukumnya adalah boleh, sebab hanya berstatus seperti uang tabungan yang dibagikan pada orang yang mendapatkan undian. Hal ini dibolehkan dalam syariat karena terdapat manfaat dengan saling membantu dan di dalamnya sama sekali tidak dijumpai adanya kemudharatan.

Berbeda halnya jika arisan dilakukan untuk ajang pamer, tidak sedikit  ibu-ibu mengikuti arisan hanya untuk memamerkan barang mewah dan perhiasan yang digunakannya untuk meninggikan status sosial. Jika demikian, maka arisan yang seperti ini tidak dibenarkan agama karena dapat memicu keretakan sosial. Lagipula di dalam islam, kekudukan seseorang tidak dinilai dari semewah apa barang yang dia miliki dan sebanyak apa perhiasan yang dia kenakan, tapi dari sebaik apa ketaqwaannya pada Sang Pencipta dan sebagus apa perangainya pada sesama. Wallahu A’lam bis shawab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here