Apakah Talak Harus Ada Saksi?

7
9643

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, suami dibolehkan menceraikan atau mentalak istrinya jika memang di antara keduanya tidak bisa bersatu lagi. Meski boleh, namun talak termasuk perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah sehingga selayaknya tidak perlu dilakukan kecuali dalam keadaan darurat saja. Sebenarnya, dalam Islam apakah talak harus ada saksi saat menjatuhkannya?

Ulama telah sepakat bahwa tidak dibutuhkan saksi saat menjatuhkan talak. Karena itu, jika seorang suami menjatuhkan talak pada istrinya meskipun tidak ada orang lain sebagai saksinya, maka talaknya dihukumi sah dan mereka berdua dihukumi telah bercerai.

Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah mengatakan, sebagaimana pendapat kebanyakan ulama, bahwa talak jatuh saat suami mengucapkannya meski tanpa ada saksi. Tidak ada keharusan ada saksi saat suami menjatuhkan talak pada istrinya. Karena talak merupakan hak khusus bagi suami sehingga tidak butuh orang lain sabagai saksi saat mengucapklannya.

ﺫﻫﺐ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻳﻘﻊ ﺑﺪﻭﻥ ﺇﺷﻬﺎﺩ، ﻻﻥ ﺍﻟﻄﻼﻕﻣﻦ ﺣﻘﻮﻕ ﺍﻟﺮﺟﻞ ، ﻭﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﻨﺔ ﻛﻲ ﻳﺒﺎﺷﺮﺣﻘﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻﻋﻦﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ﻣﺎ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺍﻻﺷﻬﺎﺩ

“Kebanyakan ulama salaf maupun khalaf  berpendapat bahwa talak jatuh meski tanpa saksi. Hal ini karena talak merupakan hak khusus bagi suami sehingga tidak butuh saksi saat melakukannya. Selain itu, tidak ada nash dari Nabi Saw. maupun sahabatnya tentang syariat mempersaksikan talak.”

Meski tidak harus ada saksi, namun dianjurkan ada saksi saat menjatuhkan talak. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Assyaukani berikut;

وقد ورد الاجماع على عدم وجوب الاشهاد في الطلاق واتفقوا على الاستحباب.

“Ulama telah sepakat bahwa tidak wajib mempersaksikan kepada orang lain saat menjatuhkan talak. Hanya saja mereka menganjurkan mempersaksikan talak kepada orang lain.”

Baca Juga :  Cara Unik Ulama Nusantara Menjelaskan Isra’ Mi’raj

Imam Alqurthubi dalam kitabnya Tafsirul Qurthubi menjelaskan mengenai faidah mempersaksikan kepada orang lain saat menjatuhkan talak. Di antaranya agar terhindar dari perselihan antara suami dan istri dan agar terhidar dari dugaan tetap terjalinnya pernikahan di antara keduanya.

 

7 KOMENTAR

  1. Masalah perkawinan perceraian di indonesia telah ada undang undang yg mengaturnya, seperti undang undang no 1 tshun 1974, juga Kompilasi Hukum Islam, tulisan ini sama sekali tidak mengkaitkan peraturan2 tersebut, psdahal itu hukum positif yg berlaku bagi umat islam di indonesia, baiknya kajian fikih yg sudah ada aturannya dan menjadi hukum fositif, di kaitkan dg peraturan2 tersebut

  2. Kalau suami tidak pernah memberikan nafak selama 17 thn menikah dan istri meminta cerai. Setelah suami mentalak istri, istri harus menjalankan masa iddah 3 bulan 10 hari ? Setelah itu apakah ada talak lagi atau sudah resmi cerai?

  3. Assalamualaikum.. Sy mau bertanya klo suami sudah mentalak 3 sekaligus itu bagaimana jatuh talaknya apakah sdh trmasuk jatuh talaknya 3x atau msh talak 1.sedangkan suami sebelumnya belum pernah mentalak sy sm sekali. Sekali dia talak lsg talak 3 sekaligus. Mohon pencerahannya. Trimakasih wassalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here