Apakah Takut Ketinggian Menggugurkan Wajib Haji?

0
589

BincangSyariah.Com – Haji merupakan sebuah ibadah yang membutuhkan kemampuan bukan hanya finansial, namun juga kemampuan fisik dan mental. Khususnya bagi jamaah haji asal Indonesia, ia harus menempuh perjalanan udara yang cukup lama, yakni sekitar 9 jam sekali jalan.

Bagi orang biasa (baca: normal), menempuh perjalanan udara selama 9 jam tidaklah terlalu menjadi masalah. Namun bagi seseorang yang mengidap penyakit takut ketinggian, tentunya hal itu amat sangat memberatkan.

Penyakit takut ketinggian atau biasa disebut sebagai Acrophobia terjadi pada sekitar 5% dari populasi manusia di bumi ini. Acrophobia cenderung berbahaya karena serangan panik di ketinggian bisa membuat seseorang menjadi hilang kendali dan berakibat fatal. Dampak paling nyata dari penyakit ini ialah orang tersebut jelas tidak bisa melakukan perjalanan udara menggunakan pesawat terbang.

Jika demikian. Bagaimana dengan kewajiban haji bagi orang dengan penyakit Acrophobia tersebut? Apakah dengan keberadaan penyakit tersebut membuat ia tidak wajib melaksanakan ibadah haji?

Secara mendasar, ajaran Islam berpegang pada prinsip yassir wa laa tu’assir (memudahkan, tidak memberatkan). Prinsip ini yang kemudian membuat syariat Islam memperbolehkan sholat fardlu tidak harus berdiri bagi yang sakit atau menjamak dan mengqoshor sholat bagi orang yang sedang bepergian.

Memaksakan diri melakukan sesuatu meskipun itu ibadah namun beresiko menghilangkan nyawa seseorang tentu sangat tidak diajarkan dalam Islam. Sebagaimana kaidah yang menyatakan:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain”

Dengan demikian, seseorang yang memiliki penyakit takut ketinggian, ia tidak berkewajiban memaksakan diri menaiki pesawat terbang meski dengan tujuan untuk melaksanakan ibadah haji.

Solusinya, orang tersebut bisa menggunakan alternatif perjalanan yang lain, seperti lewat perjalanan darat ataupun laut.

Baca Juga :  Kajian Rumahan; Merawat Hubungan Antar Manusia, Kunci Merajut Hubungan dengan Allah

Selanjutnya, bagaimana kategori ketakutan (phobia) yang bisa jadi penggugur kewajiban haji?

Dalam kitab karya Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (j. 5 h. 64) kita bisa melihat persoalan gugurnya kewajiban haji bagi pengidap phobia ketinggian sama dengan persoalan seseorang yang tidak menemukan amn ath-thoriq (keselamatan perjalanan) dalam perjalanan hajinya. Sementara kita tahu bahwa keselamatan perjalanan merupakan syarat seseorang bisa dikategorikan mampu berhaji.

Namun tidak semua ketakutan bisa digolongkan sebagai phobia yang menggugurkan kewajiban haji. Menukil pendapat Imam Haramain, Imam Nawawi menyebutkan bahwa ada pembagian persoalan dalam hal ini:

حَكَاهُ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ أَنَّهُ يُفَرَّقُ بَيْنَ مَنْ لَهُ جُرْأَةٌ وَبَيْنَ الْمُسْتَشْعِرِ وَهُوَ ضَعِيفُ الْقَلْبِ فَلَا يَلْزَمُ الْمُسْتَشْعِرَ

“Imam Haramain menceritakan bahwa harus dibedakan antara seseorang yang sekadar takut dengan yang phobia, yakni mereka yang psikologisnya lemah, maka haji tidak wajib bagi mereka”

Dengan demikian, jenis ketakutan yang bisa menggugurkan kewajiban haji dari sisi kemampuan ialah ketakutan yang berdampak fatal terhadap kondisi fisik dan psikologis. Jika hanya sekadar takut yang tidak mencapai taraf tersebut, maka haji tetap diwajibkan. Untuk menentukan apakah ketakutan seseorang itu masuk kategori phobia atau tidak, tentu saja harus menggunakan rujukan dari ahli medis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here