Apakah Syariah Sama dengan Fikih?

0
79

BincangSyariah.Com – Sebagaimana kita ketahui, definisi fikih ialah “pengetahuan tentang hukum-hukum syariat amaliah berdasarkan dalil-dalilnya yang terperinci dan didapatkan dengan menggunakan metode ijtihad.” Imam al-Haramain, penulis kitab ushul fikih berjudul Al-Waraqat mencontohkan fikih tersebut diantaranya ialah pengetahuan yang didapatkan oleh Imam Syafi’i bahwasanya hukum salat witir di malam hari sehabis salat Isya ialah sunnah.

Mari kita bedah contoh yang diberikan oleh Imam Haramain diatas agar kita semakin memahami apa kaitan contoh tersebut dengan definisi fikih diatas.

Pembaca yang budiman, dalam Al-Quran surat Al-Baqarah [2]: 238 terdapat firman berikut ini:

حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ

ḥāfiẓụ ‘alaṣ-ṣalawāti waṣ-ṣalātil-wusṭā wa qụmụ lillāhi qānitīn

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”

Dalam menyikapi kata “salat wustha” diatas, para ulama saling berbeda pendapat. Diantaranya ialah Imam Abu Hanifah dan junior beliau, yakni Imam Syafi’i. al-Imam Abu Hanifah beranggapan bahwa makna salat wustha diatas ialah salat witir, karena makna wustha ialah “tengah” dan salat witir lazimnya dilaksanakan pada tengah malam. Sementara Imam Syafi’i menganggap bahwa salat wustha diatas ialah salat ashar, karena secara penyebutan, biasanya waktu-waktu salat fardlu dimulai dengan menyebutkan salat shubuh, kemudian dluhur, ashar, maghrib dan isya. Posisi penyebutan ashar berada di tengah. Maka ia dianggap sebagai salat wustha.

Kenapa Bisa Berbeda Pendapat?

Lazimnya ketika dua orang berbeda pendapat terkait sesuatu, maka ia harus menggunakan dalil atau argumen tambahan sebagai pendukung pendapatnya. Demikian pula yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i. Mereka berdua mengajukan dalil tambahan untuk memperkuat pendapat mereka. Imam Syafi’i mengemukakan bahwa salat “wustha” dalam ayat di atas adalah shalat ashar. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW ketika terjadi perang Ahzab:

Baca Juga :  Musik Itu Haram atau Halal? Ini Penjelasan Quraish Shihab

شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ

“Mereka (kaum kafir Quraisy) telah menyibukkan kita dari shalat wustha, (yaitu) shalat ashar.”

Dengan demikian, ketika Imam Syafi’i ditanyai tentang hukum salat witir, maka beliau tetap menghukuminya dengan sunnah.

Sementara al-Imam Abu Hanifah, argumen yang diajukan adalah dengan dalil:

إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً فَحَافِظُوا عَلَيْهَا وَهِيَ الْوَتْرُ

“Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu shalat, maka jagalah shalat tersebut. Shalat itu ialah witir.” (HR Ahmad).

Dengan dalil tersebut, Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum salat witir ialah wajib.

Lantas apakah berarti Imam Abu Hanifah menambah jumlah salat rawatib (shalat lima waktu)? Apakah bagi Abu Hanifah salat fardlu itu ada 6 dan bukan 5? Jawabannya ternyata adalah tidak.

Ternyata, Abu Hanifah punya konsep yang membedakan antara hukum wajib dengan hukum fardlu. Salat rawatib yang berjumlah 5 waktu sehari semalam oleh Abu Hanifah dihukumi sebagai salat fardhu yang tingkatannya tetap lebih tinggi dibanding salat witir yang beliau anggap hukumnya adalah wajib. Hal yang sama sesungguhnya terdapat pula dalam madzhab Syafi’i dimana dalam rangkaian ibadah haji, madzhab Syafi’i memisahkan antara fardlu haji dengan wajib haji.

Beda Syariah dan Fikih

Kembali kepada pemberian contoh Imam al-Haramain diatas. Karena pengetahuan fikih adalah pengetahuan yang membutuhkan proses ijtihad untuk mendapatkannya, maka contoh yang diberikan oleh Imam Haramain adalah contoh pengetahuan hukum Islam yang didalamnya terdapat proses ijtihad, dan itu dinamai fikih. Sementara pengetahuan hukum Islam yang bisa diketahui secara langsung tanpa proses ijtihad seperti pengetahuan kita bahwa salat 5 waktu hukumnya adalah fardlu, adalah syariat. Pengetahuan ini bisa didapat secara langsung cukup hanya dengan membaca dalil kewajiban mengenai hal tersebut baik dalam Alquran maupun hadits.

Baca Juga :  Pesan Surat Al-Zalzalah : Yang Dikerjakan, Akan Dipertanggungjawabkan di Akhirat

Kesimpulannya, tidak semua pengetahuan kita tentang hukum Islam bisa disebut sebagai fikih. Para ulama kemudian memperinci perbedaan syariah dengan fikih. Syariah adalah segala pengetahuan tentang hukum Islam. Sementara fikih terbatas pada persoalan hukum islam yang bersifat amaliah dan yang membutuhkan proses ijtihad untuk mengetahuinya. Semua pengetahuan fikih ialah syariah, sementara tidak semua pengetahuan syariah adalah fikih.

Demikian, semoga bermanfaat, wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here