Apakah Salat Jumat Menjadi Gugur Karena Bersamaan dengan Salat Id?

1
1812

BincangSyariah.Com – Di setiap waktu ketika hari raya (Idulfitri/adha) bertepatan dengan hari Jumat, muncul pertanyaan berulang apakah tetap melaksanakan salat Jumat kalau sudah melaksanakan salat Idulfitri/adha?

Pertanyaan ini tidak terlepas dari perdebatan klasik dari upaya menafsirkan hadis Zaid bin Arqam Ra. yang menjawab pertanyaan Muawiyah soal bagaimana yang Rasulullah Saw. lakukan ketika ada dua Id (‘iidayn) di satu hari (maksudnya adalah salat Id dan salat Jumat).

عن إياس بن أبي رَمْلة الشامي قال: “شهدت معاوية بن أبي سفيان، وهو يسأل زيدَ بن أرقم، قال: شهدتَ مع رسول اللَّه -صلى اللَّه عليه وسلم- عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم. قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد، ثم رَخَّص في الجمعة فقال: من شاء أن يصلي فليصل

“Dari Iyas bin Abi Ramlah al-Syami beliau berkata: Aku melihat Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zayd bin Arqam Ra.: “Apa kamu bersama Rasulullah Saw. ketika terjadi dua Id di hari yang sama? Zayd menjawab: “Iya!”. Muawiyah Ra. bertanya: “Apa yang beliau lakukan?” Zayd Ra.: “Beliau salat Id, kemudian memberi keringanan untuk salat Jumat seraya berkata: “Siapa yang tetap mau salat Jumat, salatlah!”

Melalui hadis ini, para ulama berbeda pendapat apakah hadis tersebut menjadi dalil diperbolehkannya kita meninggalkan salat Jumat karena sudah melakukan salat Id, atau itu berkaitan dengan kondisi geografis saat itu? Sebagian ulama yang memilih pendapat pertama, di antaranya adalah mazhab Hanbali. Untuk pandangan yang kedua di antaranya dipilih oleh ulama dalam mazhab Syafi’i.

Ada beberapa hadis yang memiliki isi yang serupa dengan hadis di atas dan tersebar di beberapa kitab hadis misalnya, Sunan al-Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Ibn Majah. Sebenarnya, ada riwayat lain, yaitu kisah Abdullah bin Zubair yang melakukan hal yang sama dengan kisah Zayd bin Arqam di atas.

Baca Juga :  Hukum Takbiran pada Malam Idul Fitri

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dari Ibn Kaysan. Waktu itu, Abdullah bin Zubair adalah Gubernur Mekkah. Singkat cerita, Abdullah bin Zubair Ra. keluar ketika hari sudah agak siang, lalu berkhutbah Idulfitri. Setelah selesai khutbah, ia kemudian tidak keluar untuk memimpin salat Jumat dan penduduk Mekkah waktu itu akhirnya melaksnaakan salat Zuhur biasa. Ketika hal itu disampaikan kepada Abdullah bin ‘Abbas Ra., beliau hanya mengatakan “Ashaaba al-Sunnah” (Abdullah bin Zubair Ra. sudah sesuai sunnah).

Dari sini, kita sementara dapat menyimpulkan kalau keringanan untuk tidak melaksanakan salat Jumat memang terdapat dalilnya di dalam hadis Nabi. Meskipun, seperti dalam mazhab Syafi’i dengan mengutip kitab ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, dikatakan bahwa hadis ini tidak menjadi dalil dibolehkannya meninggalkan salat Jumat.

Alasannya adalah karena kewajiban melaksanakan salat Jumat tetap berlaku secara umum dan dalil yang mengatakan ada keringanan tidak bisa mengkhususkan keumuman dalil salat Jumat karena ada problem di dalam sanad-sanadnya.

Walhasil, penulis berpandangan bahwa dalam konteks Indonesia saat ini dimana jarak antara satu masjid yang melaksanakan salat Jumat dengan pemukiman sangat dekat, bahkan mungkin kalau di perkotaan jaraknya kurang dari 100 meter, keharusan salat Jumat tetap berlaku walaupun di pagi hari kita melaksanakan salat Id. Ini juga bersesuaian dengan salah satu kaidah fikih yang mengatakan bahwa mengamalkan sebuah dalil lebih utama daripada meninggalkannya (al-i’mal awlaa min al-ihmaal).

Namun jika konteksnya adalah di pedesaan di mana jarak antara satu masjid dengan masjid lain sangatlah jauh, lalu ada keterbatasan transportasi yang mengantarkan seseorang ke masjid, dan beberapa kendala teknis lainnya, maka kita dapat menggunakan rukhsah atau keringanan tidak salat Jumat di hari raya Id. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here