BincangSyariah.Com- Menyampaikan informasi atau berita merupakan hal yang baik. Namun tidak semua berita dan informasi bisa langsung kita sampaikan, beberapa ada yang harus dikaji atau diverifikasi (tahaqquq) dan diklarifikasi (tabayun). Jangan menyampaikan sesuatu jika kita masih ragu akan kebenarannya.

Dalam beberapa kasus, seseorang harus melakukan dua hal tersebut jika tidak ingin menyandang julukan pembohong sebagaimana yang disebut oleh Rasulullah Saw. dalam hadis berikut:

عن حفص بن عاصم قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

Dari Hafs bin ‘Ashim berkata, Rasullullah Saw bersabda: Cukuplah seseorang dianggap pembohong jika ia mengatakan semua yang dia dengar. (HR. muslim)

Larangan tentang tidak menyampaikan semua yang didengar ini dijadikan satu bab tersendiri oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Terdiri dari hadis dan beberapa perkataan para sahabat dan tabi’in (generasi setelah sahabat). di antaranya Imam Malik, Abul Rahman bin Mahdi dan sufyan bin Husain.

Perkataan beberapa tabi’in yang dikutip oleh Imam Muslim adalah mereka yang hidup pada abad ke dua hijriah, dimana mulai banyak tersebar hadis palsu yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad Saw,

Salah satunya Imam malik yang berkata:

وحدثني أبو الطاهر أحمد بن عمرو بن عبد الله بن عمرو بن سرح قال أخبرنا ابن وهب قال قال لي مالك اعلم أنه ليس يسلم رجل حدث بكل ما سمع ولا يكون إماما أبدا وهو يحدث بكل ما سمع

Artinya; Ketahuilah bahwasanya seseorang tidak akan selamat (dari kebohongan) jika ia mengatakan semua yang telah dia dengar dan selamanya ia tidak pantas menjadi Imam jika ia mengatakan semua yang ia dengar.

Baca Juga :  Hukum Memugar Kuburan

Menurut Imam Nawawi dalam syarah muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini dan makna atsar-atsar yang semisalnya adalah peringatan dari menyampaikan setiap berita yang didengarkan oleh seseorang, karena biasanya ia mendengar kabar yang benar dan yang dusta, maka jika ia menyampaikan setiap yang ia dengar, berarti ia telah berdusta karena menyampaikan sesuatu yang tidak terjadi.

Imam Muslim menyebutkan dalam Muqaddim-nya bahwa fenomena menyampaikan hadis tanpa mengklarifikasi mencapai puncaknya pada tahun kedua hijriyah, masa dinasti Abbasiyah dimana fanatisme mazhab sedang mewabah kala itu. Terutama di saat meluasnya wilayah Islam, menjadikan hadis begitu cepat menyebar ke seluruh penjuru semenanjung arab dan sekitarnya.

Tidak heran jika seorang tabiin dan tokoh ilmu sanad terkemuka, Muhammad bin Sirin (w.110) berkata : “mereka (pada zaman sahabat) tidak pernah menanyakan/meminta sanad hadis, dan ketika terjadi fitnah mereka berkata : sebutkanlah (nama) setiap perawi kalian. Maka jika perawinya adalah ahlussunnah, mereka menerima hadisnya, dan apabila perawinya ahli bidah maka mereka menolaknya”.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebelum menyampaikan kabar kita harus memastikan bahwa kebenaran hal tersebut. Jangan sampai apa yang kita sampaikan memperkeruh suasana atau membuat ajaran Islam yang mulia terlihat kurang hikmah dan bijaksana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here