Apakah Semua Kata Perintah dalam Al-Quran Bermakna Kewajiban

0
68

Bincang Syariah.Com – Apakah semua kata perintah dalam Al-Quran bermakna kewajiban? Dalam Al-Quran, banyak sekali perintah dari Allah SWT sebagaimana fungsi Alquran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Permasalahan yang cukup menarik untuk dikaji ialah apakah semua kata perintah dalam Al-Quran tersebut, menunjukkan Allah menandaskan  kewajiban atau tidak.

Dalam ilmu ushul fikih, dijelaskan bahwa secara umum, kalimat perintah (amar) menunjukkan kewajiban untuk melaksanakan apa yang diperintahkan tersebut serta harus segera dilaksanakan. Dalil yang menunjukkan ketentuan demikian, diantaranya tertera dalam QS. An-Nur [24]: 63:

فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

falyaḥżarillażīna yukhālifụna ‘an amrihī an tuṣībahum fitnatun au yuṣībahum ‘ażābun alīm

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

Ayat diatas secara jelas menunjukkan bahwasanya Allah SWT memberikan peringatan kepada orang-orang yang melanggar perintah Rasulullah SAW, bahwasanya mereka akan mendapatkan fitnah, yaitu siksaan. Peringatan semacam itu tidak mungkin diberikan kecuali karena meninggalkan kewajiban. Sehingga dengan demikian menunjukkan bahwasanya perintah Rasulullah SAW secara mutlak menunjukkan wajibnya pelaksanaan apa yang telah diperintahkan.

Kemudian, untuk dalil bahwa pelaksanaan perintah itu harus secara segera ialah ayat QS. Al-Baqarah [2]: 148:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Fastabiqul Khoirooti

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan”

Kebaikan dalam hal ini ialah perintah-perintah syariat. Perintah untuk berlomba dalam kebaikan itu merupakan dalil tentang kewajiban untuk bersegera. Dari sisi lain, Rasulullah SAW juga membenci apabila manusia tidak bersegera melaksanakan apa yang beliau perintahkan, yakni melaksanakan kurban dan bertahallul pada hari perjanjian Hudaibiyyah. Secara logika, bersegera melaksanakan perintah juga menunjukkan kehati-hatian dalam beragama dan membebaskan diri dari beban syariat. Sebaliknya, tidak bersegera melaksanakan perintah bisa berpotensi terjadinya dosa akibat menyepelekan kewajiban sehingga luput dari pelaksanaannya.

Baca Juga :  Hukum Menunda Ibadah Haji Padahal Sudah Mampu

Meski demikian, ternyata tidak semua perintah dalam Al-Quran menunjukkan kewajiban ataupun segera dilaksanakan. Beberapa sebabnya adalah,

1. Ada dalil yang menjelaskan bahwa perintah itu tidak menunjukkan kepada kewajiban. Contohnya adalah firman Allah QS. Al-Baqarah [2]: 282,

وَأَشْهِدُوٓا۟ إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ

wa asy-hidū iżā tabāya’tum

“Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli”

Perintah untuk membuat persaksian pada transaksi jual beli ini hukumnya adalah sunnah, karena pernah suatu ketika Rasulullah SAW membeli kuda dari seorang a’rabi (suku Arab Badui) tanpa persaksian.

  1. Kebanyakan terjadi ketika ada perintah yang turun sesudah sebelumnya ada larangan. Contohnya ialah QS. Al-Maidah [5]: 2,

وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ ۚ

wa iżā ḥalaltum faṣṭādụ,

“Dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.”

Perintah berburu menunjukkan hukum mubah karena turun sesudah adanya larangan yang bisa dipahami dari firman Allah di ayat sebelumnya QS. Al-Maidah [5]: 1,

غَيْرَ مُحِلِّى ٱلصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Ghaira muḥilliṣ-ṣaidi wa antum ḥurum,

“Dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.”

3. Sebuah jawaban keraguan tentang keharaman sesuatu seperti ketika Nabi Muhammad bersabda saat terjadi peristiwa haji wada’:

إِفْعَلْ وَلاَحَرَجَ

“Lakukanlah!, tidak ada masalah (dosa)”

4. Jawaban atas seseorang yang bertanya tentang amalan mana yang lebih dahulu dilakukan. Misalnya dalam rangkaian ibadah haji di hari raya idul adha. Contohnya ialah ayat QS. Fushilat: 40:

ٱعْمَلُوا۟ مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

I’malụ mā syi`tum innahụ bimā ta’malụna baṣīr

“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Juga firman Allah QS. Al-Kahfi [18]: 29:

Baca Juga :  Menulis Al-Quran dengan Selain Bahasa Arab, Apakah Boleh?

فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا

fa man syā`a falyu`miw wa man syā`a falyakfur, innā a’tadnā liẓ-ẓālimīna nāran

“Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka.”

Menyebutkan ancaman sesudah adanya perintah menunjukkan bahwa sesungguhnya itu adalah peringatan, bukan mengharapkan agar dilakukan.

Selanjutnya, pada beberapa perintah, ada yang tidak disertai dengan kewajiban untuk segera dilakukan. Misalnya riwayat hadis yang menyebutkan bahwa Ibunda Aisyah RA punya kebiasaan mengakhirkan qadha puasa Ramadhan hingga bulan Sya’ban tiba. Jika menunda pelaksanaan perintah qadha itu diharamkan, niscaya Ibunda Aisyah tidak akan mengakui hal tersebut.

Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here