Apakah Seks Anal (Melalui Dubur) Termasuk Zina?

1
2222

BincangSyariah.Com – Melakukan seks melalui dubur atau seks anal merupakan perbuatan yang berbahaya bagi kesehatan. Risiko di balik seks anal di antaranya adalah penularan penyakit menular, dubur rentan rusak karena tidak mempunyai pelumas, berpotensi menginfeksi penis pasangan karena anus penuh dengan bakteri, melemahkan cincin otot anus, pendarahan, dan lain sebagainya.

Selain itu, Lembaga Fatwa Mesir (Darul Ifta al-Mishriyyah) dalam fatwanya nomor 2572 tahun 2012 menyatakan bahwa seks anal itu haram, sekalipun dilakukan suami dan istri. Bila dilakukan pasangan yang belum menikah atau pasangan sesama jenis, berarti seks anal yang dilakukannya sama dengan zina. Sementara itu, zina termasuk dosa besar yang dapat menghapus segala pahala amal baik seseorang, sebagaimana disebutkan dalam Alquran. Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Janganlah kalian mendekati zina dengan melakukan hal-hal yang mengarah kepadanya. Sebab zina adalah perbuatan keji yang sangat jelas keburukannya. Jalan itu adalah merupakan jalan yang paling buruk. (QS. Al-Isra; 32)

Dalam surah lain, Allah berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا. يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

(Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah) membunuhnya (kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu) yakni salah satu di antara ketiga perbuatan tadi (niscaya dia mendapat pembalasan dosanya) hukumannya. Pada hari kiamat, dia akan mendapatkan siksa yang berlipat ganda dan kekal di dalamnya dalam keadaan hina dan tercela. (QS.al-Furqan; 68-69)

Baca Juga :  Hukum Hormat Bendera

Oleh karena itu, bagi seorang Muslim atau Muslimah yang pernah melakukan seks anal, maka diwajibkan untuk meninggalkannya segera, menyesali atas perbuatan yang dilakukannya, dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya kembali. Selain itu, dia juga disunahkan untuk memperbanyak istigfar, salat tobat dua rakaat, dan selalu mendekati orang saleh agar dapat membimbingnya. Jika ia benar-benar bertobat, maka Allah pasti akan mengampuninya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Akan tetapi barangsiapa bertobat atas dosa-dosa tersebut, beriman dengan benar dan menyertainya dengan ketaatan dan amal saleh, maka dia akan diampuni. Kejahatan mereka yang telah lalu akan diganti dengan kebaikan yang akan dibalas dengan pahala yang sangat besar. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang lagi Maha Pengampun (QS. al-Furqan; 70).

Seorang Muslim yang pernah melakukan perbuatan terlarang tersebut tidak perlu menghinakan dirinya dan meminta orang lain untuk menghukumnya di dunia (dengan hukuman cambuk atau rajam). Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam kitab al-Muwatha’ karya Imam Malik yang diriwayatkan dari Zaid bin Aslam yang mendengar Rasulullah bersabda, “Umatku, sudah saatnya kalian berhenti melanggar larangan Allah ini. Siapa pun yang melakukan perbuatan zina ini walaupun hanya sedikit, maka tutupilah aib tersebut (dengan memohon ampun kepada Allah dan agar) Allah menutupinya. Namun, barangsiapa yang sudah terlanjur cerita bahwa dia melakukan zina, maka aku terpaksa akan menghukumnya sesuai perintah Alquran.”

Selain itu, bagi umat Muslim yang mengetahui orang lain melakukan tindakan dosa ini tidak perlu mengucilkan apalagi menghinanya. Hal ini karena seorang Muslim sebaiknya tidak mengumbar aib dirinya dan juga orang lain. Diriwayatkan dari Nu’aim bin Hazal yang menceritakan perihal Maiz bin Malik. Waktu itu Maiz sedang berada di berada di kamarnya (sedang merenungi kesalahannya karena berbuat zina). Ketika sudah pagi, Hazal memerintahkan Maiz untuk datang kepada Nabi, “Coba Anda datang ke Nabi, dan ceritakan apa yang telah Anda lakukan.” (Saat mereka sudah bertemu), Nabi justru menasihati Hazal, “Hazal, Anda itu sebaiknya (tidak perlu menyuruh Maiz melaporkan perbuatan zinanya itu). Menutupi aib zina Maiz itu lebih baik bagi Anda daripada Anda menyuruhnya menceritakan perbuatannya kepada orang lain” (HR Ahmad). Wallahu a’lam.

 

Baca Juga :  Terkait Haikal Hassan Baras, Ini Hukum Mengucapkan Salam pada Non Muslim

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here