Apakah Akad Nikah Melalui “Video Call” Sah?

0
351

BincangSyariah.Com Diakui atau tidak, perkembangan teknologi sedikit banyak berimbas pada kehidupan sosial. Tidak luput juga darinya adalah kehidupan beragama. Hal ini tentu membawa sedikit kebingungan terutama dalam hal menyikapi kasus-kasus baru yang tempo dahulu belum ditemukan. Salah satunya dalam masalah pernikahan.

Kita semua sudah mengetahui bahwa sebuah pernikahan haruslah dihadiri setidaknya empat orang. Mempelai pria, wali dari mempelai wanita, dan dua saksi yang adil. Seperti yang dikatakan oleh Taqiyyuddin Al-Hishni dalam Kifayah al-Akhyar h. 51,

يُشْتَرَطُ فِيْ صِحَّةِ عَقْدِ النِّكَاحِ حُضُوْرُ أَرْبَعَةٍ وَلِيٍّ وَزَوْجٍ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ.

“Disyaratkan hadirnya empat orang dalam rangka mengesahkan akad nikah, yakni wali, mempelai pria, dan dua orang saksi yang adil.”

Nah, yang menjadi permasalahan kehadiran di sini apakah harus dipahami secara harfiah atau bisa dalam bentuk yang lain. Seperti halnya memakai video call. Toh, keduanya sama-sama bisa melihat kejadian yang sama.

Untuk menjawab hal ini, kita harus benar-benar jeli dan tidak secara sembarangan. Penulis akan mencoba menalarkan dua referensi dari generasi yang berbeda, salaf atau klasik dan kontemporer. Dalam referensi salaf diterangkan bahwa menjadi saksi nikah dalam kegelapan dihukumi tidak sah sebab saksi tidak tahu persis pelafalan akad nikah. Berikut kutipan aslinya dalam Hasyiyah al-Bujairami j. 3 h. 396,

مِنْ شُرُوْطِ الشَّاهِدَيْنِ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالضَّبْطُ وَلَوْ مَعَ النِّسْيَانِ عَنْ قُرْبٍ وَمَعْرِفَةُ لِسَانِ الْمُتَعَاقِدَيْنِ قَوْلُهُ: (وَالضَّبْطُ) أَيْ لِأَلْفَاظِ وَلِيِّ الزَّوْجَةِ وَالزَّوْجِ، فَلَا يَكْفِيْ سَمَاعُ أَلْفَاظِهِمَا فِيْ ظُلْمَةٍ؛ لِأَنَّ الْأَصْوَاتَ تَشْتَبِهُ

“Termasuk syarat-syarat dua saksi adalah mendengar akad, melihat, mengetahui persis walaupun setelah itu lupa, dan mengetahui pergerakan mulut dua orang yang melakukan akad (mempelai pria dan wali). Mengetahui persis dalam hal ini adalah pada lafal yang diucapkan oleh wali dan mempelai pria. Maka tidaklah sah menjadi saksi dalam kegelapan, sebab mendengar suara tanpa melihat orangnya sarat menimbulkan keraguan.”

Dari referensi ini ada dua hal yang menjadi direct point. Satu mengetahui persis dan dua harus melihat dengan jelas pergerakan mulut dari dua orang yang melakukan akad. Dan jika pernikahan dilangsungkan lewat video call maka kedua hal ini akan sangat sulit terwujud. Di samping itu, kevalidannya juga terkadang disangsikan. Siapa tahu itu bukanlah siaran langsung namun rekaman. Atau itu memang siaran langsung namun terjadi delay, padahal syarat ijab dan qabul harus bersambung dan tanpa jeda.

Baca Juga :  Ini Dalil Akad Nikah itu Ibadah, Masih Ragu Menikah?

Dalam referensi kekinian, para ulama juga memiliki pendapat yang sama. Yakni tidak diperbolehkannya nikah lewat telepon. Dalam kitab Al-Fawaid Al-Mukhtarah h. 246 disebutkan,

التِلْفُوْنُ كِنَايَةٌ فِي الْعُقُوْدِ كَالْبَيْعِ وَالسَّلَمِ وَالْإِجَارَةِ فَيَصِحُّ ذَلِكَ بِوَاسِطَةِ التِّلْفُوْن أَمَّا النِّكَاحُ فَلَا يَصِحُّ بِالتِّلْفُوْن لِأَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِيْهِ لَفْظٌ صَرِيْحٌ, وَالتِّلْفُوْن كِنَايَةٌ وَأَنْ يَنْظُرَ الشَّاهِدُ إِلَى الْعَاقِدَيْنِ وَفُقِدَ ذَلِكَ إِذَا كَانَ بِالتِّلْفُوْن, أَوْ مَا هَذَا مَعْنَاهُ.

“Penggunaan telepon dalam permasalahan akad seperti jual beli, pemesaan, dan penyewaan adalah dihukumi kinayah (penggunaan lafal tidak secara sarih). Maka akad-akad tersebut dihukumi sah jika dilakukan melalui telepon. Namun beda halnya dengan pernikahan, sebab dalam akad nikah diharuskan menggunakan lafal yang sarih sedangkan telepon itu kinayah. Dan juga pensyaratan saksi harus melihat langsung dua orang yang melakukan akad tidak terpenuhi jika akad dilakukan melalui telepon atau hal-hal yang semakna dengan telepon.”

Dari sini kita bisa melihat memang dalam pernikahan, para ulama memberi syarat-syarat yang cukup ketat. Hal ini disebabkan hal-hal yang menjadi konsekuensi dari pernikahan juga cukup besar. Seperti kehalalan seorang wanita yang jika tidak dilakukan dengan benar maka akan menjadi zina, permasalahan warisan, permasalahan mahram, dan seterusnya. Maka sudah seyogyanya kita juga amat berhati-hati dalam semua aspek keagamaan kita terlebih pernikahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here