Pengalaman Kasyaf Diceritakan ke Publik?: Catatan Untuk Ustadz Abdul Somad

27
7180

BincangSyariah.Com – Tanggal 11 April 2019 yang lalu ada wawancara antara ustadz Abdus Somad (UAS) dengan Salah Seorang Calon Presiden. Sebagai seorang ustadz, UAS beberapa kali memberikan pernyataan dengan landasan dalil-dalil agama. Di antaranya adalah sebagai berikut: 1) Membacakan Q.S. An-nisa: 58 yang berisi tentang keharusan seorang pemimpin bersikap adil, 2) Doa Mustajab dari Imam Ahmad bin Hanbal untuk meminta seorang pemimpin yang adil, dan 3) Isyarat seorang ulama yang dalam posisi kasyaf (al-kasyfu).

Setelah mendengar dan mencermati wawancara tersebut, ada beberapa hal yang perlu diberikan catatan sebagai berikut. Pertama, Ini adalah Dialog Politik Dukungan Pencapresan, bukan Dialog Agama. UAS sejak awal dialog menyampaikan klaim dukungan umat dari seluruh Indonesia untuk Prabowo. Dengan demikian, sebenarnya sejak awal dapat dimengerti bahwa wawancara ini adalah bagian dari dukungan politik suara UAS untuk Prabowo.

Baca: Ustaz Abdul Somad Baiat Tarekat pada Habib Luthfi

Kedua, Ijtima ulama untuk politik kekuasaan adalah penyimpangan atas tradisi keberagamaan (Islam). Ijtimak ulama adalah mekanisme pengambilan keputusan dalam hukum fiqh yang dihadiri oleh para ulama yang kapabel dan otoritatif. Ijtimak ulama bukan untuk memutuskan pilihan politik. Ijtimak yang dihadiri oleh para tokoh politik, bukan oleh ahli agama yang mumpuni, memberikan konsekuensi forum ijtimak tersebut tidak valid. Dengan demikian, menjadikan hasil forum ijtimak ulama tersebut sebagai landasan untuk melegitimasi atas keputusan politik praktis bukan merupakan bagian dari perkara keagamaan dan tidak memiliki ikatan apapun untuk umat.

Ketiga, Surat An-Nisa: 58 memberikan panduan keharusan seorang pemimpin untuk berlaku adil, bukan merupakan panduan untuk memilih individu sebagai pemimpin umat. Ayat tersebut mengarah kepada semua pemimpin, termasuk pemimpin negara. Dalam konteks bernegara, dalam posisi Prabowo bukanlah pemimpin negara, maka ayat tersebut tidak ditujukan kepada Prabowo. Juga sama sekali tidak bisa menjadi legitimasi bahwa Prabowo yang akan menjadi pemimpin negara. Sebaliknya, ayat tersebut justru ditujukan kepada Joko Widodo karena mendapat mandat dari ulama dan umat Indonesia untuk menjadi pemimpin negara (presiden).

Q.S. An-Nisa’: 58 berbunyi,

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58)

Artinya: “Allah memerintahkan kamu untuk memberikan amanah kepada yang berhak. Jika kamu menghukumi sesuatu di tengah masyarakat, maka hukumilah secara adil.Sungguh, ini sebaik-baik nasihatnya kepadamu. Sungguh, Allah maha mendengar, lagi maha melihat.”

Baca Juga :  Mau Menikah? Tiga Hal yang Perlu Diwaspadai Bagi Calon Pasutri dari Mbah Hasyim Asy'ari

Ayat ini menjelaskan tentang pemberian amanah kepada yang berhak. Sedangkan tafsir ayat itu terdiri atas beberapa pandangan, di antaranya adalah:

a) Ibnu Zaid yang dikutip dalam Tafsir Al-Hidayah ila Bulughin Nihayah karya Abu Muhammad Al-Andalusi (wafat 473 H) mengatakan bahwa ayat ini mengenai pemimpin yang diperintahkan Allah untuk menyalurkan amanat tertentu kepada yang berhak.

وَقَالَ ابْنُ زَيْدٍ : قَالَ أَبِي : هُمُ الوُلَاةُ أَمَرَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُؤَدُّوْا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Artinya, “Ibnu Zaid berkata, ‘Ayahku mengatakan bahwa mereka adalah pemimpin yang diperintahkan oleh Allah untuk memberikan amanah kepada yang berhak.’”

b) Ibnu Juraij seperti dikutip dalam Tafsir Al-Hidayah ila Bulughin Nihayah mengatakan bahwa orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Rasulullah yang diperintahkan untuk mengembalikan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah yang mana nenek moyangnya dulu adalah pemegang kunci Ka’bah dari Qushay. Thalhah, ayah Utsman sendiri terbunuh saat perang badar. Tetapi saat Fathu Makkah kunci Ka’bah diambil alih oleh Rasulullah.

وَقَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ : خُوْطِبَ بِهَذَا النَبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَرُدَّ مَفَاتِيْحَ الكَعْبَةِ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ طَلْحَةَ كَانَ المِفْتَاحُ لِآبَائِهِ مِنْ قُصَيٍّ ، وَكَانَ أَبُوْهُ قُتِلَ يَوْمَ بَدْرٍ فَوَرَثَهُ مِنَ أَبِيْه

“Ibnu Juraij mengtakan bahwa orang yang dimaksud dalam ayat ini sebenarnya adalah Rasulullah agar mengembalikan kunci kabah kepada Ustman bin Thalhah karena nenek moyangnya adalah pewaris turun temurun kunci kabah dari Qushay. Thalhah, ayah Utsman, terbunuh pada perang Badar. Sepeninggalnya, kunci kabah dipegang oleh Utsman.”

c) Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Al-Jalalain menyebutkan bahwa ayat ini turun perihal Sayyidina Ali yang mengambil alih secara paksa kunci Kabah dari Ustman bin Thalhah pada saat Fathu Makkah. Tetapi Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengembalikan kunci kabah tersebut ke tangan yang berhak, Utsman. Kebijaksanaan Rasulullah ini yang membuat Utsman bin Thalhah memeluk Islam.

إنَّ اللَّه يَأْمُركُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَات” أَيْ مَا اُؤْتُمِنَ عَلَيْهِ مِنْ الْحُقُوق “إلَى أَهْلهَا” نَزَلَتْ لَمَّا أَخَذَ عَلِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ مِفْتَاح الْكَعْبَة مِنْ عُثْمَان بْن طَلْحَة الحَجَبِي سَادِنهَا قَسْرًا لَمَّا قَدِمَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّة عَام الْفَتْح وَمَنَعَهُ

“(Sungguh, Allah memerintahkan kamu untuk memberikan amanah) maksudnya adalah hak-hak yang dimanahkan kepadamu (kepada yang berhak). Ayat ini turun ketika Sayyidina Ali mengambil alih secara paksa kunci kabah dari penjaga kabah saat Rasulullah tiba di Mekkah pada peristiwa Fathu Makkah. Tetapi Utsman mempertahankan haknya.”

Imam Jalaluddin As-Suyuthi juga mengatakan bahwa meski ayat ini turun pada kasus yang sangat khas, ayat ini berlaku umum perihal perintah untuk memberikan amanah kepada pihak yang berhak.

Baca Juga :  Tata-cara Memotong Kuku yang Disunahkan

وَإِنْ وَرَدَتْ عَلَى سَبَب خَاصّ فَعُمُومهَا مُعْتَبَر بِقَرِينَةِ الْجَمْع

“Meski ayat ini turun dengan sebab tertentu, tetapi kandungan ayat ini berlaku umum dengan indikasi tekstual plural [‘kum’ dan ‘antum’].” 

Mistifikasi politik melalui mimpi merupakan klaim politik yang tidak bisa diverifikasi. UAS menyatakan bertemu seorang ulama yang dianggap dalam posisi kasyaf bermimpi dan selanjutnya membisikkan nama yang dianggap harus dipilih. Mimpi adalah peristiwa individual yang selanjutnya diberikan tafsir yang berpotensi dijadikan sebagai legitimasi kecenderungan hati yang bermimpi. Terlebih karena mimpi biasanya berisi tanda-tanda yang samar-samar, bukan merupakan panduan praktis memilih figur (perorangan) seorang pemimpin. Oleh karena itu, melegitimasi mimpi sebagai isyarat kepemimpinan politik praktis merupakan bagian dari cara menggiring masyarakat (umat) untuk menggunakan mimpi (yang tidak bisa diverifikasi) sebagai landasan memilih pemimpin negara yang seharusnya rasional (dapat diverifikasi).

Memahami Hakikat Kasyaf

Kasyaf atau al-kasyfu secara harfiah berarti pembukaan, penyingkapan, penghilangan, atau pengangkatan. Kasyaf dalam istilah fiqih sering kali berkaitan dengan aurat dan pakaian. Sedangkan kasyaf dalam kajian tasawuf sering kali dikaitkan dengan penyingkapan hijab atau tirai yang membatasi alam nyata dan alam gaib. Proses kasyaf didapat saat seseorang dalam kondisi terjaga, bukan dalam mimpi.

Dalam keadaan kasyful mahjub (kondisi tersingkapnya tirai penghalang), pandangan seseorang dapat menembus ke hal-hal gaib. Dengan kata lain, seseorang yang dibukakan tirai pembatas itu dapat memandang atau mengetahui sesuatu yang gaib, termasuk isyarat dari Allah.

Meski demikian, pengetahuan atau pandangan seseorang atas sesuatu yang diperoleh melalui jalan kasyaf tidak bisa dijadikan pedoman dalam sikap beragama. Pasalnya, tidak ada jaminan bahwa pengetahuan tersebut murni berasal dari Allah. Tetapi pengetahuan yang terjamin (ma’shum) kebenarannya dari Allah adalah pengetahuan dari syariat yang didasarkan kepada Al-Qur’an dan Hadis. Ibnu al-Haj al-Maliki dalam kitab al-Madkhal mengatakan,

وَقَدْ قَالَ سَيِّدِي أَبُو الحَسَنِ الشَاذِلِي رَحِمَه اللهُ تَعَالَى إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ضَمِنَ لَكَ العِصْمَةَ فِي جَانِبِ الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَلَمْ يَضْمَنْهَا لَكَ فِي الكَشْفِ وَالإِلْهَامِ هَذَا وَهُوَ فِيْ حَالِ اليَقْظَةِ الَّتِي هِيَ مَحَلُّ التَكْلِيْفِ لِأَنَّ الكَشْفَ فِيْهِ أَجْلَى مِنَ النَّوْمِ فَمَا بَالُكَ بِمَنْ هُوَ غَيْرُ حَاضِرِ العَقْلِ وَقَدْ رُفْعَ عَنْهُ  الخِطَابُ فِي حَالِ نَوْمِهِ

Baca Juga :  Saat Anggota Tubuh Terkena Najis, Bolehkah Sentuh Al-Quran

“Syekh Abul Hasan As-Syadzili RA mengatakan bahwa Allah menjamin kemaksuman (kesucian dan keselamatan) melalui Al-Quran dan Hadits. Tetapi Allah tidak menjamin kebenaran bagimu melalui kasyaf dan ilham.Ketiadaan jaminan kebenaran ini berlaku saat seseorang terjaga di mana seseorang terkena beban hukum syariat karena ilmu kasyaf di sini lebih terang benderang. Apalagi pengetahuan gaib yang didapat seseorang saat tidak sadar melalui mimpi ketika tidur  di mana beban hukum syariat tidak dikenakan kepadanya.” (Ibn al-Haj Al-Maliki, Al-Madkhal, juz IV, halaman 292).

Para ulama salaf terdahulu juga kerap kali mendapatkan ilham atau pengetahuan gaib dalam keadaan terjaga. Tetapi, mereka tidak menjadikan itu sebagai rujukan kebenaran dalam mengambil sikap.Mereka selalu berpijak pada Al-Quran dan hadis sebagai sumber otoritatif dalam mengambil sikap.

Selain itu, semua informasi atau pengetahuan yang kita dapat tidak selalu harus dibagi ke orang lain. Pembeberan semua informasi yang kita ketahui menunjukkan kenaifan diri kita. Syaikh Ibnu Athaillah dalam karya tasawuf fenomenalnya, Al-Hikam, mengatakan,

مَنْ رَأَيْتَهُ مُجِيباً عَنْ كُلِّ مَا سُئِلَ وَمُعَبِّراً عَنْ كُلِّ مَا شَهِدَ وَذَاكِراً كُلَّ مَا عَلِمَ فَاسْتَدِلَّ بِذَلِكَ عَلَى وُجُوْدِ جَهْلِهِ

“Orang yang kaulihat menjawab segala pertanyaan, mengungkapkan segala yang disaksikan, dan menyebutkan semua yang diketahuinya, maka jadikan itu sebagai tanda ‘kebodohannya’.” 

Dari poin-poin di atas, kita bisa menjelaskan bahwa Islam mengajarkan tentang memuliakan tamu (ikram al-dluyuf), bukan mengusir para tamu. Sehingga menganggap seseorang yang mengusir tamu sebagai ulama yang ikhlas, ini merupakan pengelabuhan terhadap prinsip-prinsip dalam beragama (Islam).

Di sisi lain, Ulama dan Umat tidak boleh dipisahkan. UAS justru berusaha memberikan makna ulama yang ikhlas adalah yang menutup diri dari dinamika sosial dan negara-bangsa dan cenderung tidak ramah terhadap umat. Dengan menganggap praktik jual beli di pasar sebagai praktik ribawi, yang disematkan untuk menandakan tingkat al-kasyfu seseorang, itu merupakan tindakan yang menjauhkan seseorang tingkat ulama agar jauh dari pergaulan dengan umat. Ini juga merupakan cermin pemahaman UAS yang lebih cenderung terhadap ekonomi eksklusif.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

27 KOMENTAR

    • Intinya kasyaf itu sprti informasi biasa. Bisa jd benar bs jg salah. Kasyf itu salah satu saluran pengetahuan ilahi kpd seorng wali. Kata al-Sya’rani, kasyf bs jd benar, tp tafsirnya blum tntu benar. Jd dlm aspek ini berhati2 dlm menggunakan dalil pa lg dlm trdisi tashawwuf. Wallahul Muwaffiq..

  1. Ada bbrp catatan utk penulis ini :
    1. Ilmu agamanya lumayan tinggi.
    2. Dari cara berkomentar pengin menunjukkan ilmunya lebih tinggi dari UAS.
    3. Secara tersirat menganggap remedial UAS dan terlihat berpihak ke Paslon Sebelah
    4. Dari ulasan terlihat kagum dengan pribadi Nabi yang sangat mulia, namun dari tulisan panjang lebar ini belum terlihat ingin mengikuti pribadi Rosul yg mulia tersebut

    • 1. Tidak ada yang memberikan gelar pada dialog tersebut dengan dialog politik atau dialog agama, justru seolah olah penulis membenturkan politik dan agama sebagai 2 hal yang berbeda padahal islam sebagai agama yang sempurna menyentuh seluruh lapisan kehidupan di semesta ini mulai dari membuka mata sampai memejamkannya, apalagi politik.
      2. Tanda tanda akhir zaman adalah munculnya orang orang tidak berilmu tapi berbicara seolah memiliki ilmu, penulis tidak bisa membedakan antara ijtima dan ijma, ijtima adalah perkumpulan, bahkan yang mana istilah tersebut juga dipakai dalam ilmu astronomi sebagai berkumpulnya suatu orbit tertentu yang berbeda jauh sekali dengan ijma sebagai suatu keputusan.
      3. UAS memberikan tausyiah tersebut dapat diartikan untuk prabowo memberikan amanah kepada yang berhak sebagai WNI dalam pilpres nanti atau pesan untuk prabowo apabila menjadi pemimpin, mungkin penulis diberi ilmu sebagai orang tua ketika penulis masih kanak kanak tanpa perlu dipastikan apakah kelak penulis akan menikah dan punya anak, saya berharap penulis jangan pernah mengecilkan ruang lingkup kebenaran atas ilmu untuk kepentingan tertentu.
      4. Penulis seolah sudah memiliki ilmu kasyaf yang tinggi untuk menilai kasyaf itu sendiri, terikat dari kesalahan kesalahan yang mendasar di atas, rasanya penulis teranggap terlalu lebih jauh lagi untuk berbicara tasawuf.
      Kesimpulan, penulis dan tulisannya ini wajib ditinggalkan

  2. 1. Tidak ada yang memberikan gelar pada dialog tersebut dengan dialog politik atau dialog agama, justru seolah olah penulis membenturkan politik dan agama sebagai 2 hal yang berbeda padahal islam sebagai agama yang sempurna menyentuh seluruh lapisan kehidupan di semesta ini mulai dari membuka mata sampai memejamkannya, apalagi politik.
    2. Tanda tanda akhir zaman adalah munculnya orang orang tidak berilmu tapi berbicara seolah memiliki ilmu, penulis tidak bisa membedakan antara ijtima dan ijma, ijtima adalah perkumpulan, bahkan yang mana istilah tersebut juga dipakai dalam ilmu astronomi sebagai berkumpulnya suatu orbit tertentu yang berbeda jauh sekali dengan ijma sebagai suatu keputusan.
    3. UAS memberikan tausyiah tersebut dapat diartikan untuk prabowo memberikan amanah kepada yang berhak sebagai WNI dalam pilpres nanti atau pesan untuk prabowo apabila menjadi pemimpin, mungkin penulis diberi ilmu sebagai orang tua ketika penulis masih kanak kanak tanpa perlu dipastikan apakah kelak penulis akan menikah dan punya anak, saya berharap penulis jangan pernah mengecilkan ruang lingkup kebenaran atas ilmu untuk kepentingan tertentu.
    4. Penulis seolah sudah memiliki ilmu kasyaf yang tinggi untuk menilai kasyaf itu sendiri, terikat dari kesalahan kesalahan yang mendasar di atas, rasanya penulis teranggap terlalu lebih jauh lagi untuk berbicara tasawuf.

    Kesimpulan, penulis dan tulisannya ini wajib ditinggalkan

  3. Rasulullah bersabda, “Berhati-hatilah kamu terhadap firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan (diterangi) cahaya Allah.” (Riwayat Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudry–dihasankan Ibnu Hajar, As-suyuthi, dan asy-Syaukani)

  4. UAS memberikan dukungan kepada salah satu paslon untuk menjawab apa yg ditanyakan jamaah tabligh nya setiap dia singgah ke daerah2.. makanya beliau melakukan itu.. Adapun alasan beliau menceritakan ttg ulama kasyaf kan beliau sendiri takut salah ..terlepas dari kriteria ulama kasyaf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here