Apakah Pandemi Covid-19 Bisa Dikategorikan Sebagai Musibah yang Sangat Berat?

0
140

BincangSyariah.Com – Mengajak seorang untuk bersikap tenang dan berfikir positif terhadap pandemi Covid-19 memang bukan hal mudah. Sejumlah peristiwa yang memilukan terjadi membuat masyarakat semakin yakin bahwa Covid-19 ini adalah musibah yang begitu berat. Pandemi ini berdampak pada kondisi ekonomi yang sangat berat, mereka yang kehilangan keluarganya karena terdampak pandemi ini, hingga sejumlah perusahaan terpaksa merumahkan sejumlah karyawan akibat aturan bekerja dari rumah (work from home).

Melihat dampak dari pandemi Covid-19, apakah Covid-19 ini merupakan musibah yang sangat berat? Bagaimana masyarakat pada masa sekarang mengetahui kategori musibah yang sangat berat? Kepada siapa Allah SWT akan memberikan musibah berat tersebut?

Diantaranya diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, pada kitab Sunan At-Tirmidzi (j. 6 h. 179),

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟ قَالَ: الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.

Saya bertanya, wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat musibahnya? Beliau menjawab, “ para nabi kemudian para ulama. Sehingga seseorang dicoba sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kuat, maka dia akan diberi cobaan yang berat. Kalau agamanya lemah, maka dicoba sesuai dengan agamanya. Tidaklah musibah berada dari seorang hamba sampai dia meninggalkan dan berjalan di atas bumi sementara dia tidak mempunyai kesalahan (HR. Tirmidzi).

Dari hadis di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan musibah itu bertingkat, semakin tinggi keimanan seorang, maka Allah juga akan mengujinya yang amat sangat berat. Lagi-lagi musibah merupakan proses penguatan iman, dengan bersabar dan tidak berfikir negatif terkait datangnya musibah, pada intinya tidak perlu musibah itu disikapi yang berlebihan. Cukup dengan mengambil hikmah dari musibah tersebut.

Baca Juga :  Surat Umar bin Khattab untuk Abu Ubaidah di Tengah Wabah Amwas

Dalam hadis Aisyah r.a sesungguhnya Nabi SAW bersabda seperti disebutkan pada kitab Shahih Muslim (1991, j. 5, juz 5)

   وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ – وَاللَّفْظُ لَهُمَا – ح وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الْحَنْظَلِيُّ – قَالَ إِسْحَاقُ: أَخْبَرَنَا وقَالَ الْآخَرَانِ: حَدَّثَنَا – أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»

Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya. Atau dihapuskan kesalahannya dengannya.

Sikap ikhlas atas segala kehendak Allah akan menjadikan kita memperoleh perjalanan spritual yang luar biasa, karena musibah ialah sekolah, pasti ada nilai pelajaran yang akan kita ambil. Semua akan bernilai baik, asal kita juga menghindari dari segala penafsiran negatif tentang musibah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here