Apakah Muntah Membatalkan Wudhu?

0
1012

BincangSyariah.Com – Muntah terjadi ketika ada dorongan dan kontraksi yang kuat dari otot perut untuk mengeluarkan isi lambung. Umumnya, kita akan muntah ketika sedang tidak enak badan atau sedang dalam perjalanan, atau sedang mengalami hamil muda bagi kaum perempuan. Ketika kita muntah, apakah hal itu dapat membatalkan wudhu?

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai muntah, apakah membatalkan wudhu atau tidak. Setidaknya, ada dua pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini. (Baca: Bolehkah Berwudhu Dengan Cara Menyelam?)

Pertama, menurut Imam Syafii dan ulama Syafiiyah, muntah tidak membatalkan wudhu. Apapun yang keluar dari selain kubul dan dubur, maka itu tidak membatalkan wudhu. Misalnya, makanan atau cairan yang keluar dari lambung ke mulut atau muntah, darah yang keluar dari kulit dan lainnya.

Sementara jika keluar dari kubul dan dubur, apapun bentuk barangnya, maka hal itu membatalkan wudhu. Karena muntah keluar melalui tenggorokan, bukan dari kubul dan dubur, maka tidak membatalkan wudhu.

Ini juga merupakan pendapat kebanyakan para sahabat dan tabiin, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Sayidah Aisyah, dan lainnya.

Kedua, menurut Imam Abu Hanifah dan ulama Hanafiyah, muntah membatalkan wudhu. Karena itu, menurut pendapat ini, jika seseorang muntah, maka dia wajib melakukan wudhu.

ومذهبنا انه لا ينتقض الوضوء بخروج شئ من غير السبيلين كدم الفصد والحجامة والقئ والرعاف سواء قل ذلك أو كثر وبهذا قال ابن عمر وابن عباس وابن أبي اوفى وجابر وابو هريرة وعائشة وابن المسيب وسالم بن عبد الله بن عمر والقاسم ابن محمد وطاوس وعطاء ومكحول وربيعة ومالك وابو ثور وداود قال البغوي وهو قول أكثر الصحابة والتابعين وقالت طائفة يجب الوضوء بكل ذلك وهو مذهب أبي حنيفة والثوري والاوزاعي وأحمد واسحاق

Baca Juga :  Renungan di Tahun Baru 2020

Madzhab kami (ulama Syafiiah), wudhu tidak batal akibat keluar sesuatu selain dari dua jalan (kubul dan dubur), seperti darah bekam, muntah, baik hal itu sedikit maupun banyak. Ini adalah pendapat Ibnu Umaar, Ibnu Abbas, Ibnu Abi Awfa, Abu Hurairah, Aisyah, Ibnu Al-Musayyib, Salim bin Abdillah bin Umar, Al-Qasim bin Muhammad, Thawus, Atha’, Makhul, Rabi’ah, Malik, Abu Tsaur, dan Daud. Imam Al-Baghawi berkata; Ini adalah pendapat kebanyakan sahabat dan tabiin.

Segolongan ulama berpendapat bahwa wajib wudhu dengan keluarnya semua di atas. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Al-Ttsauri, Al-Auzai, Imam Ahmad dan Ishaq.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here