Apakah Menebarkan Hoaks dan Kebencian Bisa Membatalkan Puasa Ramadan?

1
610

BincangSyariah.Com – Syekh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa puasa merupakan ibadah untuk membersihkan jiwa, menghidupkan batin, menguatkan iman, dan mempersiapkan orang yang berpuasa menjadi bagian dari hamba yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam al-Baqarah (2) 183 (Taysir al-Fiqh fi Dhaw’i al-Qur’an wa as-Sunnah (Fiqh ash-Shiyam), 1993: 101).

Oleh karena itu, setiap Muslim harus memelihara puasanya dari perkara-perkara yang bisa mengurangi kualitasnya, atau membatalkannya, atau menghanguskan pahala-pahalanya. Sehingga dia harus senantiasa memelihara pandangannya, pendengarannya, dan semua anggota tubuhnya dari perkara-perkara yang diharamkan Allah ketika sedang berpuasa.

Selain itu, dia harus menahan lisannya agar tidak beromong kosong, berkata keji, membentak (marah-marah), dan membodoh-bodohkan orang lain. Dia juga tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan, tetapi lebih baik membalas keburukan tersebut dengan perkara-perkara yang lebih baik (hlm. 102).

Dengan demikian, setiap Muslim harus menjadikan puasa sebagai perisai untuk melindungi jiwa-raganya dari dosa-dosa, maksiat, dan azab Allah kelak di akhirat. Ketentuan semacam ini banyak diajarkan dalam hadis dan pendapat para sahabat, tabiin, dan ulama salaf pada umumnya. Dalam hal ini, para sahabat dan ulama salaf sangat menekankan agar puasa menjadi sarana untuk membersihkan jiwa dan anggota tubuh dan membersihkan diri dari maksiat dan dosa-dosa (hlm. 102).

Sebab, menurut Sayyidina Umar bin Khattab ra., puasa sejati bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri agar tidak berdusta, berbuat batil, dan omong kosong. Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari berkata: “kalau kamu berpuasa, maka puasakanlah matamu, telingamu, dan lisanmu dari berkata dusta dan perbuatan-perbuatan dosa. Janganlah kamu menyakiti pembantu. Jadilah kamu orang yang terhormat dan tenang dengan puasamu. Jangan kau jadikan hari-hari berbukamu sama dengan hari-hari berpuasamu (hlm. 102-103).

Baca Juga :  Tiga Hal yang Hilang dari Kita di Dunia Digital

Di sisi lain, menurut beberapa ulama salaf, Allah hanya menerima puasa seseorang yang bisa memelihara seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan-perbuatan dosa beserta mengekang rasa lapar, haus, dan syahwat seksual ketika berpuasa (hlm. 102). Artinya, apabila dia melakukan perbuatan-perbuatan maksiat ketika berpuasa, maka puasanya tersebut tidak diterima oleh Allah.

Dalam hal ini, Imam al-Baidhawi menjelaskan bahwa tujuan disyariatkannya puasa bukan untuk melaparkan perut semata, tetapi untuk mengalahkan gejolak hawa nafsu dan menundukkan nafsu ammarah ke nafsu muthma’innah. Sehingga puasa seorang Muslim tidak diterima oleh Allah apabila tidak bisa mengalahkan hawa nafsu dan menundukkan nafsu ammarah ke nafsu muthma’innah (hlm. 104).

Oleh karena itu, tidak heran apabila Imam Ahmad al-Fasyani menyebutkan tiga jenis puasa, yaitu: puasa umum (ash-shaum al-‘umum), puasa khusus (ash-shaum al-khushush), dan puasa khusus yang paling khusus (ash-shaum al-khushush al-khushush). Puasa umum adalah menahan makan, minum, dan jimak. Puasa khusus adalah menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan maksiat. Sementara puasa khusus yang paling khusus adalah memalingkan hati dan pikiran dari keinginan-keinginan hina dan menahannya memikirkan perkara-perkara selain Allah (Imam Nawawi al-Jawi, Kasyifah as-Saja, hlm. 8).

Namun demikian, sebagian Muslim yang sedang berpuasa terkadang masih suka melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, seperti gibah, berbohong, menebar hoaks, kebencian, provokasi, mencaci-maki, memfitnah, menipu, mencuri, korupsi, mengganggu dan menyakiti orang lain, melihat perkara-perkara haram, dan perbuatan maksiat lainnya. Pertanyaannya adalah: apakah perbuatan-perbuatan maksiat tersebut bisa membatalkan puasa Ramadan?

Menanggapi pertanyaan tersebut, para ulama fikih masih berbeda pendapat―yang secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok ulama yang berpendapat bahwa semua perbuatan maksiat membatalkan puasa Ramadan. Mereka terdiri dari beberapa sahabat, tabiin, mazhab Imam al-Awza‘i, dan Ibn Hazm yang merupakan salah satu tokoh mazhab adh-Dhahiri (hlm. 103).

Baca Juga :  Jimak di Siang Ramadan dalam Keadaan Lupa, Apakah Wajib Membayar Kafarat?

Oleh karena itu, apabila Muslim yang sedang berpuasa Ramadan melakukan perbuatan dosa (maksiat), seperti gibah, fitnah, adu domba, dan berbohong; atau mendengarkan dan melihat perkara-perkara yang diharamkan; atau menyakiti seseorang atau binatang tanpa alasan yang dibenarkan syariat; atau mencuri; atau berjalan untuk melakukan perbuatan maksiat; atau melakukan perbuatan-perbuatan haram lainnya, maka puasanya tersebut batal. Sehingga dia wajib menggati(qadha’)nya di bulan-bulan berikutnya (hlm. 103).

Dengan kata lain, perkara yang membatalkan puasa tidak hanya terbatas kepada makan, minum, dan berjimak, tetapi mata, hidung, mulut, telinga, tangan, dan kaki juga bisa membatalkan puasa apabila digunakan untuk berbuat maksiat (hlm. 103).

Kedua, kelompok jumhur ulama fikih yang berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan maksiat (baik kecil maupun besar) tidak membatalkan puasa Ramadan meskipun merusak kualitas dan pahala puasa tersebut. Sebab, tidak seorangpun (kecuali orang-orang tertentu yang dilindungi Allah dari perbuatan maksiat) bisa terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat, terutama maksiat mulut (hlm. 103-104). (Baca: Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Ghazali)

Dalam hal ini, Imam Ahmad bin Hanbal (tokoh mazhab Hanbali) yang terkenal zuhud, warak, dan takwa berkata: “kalau seandainya gibah membatalkan puasa, maka sedikitpun kita tidak akan bisa berpuasa.” Oleh karena itu, jumhur ulama fikih menegaskan bahwa perbuatan-perbuatan maksiat tidak bisa membatalkan puasa. Namun demikian, perbuatan-perbuatan maksiat tersebut bisa merusak kualitas puasa, mengurangi pahala-pahalanya, dan bahkan bisa menghanguskannya (hlm. 104).

Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi, meskipun perbuatan maksiat tidak membatalkan puasa, tetapi tidak selayaknya Muslim menganggap remeh terhadap perbuatan maksiat tersebut. Sebab, perbuatan-perbuatan maksiat akan mengurangi dan bahkan menghabiskan kualitas dan pahala-pahala puasa (hlm. 104).

Artinya, Muslim yang berpuasa dan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, maka dia tidak akan mendapatkan kebaikan apa-apa dari puasanya tersebut. Sehingga dia hanya melaparkan perutnya dan mengekang nafsu seksualnya saja, karena pahala puasanya telah hangus oleh perbuatan-perbuatan maksiat. Dalam hal ini, Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa banyak Muslim yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga (hlm. 104).

Baca Juga :  Kamu Harus Tahu Hal-hal yang Membatalkan Puasa Ini

Lebih lanjut Syekh Yusuf al-Qaradhawi menekankan agar umat Islam memanfaatkan bulan Ramadan secara maksimal. Sebab, Ramadan merupakan bulan dan kesempatan khusus untuk membersihkan dosa-dosa yang pernah diperbuat selama sebelas bulan sebelumnya. Oleh karena itu, setiap Muslim yang berpuasa dalam keadaan beriman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah (imanan wa ihtisaban), maka Allah akan mengampuni dan membersihkan seluruh dosanya, terutama dosa-dosa kecil. Sehingga dia akan keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan terampuni dan bersih dari dosa-dosa (hlm. 104).

Namun, apabila dia merusak puasa tersebut dengan perbuatan-perbuatan maksiat (baik menggunakan mulut, telinga, tangan, maupun anggota tubuh lainnya) dan menyia-nyiakan kesempatan khusus untuk membersihkan jiwa-raga, maka dia tidak berhak mendapatkan pengampunan yang dijanjikan oleh Allah. Dalam hal ini, terkadang seseorang menganggap remeh dosa-dosa kecil. Padahal dosa-dosa kecil tersebut kalau sudah banyak akan membahayakan dan menghancurkan hidupnya (hlm. 104). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here