Apakah Mencium Istri Membatalkan Puasa?

1
710

BincangSyariah.Com – Puasa itu menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Salah satu hal yang dapat membatalkan puasa adalah mengeluarkan air mani dan berhubungan badan/jimak dengan sengaja, meskipun tidak sampai mengeluarkan air mani. Lalu bagaimana hukumnya bagi seorang suami yang mencium istrinya ketika berpuasa? Apakah batal puasanya?

Berkaitan dengan hukum mencium istri, terdapat hadis yang disepakati keshahihannya oleh imam al Bukhari dan Muslim sebagaimana berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَأ قَالَتْ: ((كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ)). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ، وَزَادَ فِيْ رِوَايَةٍ ((فِيْ رَمَضَانَ)).

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Nabi Saw pernah mencium sedangkan beliau berpuasa, dan beliau pun pernah menyentuh kulit sedangkan beliau berpuasa, tetapi beliau lebih dapat menahan nafsunya.” (muttafaqun alaih). Lafadznya milik imam Muslim dan ia pun menambahi redaksi (di dalam bulan Ramadan.)

Sekilas hadis tersebut menunjukkan akan kebolehan suami yang sedang melaksanakan puasa mencium dan menyentuh kulit istrinya selain jima. Tetapi akhir pernyataan Aisyah ra. tersebut mengindikasikan bahwa mencium dan menyentuhnya Nabi Saw. kepada istrinya di saat berpuasa karena ia mampu menahan syahwatnya.

Sementara bagi umatnya tidak demikian, sehingga dalam menanggapi hadis tersebut terjadi perbedaan pendapat di kalangan imam madzhab empat sebagaimana yang telah dikutip oleh Hasan Sulaiman an Nuri dan Alawi Abbas al Maliki di dalam kitab Ibanatul Ahkam Syarh Bulugil Maram (Lebanon: Darul Fikr, juz, 2. hal. 299-300) dalam mensyarah hadis tersebut.

Menurut imam Ahmad (w.241 H.), boleh bagi orang berpuasa yang dapat menahan nafsunya mencium (istrinya) dan hal tersebut tidak membatalkan puasa. Sedangkan menurut imam Malik (w. 179 H.) hukumnya makruh secara mutlak jika ia tahu pasti akan selamat (dari syahwat yang akan menjerumuskan pada hubungan badan). Tetapi jika ia tidak tahu (tidak dapat memastikan) keselamatannya maka hukumnya haram mencium istrinya.

Baca Juga :  Hidup Makmur Dengan Bersyukur

Sementara itu, menurut imam Abu Hanifah (w.150 H.) makruh bagi orang yang berpuasa mencium dan menyentuh selain hal yang buruk (jima) jika tidak aman terhadap nafsunya, dan tidak makruh jika nafsunya aman dari mengeluarkan air mani.

Adapun menurut imam Syafi’i (w. 204 H.) dan pengikutnya, berciuman saat berpuasa tidaklah haram bagi orang yang tidak menimbulkan gejolak syahwat di dalam dirinya.

Tetapi, meskipun ia mampu menahan syahwatnya lebih baik ia tinggalkan. Imam Syafi’i tidak mengatakan makruh tetapi berhukum khilaful aula (lebih baik ditinggalkan daripada dilakukan), dengan adanya hadis Nabi Saw. yang pernah melakukannya di saat berpuasa karena Nabi Saw. dipastikan aman dari perkara yang melebihi batas ciuman.

Sementara bagi selain Nabi Saw. dikhawatirkan dapat melewati batas ciuman. Adapun bagi orang yang tidak dapat menahan syahwatnya maka haram baginya menurut pendapat yang paling shahih.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hukum mencium istri di waktu puasa adalah diperbolehkan, tidak batal dan tetap sah puasanya selama ia tidak melakukan hal-hal yang sampai membatalkan puasa yakni jimak dan keluarnya mani.

Namun, sebaiknya bagi orang yang berpuasa meninggalkan hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat dan membatalkan puasa. Apa salahnya menahan sebentar dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari, toh setelah itu di malam hari masih ada waktu yang panjang untuk bermesraan dengan istri.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here