Apakah Mani (Sperma) Itu Najis? Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab

2
1865

BincangSyariah.Com – Setiap orang yang sudah mencapai usia akil balig pasti sudah merasakan keluar mani. Keluar mani itu bisa dirasakan saat mimpi basah atau ketika bersenggama dengan pasangan. Apakah mani atau sperma itu najis? Syekh Sulaiman al-Bujairimi menjelasakan perbedaan pendapat ulama mengenai mani dalam kitab Hasyiyah-nya.

وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكٌ بِنَجَاسَةِ الْمَنِيِّ مِنْ الْآدَمِيِّ. وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ: إنَّهُ طَاهِرٌ. زَادَ الشَّافِعِيُّ: وَكَذَا مَنِيُّ كُلِّ حَيَوَانٍ طَاهِرٌ

Imam Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa mani manusia itu najis. Sementara itu, Imam Syafii dan Ahmad berpendapat bahwa mani manusia itu suci. Imam Syafii bahkan berpendapat bahwa setiap hewan itu maninya suci (kecuali anjing dan babi).

وَأَمَّا حُكْمُ التَّنَزُّهِ عَنْهُ فَيَجِبُ غَسْلُهُ عِنْدَ مَالِكٍ رَطْبًا وَيَابِسًا، وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ يُغْسَلُ رَطْبًا وَيُفْرَكُ يَابِسًا كَمَا وَرَدَ

Hukum membersihkan mani itu wajib dibasuh menurut Imam Malik baik dalam keadaan masih basah, atau saat sudah mengering. Sementara menurut Imam Abu Hanifah, mani itu wajib basuh saat masih basah, dan dikerok saat sudah mengering sebagaimana yang pernah Nabi lakukan.

Sementara itu, mazhab Imam Syafii dan Hanbali hanya menyunahkan mencuci bekasi mani, baik sudah kering ataupun saat masih basah sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuh.

وقال الشافعية على الأظهر، والحنابلة: المني طاهر ويستحب غسله أو فركه إن كان مني رجل

Menurut pendapat paling azhar dalam mazhab Syafii, dan Hanbali, mani itu suci. Disunahkan membasuh atau mengeroknya bila itu merupakan mani lelaki.

Syekh Wahbah al-Zuhaili lebih jauh berpendapat bahwa pendapat yang mengatakan mani itu suci lebih kuat daripada pendapat sebaliknya. Alasannya adalah sperma merupakan salah satu material terciptanya manusia. Jika mani najis, maka ada asumsi bahwa manusia itu juga najis.

Baca Juga :  Tujuh Tingkatan Neraka

Selain itu, hal ini juga untuk mempermudah orang awam pada umumnya. Namun demikian, walaupun suci, tetap saja kita disunahkan untuk menghilangkannya terlebih dahulu apabila hendak melaksanakan ibadah. Hal ini semata-mata mengikuti apa yang pernah Nabi Muhammad lakukan. Wallahualam

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here