Benarkah Ruh Hewan juga Dicabut Malaikat Maut?

0
2143

BincangSyariah.Com – Baik hewan maupun manusia sama-sama ciptaan Allah. Yang membedakan antara hewan dan manusia adalah manusia memiliki akal sehingga bisa berperilaku yang berbeda dengan hewan. Namun, manusia dan hewan sama-sama akan mengalami kematian. Pertanyaannya adalah apakah ruh hewan sama dengan manusia, akan dicabut malaikat maut?

Tema ini masuk kedalam perkara-perkara yang dalam ilmu tauhid masuk kategori al-sam’iyyat. Artinya, kita tidak bisa merasionalisasikannya karena persoalan ruh sampai saat ini tidak dapat dideteksi oleh kecanggihan teknologi. Membicarakan ruh sama seperti pembicaraan mengenai dimana persisnya surga, neraka, atau seperti apa kehidupan setelah mati. Persoalan seperti itu hanya bisa dipahami dengan dalil.

Walau bagaimanapun, para ulama bukannya tidak mengusahakan menjawab pertanyaan ini dengan detail – bahkan dijadikan karya khusus. Namun, ada juga yang menolak karena kita tidak boleh “kelewatan berijtihad” dalam persoalan yang tidak diketahui kecuali dengan dalil.

Saya mengambil contoh laman bernama islamqa.info. Menurut laman ini, tidak seperti persoalan ruh manusia yang ada dalilnya dengan jelas. Persoalan ruh hewan menurutnya tidak ada dalil yang sahih baik dari Alquran maupun hadis. Yang ada, adalah riwayat yang kualitasnya sebenarnya lemah. Bahkan, penulisnya mencantumkan penilaian hadis oleh al-Albani kalau hadis ini palsu. Riwayat tersebut terdapat dalam kitab al-Dhu’afa, kumpulan hadis-hadis dha’if yang dikompilasikan oleh al-‘Uqaili,

آجال البهائم كلها من القمل والبراغيث والجراد والخيل والبغال كلها والبقر وغير ذلك ، آجالها في التسبيح ، فإذا انقضى تسبيحها قبض الله أرواحها ، وليس إلى ملك الموت من ذلك شيء

“ajalnya hewan itu seluruhnya baik kutu, serangga, belalang, kuda, keledai, sapi dan hewan lainnya, ajalnya adalah pada tasbih-nya. Ketika hewan tersebut berhenti bertasbih (mensucikan Allah), maka Allah mencabut nyawanya. Bukan malaikat maut yang mencabutnya.”

Laman ini tidak melanjutkan penjelasan hadis ini lebih lanjut. Penjelasannya utamanya mengarah pada penegasan bahwa sebaiknya kita tidak bertanya sesuatu yang sebenarnya tidak dalilnya dalam syariat. Lebih lanjut, kita mengikuti saja apa yang ada dalilnya dan diam untuk sesuatu yang tidak ada dalilnya. Orang yang memperdalam hal-hal yang gaib dan tidak dalilnya menurut artikel tersebut sudah disindir Nabi Saw. dengan ungkapan: halaka al-mutanatthi’un (celaka orang-orang yang berlebihan).

Baca Juga :  Agar Tidak Cinta Buta

Meskipun demikian, penulisnya kembali mencantumkan riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah Ra. dan terdapat dalam Mushannaf ‘Abdur Razzaq. Riwayat itu juga diriwayatkan oleh Ibn Jarir (al-Thabari) dan al-Baihaqi, saat menafsirkan ayat 38 dari surah al-An’am.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” 

            “seluruh ciptaan akan dibangkitkan di hari kiamat, hewan ternak, yang melata, burung, semuanya (akan dibangkitkan). Kemudian, karena keadilan Allah Swt. saat itu ia memanggil hewan yang bertanduk lalu berkata: “jadilah kalian tanah !”. Karena itulah orang kafir pada berkata (agar tidak terkena azab) yang terdapat dalam surah al-Naba: 40, “seandainya saya menjadi tanah saja.”

Riwayat ini terdapat diantaranya juga dalam kitab al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur karya al-Suyuthi.

Laman lain yaitu fatwa.islamweb.net  menjawab bahwa hewan (ia mencontohkan al-hasyaraat= serangga) juga dicabut ruh-nya layaknya manusia saat mati. Ia mengutip pernyataan Ibn Abi Zayd dalam kitab al-Risalah dimana ia mengutip hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani,

َأَنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللهِ يَا مُحَمَّدُ لَوْ أَرَدْتُ أَنْ أَقْبِض رُوْحَ بَعُوْضَةٍ مَا قَدَرْتُ عَلى ذلِكَ حَتّى يَكُوْنَ اللهُ هُوَ أَذِنَ بِقَبْضِهَا

“bahwa Malaikat Izrail pernah berkata kepada Nabi Saw.: “Demi Allah wahai Muhammad, seandainya aku berhendak untuk mencabut nyawa nyamuk, saya tidak mampu melakukannya sampai Allah mengizinkan aku untuk mencabutnya.”

Dari berbagai kutipan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa para ulama sebenarnya sepakat kalau hewan memiliki ruh/nyawa layaknya manusia. Karena hewan digolongkan sebagai ummah layaknya manusia, berdasarkan nas Alquran. Ulama juga sepakat tidak ada azab atau pahala pada hewan.

Baca Juga :  Jasad Tak Memiliki Nama Saat Ruh Keluar

Namun, ulama hanya berbeda pendapat apakah hewan diambil nyawanya oleh malaikat Izrail, layaknya manusia atau oleh Allah langsung. Menanggapi pertanyaan ini, ada yang berupaya menjawab dengan menghadirkan riwayat yang mendukung. Ada yang menghindari dengan dalil bahwa yang tidak ada dalil sahih dalam Alquran dan Hadis sebaiknya tidak dibahas. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here