Apakah Kera yang Ada Sekarang, adalah Kera Kutukan di Zaman Nabi Musa?

0
6224

 BincangSyariah.Com – Di zaman Nabi Musa AS, hari sabtu adalah hari istimewa, hanya boleh digunakan untuk beribadah, tidak untuk selainnya. Pada hari ini aktivitas sosial selalu sunyi dan sepi, seluruh kaum Bani Israel (Yahudi) kuhsyuk beribadah di rumah masing-masing sesuai ajaran Nabi Musa, burung yang biasa terbang menghiasi langit berlibur (tidak terbang) dan berkumpul mentaati perintah Allah SWT.

Namun Bani Israel yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan di desa Ayla atau yang dikenal dengan nama Madyan, Thabariyyah, dan Maqnat terdapat sekelompok manusia yang melanggar perintah Allah SWT, mereka pergi menangkap ikan pada hari sabtu dengan memasang jaring pada hari jum’at dan mengambilnya pada hari minggu. Hal yang demikian ini tetap saja melanggar, sekalipun hanya memasang jaring dan mereka melaksanakan ibadah pada hari sabtu. Kemudian Allah SWT mengutuk mereka menjadi kera. Allah SWT berfirman :

كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاشِئِيْنَ

(…Jadilah kalian kera yang hina…) [QS. Al-Baqarah; 65]

Para Mufassirin (ahli tafsir) telah mengurai kisah mengenai kutukan dalam ayat tersebut. Imam Al-Qurtubi (486-567,H) madzhab malikiyyah yang brasal dari Cordoba (spanyol) di dalam Kitab Tafsirnya yang berjudul Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an telah berpendapat bahwa Kaum Yahudi pasca pengutukan telah menjelma menjadi Kera (monyet) selama tiga hari. Setelah itu mereka meninggal dan punah tidak memiliki keturunan. Adalagi pendapat yang lain mengatakan bahwa pasca pengutukan mereka menjelma menjadi kera (monyet) dan hidup tiga hari. Kemudian oleh Allah SWT dikembalikan pada bentuk semula menjadi manusia normal dan kemudian meninggal dalam keadaan berbentuk manusia.

Keterangan tersebut diperkuat dengan Hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda :

إٍنَّ اللهَ لَمْ يُهْلِكْ قَوْمًا أَوْ يُعَذِّبُ قَوْمًا فَيَجْعَلُ لَهُمْ نَسَلاً، وَإِنَّ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ كَانُوْا قَبْلَ ذَالِكْ

Baca Juga :  Ayat Ahkam: Hukum Asal Segala Sesuatu yang Diciptakan adalah Mubah (al-Baqarah: 29)

(…Sesungguhnya ketika Allah SWT tidak tidak menghancurkan atau tidak memberikan adzab pada suatu kaum (manusia), maka Allah SWT akan menjadikan mereka memiliki keturunan. Dan sesungguhnya kera dan khinzir telah ada sebelum (tragedi) pengutukan bani Israel (Yahudi)…) [HR. Muslim]

Dengan dasar hadits tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Kera (monyet) di zaman ini, bukan berasal dari keturunannya Bani Israel (Yahudi) yang dikutuk oleh Allah SWT menjadi Kera (monyet), karena di zaman dahulu jauh sebelum terjadi kutukan di zaman Nabi Musa yang menimpa penduduk desa di tepi pantai, Kera (monyet) sudah ada diciptakan oleh Allah SWT.

Dengan demikian, maka dapat dipastikan bahwa Kera (monyet) yang hidup pada zaman ini bukanlah keturunan dari mereka (Bani Israel) yang dikutuk menjadi Kera (monyet), melainkan Kera (monyet) di zaman ini memiliki gen tersendiri yang berbeda dan tidak sama dengan gen manusia. Sebab bila diambil dari mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dari hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW tersebut memiliki arti bahwa ketika Allah SWT tidak memberikan adzab atau menghancurkan pada kaum maka Allah SWT akan memberikan keturunan, nyatanya mereka diberi adzab dan dihancurkan. Oleh karena, mereka tidak diberikan keturunan. [Lihat Tafsir Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Karya Al-Qurtubi].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here