Apakah Insiden Penembakan di Masjid Selandia Baru Akibat Islamophobia?

0
353

BincangSyariah.Com – Penembakan di dua masjid besar di Christchurch, Selandia Baru, pada hari Jumat adalah aksi kekerasan senjata yang relatif jarang terjadi di Selandia Baru.

Terakhir, Insiden kekerasan paling mematikan di Selandia Baru terjadi pada November 1990 di Aramoana, sebuah pemukiman kecil di pesisir timur laut Dunedin. Pelaku, yang diidentifikasi sebagai David Malcolm Gray, 33, menewaskan 13 orang sebelum dia dibunuh oleh polisi.

Namun seperti mimpi buruk, aksi kekerasan yang lebih mematikan terjadi lagi pada Jumat siang kemarin di pusat kota Christchurch. Pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa ada puluhan warga sipil yang meninggal akibat aksi tersebut.

“Jelas bahwa ini adalah salah satu hari paling gelap di Selandia Baru,” kata Perdana Menteri Jacinda Ardern dalam siaran pers yang dilakukan di Wellington kemarin (16/03).

Penembakan hari Jumat juga diyakini sebagai pembunuhan ganda pertama yang melibatkan rumah ibadat dalam sejarah negara itu. Ardern menyebut serangan itu “tindakan kekerasan yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya.”

Sementara itu menurut HA Hellyer dalam tulisannya di situs The Guardian,  serangan terhadap Muslim di Selandia Baru patut diwaspadai bahwa tren Islamophobia semakin berkembang dan dilakukan oleh beberapa individu yang teradikalisasi. Sebagaimana terjadi di beberapa negara barat lainnya.

Jika masyarakat menyangkal ancaman fanatisme anti-Muslim atau meremehkan luasnya Islamophobia, lanjut Hellyer, itu sama saja dengan memberikan bantuan kepada mereka yang berusaha untuk menimbulkan kebencian terhadap komunitas Muslim. Jika masyarakat dunia membiarkan insiden ini berlalu begitu saja tanpa mengenali ide-ide yang mendorongnya, maka itu hanya masalah waktu sebelum teror seperti itu akan terulang.

Menurut Hellyer, banyak dari mereka di barat akan ketakutan setelah melihat berita itu, khawatir bahwa serangan ini mungkin akan menjadi ancaman baru yang berkelanjutan bagi keselamatan mereka.

“Kita harus memastikan mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa Masyarakat luas itu akan mendukung mereka. Bahwa kita melihat mereka bukan sebagai komunitas Muslim yang ditransplantasikan ke barat, tetapi sebagai komunitas Muslim di barat,”ujar analis Inggris yang telah banyak menulis tentang politik dunia Arab modern, agama dan politik, serta mengenai hubungan mayoritas-minoritas, masalah keamanan dan dunia Muslim di Barat, tersebut.

Namun sampai saat ini, aksi terorisme yang sengaja diposting di media sosial itu sampai saat ini belum dikonfirmasi oleh pihak berwenang sebagai aksi terkait retorika anti-Muslim dan sentimen politik ekstremis.

Baca Juga :  Buntut Terorisme di Masjid Christchurch: Pelajar Muslimah Takut Meninggalkan Rumah

Sebab selama ini, beberapa penembakan dan kekerasan di lembaga keagamaan jarang terjadi di Selandia Baru. “Muslim telah berada di Selandia Baru selama lebih dari 100 tahun. Tidak ada yang seperti itu pernah terjadi,” kata Mustafa Farouk, presiden Federasi Asosiasi Islam, mengatakan dalam sebuah wawancara telepon dengan CNBC News.

Sampai saat ini diketahui bahwa jumlah penduduk Muslim mencapai sekitar 1,1 persen dari populasi Selandia Baru dari 4,25 juta orang dalam angka sensus yang diterbitkan pada 2013 (sensus 2019 telah ditunda), dan Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru mendaftarkan 57 masjid dan pusat-pusat Muslim lainnya di seluruh negeri.

Populasi Muslim tercatat telah berkembang pesat dan meningkat 28 persen sejak 2006, menjadi 46.149 – dan diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 100.000 pada tahun 2030, menurut penelitian yang diterbitkan pada 2017 di The Journal of Muslim Minority Affairs .

“Kami berkeliling dunia dan memberi tahu orang-orang bahwa kami tinggal di negara paling damai di dunia,” kata Farouk, menambahkan, “Ini tidak akan mengubah pikiran kami tentang tinggal di sini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here