Apakah Astronot Tetap Wajib Salat?

0
365

BincangSyariah.com – Di tahun 1960-an, Syaikh Mahmud Syaltut (Grand Syaikh al-Azhar di masa itu)  dalam kumpulan fatwa-nya pernah membicarakan soal apakah Alquran pernah membicarakan manusia yang pergi ke bulan. Jawaban beliau adalah memang di Alquran tidak ada ayat yang secara jelas menerangkan bahwa manusia dapat mencapai bulan. Namun, ini tidak berarti bahwa manusia tidak direstui oleh agama untuk melakukan hal-hal demikian. Temuan manusia – waktu itu – berupa kemampuan menginjakkan kaki di bulan menggunakan pesawat ulang alik diserahkan oleh Alquran untuk dipikirkan sendiri oleh manusia. Alquran memang menjelaskan sunnatullah bahwa Allah menciptakan apa yang di langit dan bumi. Serta, Allah membuat matahari dan bulan untuk beredar. Allah juga memberikan kita kemampuan dan cara untuk mengetahui ciptaan Allah. (Mahmud Syaltut, al-Fatawa: Dirasatun li Musykilaat al-Muslim al-Mu’ashir fi Hayatihi al-Yaumiyyah wa al-‘Ammah, h. 394).

Sekarang, faktanya manusia meskipun masih dalam jumlah yang sangat terbatas sudah bisa ke luar angkasa. Negara-negara maju membuat International Space Station (ISS) di atas bumi di mana astronot yang keluar bumi dipastikan tinggal atau mengunjungi tempat itu. Tercatat orang Islam yang pernah berangkat ke luar angkasa adalah Sultan bin Salman, putra raja Arab Saudi hari ini dan Sheikh Muzapar dari Malaysia.

Pertanyaannya adalah jika astronot seorang Muslim, apakah ia memiliki kewajiban beribadah seperti salat layaknya di bumi?

Mengutip fatwa yang ditulis di islamweb.net, bahwa seorang Muslim walaupun di luar angkasa tidak terlepas dari keterikatannya dengan syariat. Karena ia sedang melakukan perjalanan jauh, maka salat yang ia lakukan adalah dengan cara di jama’ dan qashar.

Adapun berkaitan dengan air, maka ia dapat memanfaatkan air secukupnya yang disediakan oleh pesawat ulang alik. Namun, ia juga dapat melakukan tayammum jika air yang tersedia sangat terbatas.

Baca Juga :  Benarkah Ali bin Abi Thalib pernah Membakar Kaum Murtad? (Bagian III)

Sementara, tata cara salatnya mengikuti ketersediaan tempat yang ada. Arah yang dijadikan kiblat adalah bumi. Karena ia sedang berada di luar bumi, maka arah Kabah dapat disimpulkan adalah bumi. Dasarnya adalah keumuman pada Q.S. al-Baqarah [2]: 144,

وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ – البقرة:144

“…dan di mana pun kalian berada maka arahkan pandanganmu ke arahnya (Ka’bah)”

Lalu, bagaimana cara mengetahui dan menentukan waktu-waktu salatnya? Masih mengutip fatwa lain dari islamweb.net, bahwa waktu salatnya mengikuti tempat asal ia berangkat. Misalkan, ketika ia berasal dari tempat yang waktu siang dan malamnya normal, maka ia harus mengikuti waktu salat yang berjalan di tempat asalnya di bumi.

Demikian beberapa ijtihad para ulama terkait salat di luar angkasa. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here