Apakah Amaliah yang Tidak Dilakukan Rasulullah Termasuk Dalil Syari?

8
1318

BincaBgSyariah.Com – Revolusi industri 4.0 turut berdampak pada model dakwah Islam. Media daring / online menjadi majlis baru dalam belajar Islam. Pada masa ini pula kita dikenalkan dengan brand ustad sunnah. Walau penulis sendiri tidak setuju dengan brand ini. Karena mengesankan selain dari kelompok ini tidak mengikuti sunnah. Padahal setiap muslim pasti akan mengikut sunnah.

Sayangnya di era revolusi industri 4.0 ini muncul beberapa fatwa yang meresehkan masyarakat. Seperti fatwa tidak bolehnya merayakan ulang tahun, mendengarkan musik, maulid Nabi Saw, tahlil, dan lain sebagainya. Dalil yang sering digunakan untuk mengharamkan adalah itu tidak pernah dilakukan Nabi Saw.

Sejenak mari kita lihat dalam tradisi hukum Islam apa saja dalil syari. Dalam berbagai literatur ada empat dalil yang disepakati oleh seluruh ulama, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafii. Keempat dalil tersebut adalah Alquran, Hadis, Ijmak dan Qiyas.

Dalil lain yang digunakan adalah mashlahah mursalah (kebaikan/kepentingan umum), al-urf (kebiasaan), istishab (mengikuti ketentuan lama sampai ada ketentuan baru), Syaru man qablana (hukum yang ditetapkan Allah kepada umat sebelum Nabi Muhammad dan tidak dianulir oleh Alquran dan Hadis), dan mazhab shahabi (pendapat sahabat). Enam dalil tarakhir ada yang disepakati dan ada juga diperselisihkan oleh ulama apakah dapat dijadikan dalil atau tidak.

Dari 10 dalil syari di atas penulis tidak ditemukan perbuatan itu tidak pernah dilakukan Nabi Saw. Mari kita cek kembali apakah yang tidak dilakukan Nabi Saw dapat dijadikan dalil?

ما احل الله في كتابه فهو حلال، وماحرم فهو حرام، وما سكت عنه فهو عفو، فاقبلو من الله عافيته، (وما كان ربك ناسيا

Baca Juga :  Zakat Adalah Kombinasi Ibadah dan Pengentasan Kemiskinan! Ini Tiga Macam Syariat Menurut Imam al-Ghazali

Artinya: Setiap yang dihalalkan Allah dalam kitabNya maka dia halal, dan apa yang diharamkan maka haram, dan apa yang didiamkan maka dia dimaafkan, maka terimalah apa yang telah Allah maafkan (Allah mu tidak pernah lupa).

Hadis di atas diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis diantaranya adalah oleh al-Daruquthni dan al-Thabari. Hadis ini oleh sebagian kritikus hadis dikatakan lemah. Ada yang mengatakan hukumnya dhaif, matruk, dan ada juga yang mengatakan mursal. Namun hadis ini tidak berdiri sendiri, terdapat hadis lain yang maknanya senada dengan ini. Penulis melihat walau kualitas hadis ini dhaif, namun terdapat hadis lain yang menguatkan hadis tersebut. Dapat disimpulkan hadis ini adalah hasan dan dapat dijadikan argumentasi.

Dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan “sesuatu tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw. adalah dalil syari”, pendapat ini tidak tepat dan mengada-ada. Hemat penulis ini sangat berbahaya, karena akan mengesankan sunnah yang selama ini kita pahami dari apa yang dilakukan, diucapkan, ditetapkan dan sifat Rasulullah Saw berubah menjadi “kalau tidak pernah dilakukan, diucapkan, ditetapkan atau bagian dari sifat Rasulullah Saw maka itu menjadi haram dilakukan”. Ini sangat berbahaya.
Wallahu alam.

8 KOMENTAR

  1. Seperti fatwa tidak bolehnya merayakan ulang tahun, mendengarkan musik, maulid Nabi Saw, tahlil, dan lain sebagainya. Dalil yang sering digunakan untuk mengharamkan adalah itu tidak pernah dilakukan Nabi Saw.
    Kutipan yg tak sependapat.
    [Saran saya , penulis sebelum menulis seharusnya paham betul , diharamkan atau tidaknya dengan referensi kitab – kitab yang lain] jgn asal nulis, hati2 karena karena tulisan Anda orang lain dapat menghalalkan yang haram.

    • dalam berbagai kitab, sebut saja contohnya ushul al-fiqh al-islami karya Wahbah al-Zuhaili, al-Mustasyfa karya imam Ghazali, dan hadis nabi ketika mengutus Mu’az ibn Jabal ke Yaman, apa pesan beliau. Silahkan dibaca lagi

  2. sunnah yg benar² dicontohkan oleh rasul itu banyak banget, belum bs kita lakukan semua sdh buat yg baru.
    islam itu simpel,cukup ikut aj apa yg telah dicontohkan rasulullah

  3. Saran untuk penulis tahlil sangat dianjurkan karena ada tuntunannya yg ga ada tuntunannya tahlilan untuk orang mati,maksudnya ketika orang itu telah meninggal malamnya pada tahlilan,baca surat yasin dll pahalanya dikirim untuk orang mati,sampe 7 hari,trus 40 hari,100 hari,1000 hari dst itu tidak dicontohkan ROSULULLOH,jadi ini kan membuat ibadah sendiri,membuat syariat sendiri emang penulis dapat wahyu dari siapa,QUAR,AN ALISRO 36 jangan melakukan sesuatu yg tak tau ilmunya krna pendengaran,penglihatan,hatinurani akan dimintai pertanggung jawaban oleh ALLAH.

    • Tuh kan, gak nyambung … justru cara berpikir yang kaya mas ini yang bertentangan dengan ajaran Islam sendiri….. Imam Thawus dari kalangan tabi’in diantara yang membenarkan berdoa kepada yang sudah wafat di hari ketujuh dan hari keempat puluh itu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here