Apakah Benar Adil itu Sama Rasa Sama Rata?

1
609

BincangSyariah.Com – Sebenarnya apa sih hakikat adil itu? Ya, adil memiliki makna yang berbeda-beda dan itu sangat dipengaruhi oleh ideologi yang dipegang teguh masing-masing individu. Adil menurut perspektif sosialis-komunis ialah sama rasa sama rata atau membagi sesuatu itu dengan ukuran yang sama. Sedangkan sama rata sama rasa yaitu membagi segala sesuatu dengan ukuran yang sama tanpa memperlakukan seseorang sesuai hak dan kewajibannya. Apakah memang adil bermakna demikian?

Pada hakikatnya menurut syariat, adil itu bukan sama rasa sama rata. Prof. Naquib al-Attas menerangkan bahwa banyak istilah kunci dalam Islam yang menjadi kabur dan rancu sehingga menyimpang dari makna sebenarnya atau dapat disebut penafi-islaman bahasa (de-Islamization of languange). Akan tetapi hal ini sering kali mejadi kekeliruan nyata bagi sebagian orang yang sering menyalahartikan mana yang adil dan mana yang sama rata.

Adil menurut Prof. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar, menjelaskan bahwa adil yaitu “menimbang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada yang empunya dan jangan berlaku dzalim, aniaya.” Lawan dari adil adalah dzalim, yaitu memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dan mempertahankan perbuatan yang salah, sebab yang bersalah adalah kawan atau keluarganya sendiri (Adian Husaini, Filsafat Ilmu, hlm. 215-217)

Adil itu menempatkan segala sesuatu sesuai tempat dan porsi kemampuannya serta memberikan sesuatu kepada orang yang berhak menerimanya. Segala ciptaan Allah merupakan wujud keberagaman dan keserasian yang sengaja diciptakan untuk saling memiliki keteraturan yang tinggi, karena itu semuanya berbeda baik itu fisik, karakter dan budaya.

Yang kaya membantu yang kekurangan, yang paham menuntun yang belum paham. Seperti halnya dalam Islam tidak dibatasi mana yang kaya dan miskin. Mereka diberi amanat untuk saling melengkapi. Yang kaya membantu yang miskin dengan membagi rizki yang ia punya. Sehingga ia bisa mendistribusikan kekayaannya dan mengentaskan kemiskinan melalui zakat tersebut.

Baca Juga :  Siapakah Orang yang Paling Buruk di Hari Kiamat?

Dengan demikian, di dalam harta zakat itulah terdapat hak bagi orang-orang yang tidak mampu, sebab kelimpahan harta yang dimiliki orang kaya merupakan hasil jerih payah usahanya didorong dengan bantuan orang lain.

Adapun orang miskin bukan berarti ia orang yang hina, akan tatapi ia sangat berjasa dalam membantu orang lain melalui tenaga dan jasanya. Jika semua orang di dunia ini adalah orang kaya maka organ tersebut akan rusak dan tidak akan ada keserasian didalamnya.

Oleh karena itu, implementasi zakat, infak dan sedekah serta menuntun seseorang agar menjadi paham terhadap sesuatu merupakan wujud keadilan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin sehingga kemaslahatan tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk sesamanya. Wallahu a’lam bisshawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here