Apa Tujuan Allah Memberikan Nikmat pada Hamba-Nya?

0
435

BincangSyariah.Com – Salah satu bentuk kecintaan Allah kepada manusia adalah Allah ciptakan langit dan bumi beserta isinya sebagai fasilitas kemakmuran serta kesejahteraan yang disiapkan-Nya bagi manusia. Nikmat ini diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan-Nya yang terbaik.  Tidak ada sesuatu yang dapat melebihi kebaikan Allah Yang Maha Pengasih. Kebaikan yang diberikan kepada manusia, berlaku di setiap jiwa dan waktu. Allah senantiasa memberikan kebaikan-Nya kepada manusia dalam setiap keadaan. Firman Allah di dalam  QS Al Nahl ayat 18:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Adanya nikmat dapat menjadikan hati manusia tentram dan lapang, sebab nikmat yang Allah berikan dapat memudahkan kehidupan manusia. Misalnya, dengan anugerah nikmat sehat, seorang pekerja dapat bekerja dengan mudah dan cepat tanpa ada keluhan. Dengan nikmat harta, seseorang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mudah.

Orang yang tidak punya harta, niscaya ia akan menghabiskan banyak waktunya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, kemudian ia menghadapi berbagai macam yang menyakitkan yang bisa melupakannya dari ibadah pada Allah, dan semua itu tidak bisa ditolak kecuali dengan senjata harta benda.

Sebagai mandataris Allah di muka bumi, manusia dianugerahi Allah kemampuan fisik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, kemampuan pandangan mata, penglihatan telinga, juga keterampilan kaki dan tangan manusia terbatas, tidak sebanding dengan kebutuhan hidupnya yang selalu ingin dipenuhi.

Oleh sebab itu, Allah anugerahi manusia akal pikiran untuk memanfaatkan bumi dan seisinya Dengan kemampuan akal, manusia dapat terbang. Begitupun dengan kemampuan akal, manusia dapat berbicara dan bertatap muka dengan orang yang berada di belahan bumi lainya. Dengan bekal pengetahuan, manusia mampu mengelola alam dan memberdayakannya demi kemaslahatan hidup. Kemampuan ini merupakan ketetapan atas rahmat Allah sebagaimana firman-Nya:

Baca Juga :  Doa Agar Menjadi Orang yang Pandai Bersyukur

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin  mengibaratkan kehidupan seperti laut yang di bawahnya terdapat bermacam-macam mutiara dan intan permata. Untuk dapat memperolehnya, manusia harus berusaha berenang dan menyelam. Namun yang terpenting adalah, ia harus pandai menjaga dari bahayabahayam laut. Jika ia pandai berenang dan menyelam, juga pandai menjaga dari bahaya-bahaya laut, maka akan memperoleh kenikmatan.

Akan tetapi, jika ia hanya mampu berenang dan menyelam saja, tidak mengetahui cara menyelam yang baik yang dapat menjaganya dari bahaya-bahaya laut, maka jadilah ia binasa. Begitu pula adanya jika manusia hanya pandai berusaha untuk memperoleh harta dan materi di dunia, namun tidak pandai menjaga diri dan hartanya dari bahaya-bahaya dunia yang disebabkan oleh kenikmatan tersebut, niscaya harta yang dimiliki hanya akan mendatangkan mudarat bagi pemiliknya, bukan mendatangkan kebermanfaatan.

Dengan demikian kenikmatan materi berupa harta, kesehatan dan kedudukan bisa menjadi penopang ketaatan ibadah seseorang kepada Allah. Di atasnya, manusia bisa beramal dan berinfak, menunaikan haji dan berjihad, menolong yang membutuhkan dan bermanfaat bagi manusia di sekitarnya. Semuanya mendatangkan kebahagiaan hidup dalam hati seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here