Apa Status Anak Hasil Kawin Kontrak ?

0
149

BincangSyariah.Com – Secara kebahasaan, nikah berarti ad-damm wal-jam’ (penggabungan dan pengumpulan) atau al-wath’u (persetubuhan). Secara istilahi nikah adalah ikatan perjanjian (‘aqd) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk mensyahkan istimta’ atau hubungan badan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Selain ibadah, nikah merupakan wujud sikap kerjasama antara individu dalam mendirikan lembaga keluarga

Salah satu syarat dari sebuah pernikahan adalah diberi jangka waktu atau sifat dari pernikahan selamanya. Dan salah satu bentuk pernikahan yang menyalahi syarat tersebut adalah nikah Mut’ah. Nikah mut’ah (kontrak) adalah nikah yang perkawinannya diberi jangka waktu yang disebutkan ketika akad. Gambaran nikah kontrak ini adalah calon suami berkata kepada calon istrinya, “aku akan menikahimu dalam beberapa waktu.”

Nikah Mut’ah (kontrak) menurut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali itu hukumnya adalah haram. Referensi pandangan ini merujuk diantaranya kepada kitab Al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i (j. 5 h. 71), Fatawi Syar’iyyah karya Syaikh Husain Muhammad Mahluf (j. 2 h. 7), Rahmatul Ummah (h. 21), I’anatuth Thalibin (j. 3 h. 278-279), Al-Mizan al-Kubraa (j. 2 h. 113) dan Hasyiyah As-Syarwani ‘alat Tuhfah (j. 7 h.224).

Akan tetapi, muncullah pertanyaan apa status anak hasil kawin kontrak atau nikah mut’ah? Melihat hampir semua ulama sepakat bahwa akad pernikahan seperti itu diharamkan.

Untuk pertanyaan ini, Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari pengarang kitab Fathul Mu’in telah membahasnya dalam permasalahan yang berkaitan nikah dengan jangka waktu ini. Beliau menulisnya dengan redaksi seperti berikut :

وَيَلْزَمُهُ فِىْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ الْمَهْرُ وَالنَّسَبُ وَ الْعِدَّةُ

dan mahar, nasab dan iddah itu tetap pada nikah mut’ah (kontrak).

Untuk menerangkan kalimat diatas, Syekh Abu Bakr bin Utsman bin Syattha ad-Dimyathi dalam karyanya yang berjudul Ianatut Thalibin memberikan catatan pinggir (hasyiyah) dengan redaksi seperti berikut,

Baca Juga :  Hukum Donor ASI dalam Islam

وَقَوْلُهُ  وَالنَّسَبُ أَيْ لَوْ حَمِلَتْ مِنْهُ وَأَتَتْ بِمَوْلِدٍ فَإِنَّهُ يُنْسَبُ اِلَيْهِ

yang dimaksud dengan kata “nasab” pada ucapan (teks fathul Mu’in) adalah andaikan sang isteri hamil dan melahirkan anak dari hasil kawin kontrak tersebut, maka anak tersebut dinasabkan pada si suami.

Dari redaksi sudah jelas sekali bahwasanya nasab seorang anak hasil dari kawin kontrak tetap bernasab pada si suami. Keterangan seperti di atas tidak hanya diungkap di kitab Fathul Mu’in dan Ianatut Thalibin. Keterangan yang sama juga dapat ditemukan dalam Roudhotut Tholibin karya Imam An-Nawawi, Fiqh Islam wa Adillatuhu karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, al-Hawi al-Kabir karya Muhammad bin Zakariya ar-Razi. Seluruhnya menyimpulkan pada inti keterangan yang sama, yakni nasab anak hasil kawin kontrak tetap bersambung pada ayahnya atau si suami pelaku kawin kontrak meskipun hukum pernikahannya adalah haram.

Wallahu A’lam bis Showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here