Apa Sebenarnya yang Dimaksud dengan Akad Salam?

1
536

BincangSyariah.Com – Kata “salam” secara bahasa berarti terdahulu atau lampau. Sedangkan secara terminologi syariat, Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha, dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syâfi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000) mendefinisikan salam sebagai:

بيع شيء موصوف في الذمة بلفظ السلم

“Jual beli sesuatu yang telah disifati dalam tanggungan dengan dengan lafadz pemesanan”

“Sesuatu yang telah disifati” disini maksudnya bahwa barang yang dipesan telah disebutkan kriterianya, dan “dalam tanggungan” disini berarti pihak penyedia barang menyanggupi untuk menyediakan barang pesanan tersebut.

Pada prinsipnya, akad salam ini merupakan bagian dari akad bai’ (jual-beli). Bedanya adalah salam modelnya berupa jual beli komoditas yang tidak ada atau yang belum dimiliki oleh seorang manusia. Model jual beli yang barangnya belum ada pada asalnya hukumnya haram. Namun, dalam hal ini, akad salam (pemesanan) diperbolehkan karena meskipun barangnya belum ada dan belum dimiliki oleh seseorang, namun telah ada kesanggupan untuk mengadakannya. Mengapa akad salam ini diperbolehkan dalam syariat Islam. Dasarnya adalah kebutuhan yang besar untuk hal ini. Sebagaimana tersebutkan dalam hadits Nabi:

من أسْلَفَ فَلْيُسلفْ في كيل معلوم، ووزْن معلم، إلى أجل معلوم

“Barangsiapa yang melakukan akad pemesanan, maka lakukanlah pada takaran dan timbangan yang telah ditentukan menurut perjanjian waktu yang telah diketahui (disepakati)”. (HR Bukhari & Muslim)

Kehalalan akad salam juga ditunjang oleh ayat Al-Quran yang menyebutkan pentingnya mencatat perjanjian apapun, termasuk hutang,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ .. }

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” (QS. Al-Baqarah: 282)

Baca Juga :  Sambut Ramadhan, Multaqa Ulama Ajak Umat Islam Menjaga Stabilitas Usai Pemilu

Salah satu problem yang terjadi dalam akad salam ialah seringkali terjadi tumpang tindih pengertian antara akad salam dengan akad tawkil, dimana kasusnya ialah pembeli meminta penjual untuk menyediakan barang yang telah disebutkan spesifikasinya sehingga timbul kesan bahwa seharusnya pihak penjual mendapatkan upah (ujrah) karena dia telah menjadi orang suruhan (wakil) dari pembeli. Sementara kita tahu bahwa seorang suruhan tidak boleh mengambil keuntungan dari penjualan barang jika tanpa ada ridlo pembeli.

Untuk menghindari salah pemahaman semacam itu, berikut akan kami berikan salah satu contoh akad salam secara sitemastis:

Pertama, pembeli menunjukkan spesifikasi barang yang dia kehendaki seperti seragam SD dengan menunjukkan kualitas tertentu berikut jumlah barangnya. Sesudah terjadi kesepakatan soal harga, pihak penjual menyebutkan durasi waktu kesanggupan kapan ia akan menyediakan barang tersebut sekaligus menyebutkan tempat serah terima barang. Misalkan akan dikirim dan biaya pengiriman ditanggung oleh penjual atau akan diambil oleh pembeli di tempat penjual.

Berikutnya, pembeli diperbolehkan untuk tidak menyerahkan keseluruhan nominal transaksi ataupun langsung membayarnya secara kontan saat itu juga. Akad salam dalam hal ini kemudian bisa dibatalkan apabila ternyata barang yang disediakan tidak sesuai dengan spesifikasi sebagaimana yang disebutkan di awal oleh pembeli.

Demikian penjelasan tentang akad salam, semoga bermanfaat.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here