Makna Kata “Setan”

0
1172

BincangSyariah.com – Apa sebenarnya makna kata “setan” ? Orang sering menyebut kata “setan”, sehinggga kata-kata ini familiar dan bgitu populer. Di berbagai momen sosial dan “basa-basi”, dalam sehari-hari, misalnya, mungkin orang bisa berkali-kali mendengar dan juga bahkan mungkin mengucapkannya.

Kata “setan” muncul dan bertebaran; Baik ketika seseorang ingin menisbatkan suatu hal yg buruk pada sosok mahluk ghaib yg diberi nama “setan”, Ataupun ketika seseorang sedang emosi, kecewa dan marah terhadap orang lain, kemudian menunjuk-nunjuknya dgn sebutan “setan”.

Bahkan, ada juga orang yg berlaku dosa dan maksiat lalu mengatakan bahwa perbuatannya itu adalah akibat bisikan mahluk astral yg namanya “setan”. Ini dilakukan sebagai kedok dan tempat sembunyi, supaya terlihat bhwa ia hanya khilaf dan tidak sengaja keluar kontrol dirinya. Karena, pada dasarnya ia adalah suci sbgaimna fitrahnya. Begitu kira-kira teknologi berkelitnya.

Lalu, dari mana asal muasal kata “setan” itu?

Kata “setan” dalam tradisi Nusantara adalah sebuah kata serapan dari Bahasa Arab. Kata ini bermigrasi ke bahasa Nusantara melalui jalur aktivitas dakwah Islam. Lalu, populer di masyarakat dan menjadi kata yg menembus lintas batas tradisi, suku, ras dan agama di Nusantara.

Dalam Bahasa Arab, kata “setan” tertulis dalam bentuk lafadz al-syaithan. Pada dasarnya, ada perbedaan pendapat soal makna kebahasaan kata al-syaithan Akar perbedaannya terletak pada derivasi akar katanya dan posisi nun-akhirannya.

Pendapat Pertama; sebagaimana termaktub dalam kitab Al-‘Ain karya Khalil Ahmad Al Farahidi, Asasul Balaghah karya Az Zamakhsyari, Al Qamus al Muhith karya Al Fairuz Abaadi dan Al Mujam Al Wasith karya Kumpulan Pakar Bahasa Arab Mesir;

Kata asy-syaithaan berasal dari derivasi akar kata syathana yg bermakna ba’uda ‘anil haq, yang berarti jauh dari kebenaran sejati. Hal ini dari runutan akar derivasi syathanahu-yasythanahu-syathanan yg memiliki makna ia (dianggap) jauh ketika ada perbedaan sudut pandang dan niat dengannya (idzaa khaalafahu ‘an wijhatihi wa niyyatihi). Sehingga, ketika ada orang Arab mengatakan; wa syaththati ad daar, berarti rumahnya jauh. Adapun bentuk isim fa’il (pelaku kerja/orangnya) adalah asy-syaathin, yg dimaknai al khabiits yg berarti; yang buruk.Berdasarkan ini semua, maka kata al syaithan itu mengikuti wazan fai’alun , sehingga nun diakhirnya itu adalah ashliyah (asli dari kata dasar-muasalnya).

Baca Juga :  Siapa yang Lebih Dulu, Nabi Adam atau Manusia Purba?

Pendapat Kedua, Sebagaimana termaktub dalam kitab Maqayisul Lughah karya Ibnul Faris, Lisanul Arab karya Ibnul Mandzur, Mukhtarus Sahah karya Ar Razi dan Al-Mufradaat karya Ar Raghib Al Asfahani;

Bahwasanya kata asy-syaithaan itu berasal dari akar kata kerja syaatha, yang berarti ihtaraqa min al-ghadhab yakni aktifitas murka membara dari emosi marah. Hal ini dari runutan akar derivasi syaatha – yasyiithu – tasyayyuthan, yang bermakna; ia (beraktifitas) murka, sebagaimana/mirip dgn ketika suatu benda kering terjilat api, lalu terbakar atau hancur ( idza lafihathu al-naar fa-htaraqa aw halaka).

Berkenaan dengan ini, maka kata syaithaan itu serupa dengan kata haimaan dan ghaimaan yg dari asal muasal kata haama dan ghaama , sehingga disimpulkan bahwa kata syaithaan berdasar akar katanya (isytiqaq) mengikuti wazan fa’laan , sehingga nun-akhirannya dihukumi sebagai za’idah atau tambahan yg berfungsi Mubalaghah (penekanan serius bagi sebuah pekerjaan / verb).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kata “setan” itu adalah sebutan untuk sebuah aktivitas yang;

1) Jauh dari Kebenaran Sejati, atau ia dianggap jauh sebab beda sudut pandang dan-atau beda niat. Sehingga ia dianggap sbgai yang buruk (al-khabiits)

2) Murka membara dari emosi marah, yang mungkin bisa membakar atau menghancurkan.

Nah, aktivitas ini bisa nempel pada siapapun mahluk Allah ta’ala di alam ini. Ia bisa melekat sebab ketidakmampuan menstabilkan dan mengharmoniskan dua sisi. Yaitu antara Ilmu Nurani Ilahi dan Emosi Hasrat Duniawi saat dalam mengarungi kehidupan di alam fana ini. Sehingga, ia sampai melakukan aktifitas yang jauh dari kebenaran sejati.

Ia bisa juga melekat, apabila ada sudut pandang dan niat tujuan yg berlainan, sehingga bisa saling-nunjuk degan ucapan; “situ setan”.

Baca Juga :  Para Pesepakbola yang Berlebaran di Negeri Beruang Merah

Ia juga bisa melekat, lalu menjadi identitas diri, apabila emosi – amarah menyulut suatu aktivitas murka atau semacam tindakan bodoh lainnya. yg mampu membakar dan menghancurkan dirinya dan pihak lain.

Marilah kita bersama ucapkan;

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah -dgn nama-Nya yg mulia- dari SETAN yg Terkutuk.

Klik Ustadz Muhammad Shofin Sugito untuk menemukan tulisan beliau lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here