Apa Saja Syarat Sah Akad Pemesanan Pengerjaan Barang (Istishna’) ?

0
356

BincangSyariah.Com – Akad Pemesanan Pengerjaan Barang (istishna’) ialah akad yang terjalin antara pemesan produk sebagai pihak pertama dan produsen sebagai pihak kedua, dimana pihak kedua menyanggupi untuk membuatkan barang sesuai pesanan yang diinginkan dengan harga yang telah disepakati.

Ulama memang berbeda pendapat terkait hal ini. Ada yang melarangnya karena material berasal dari pihak produsen sementara ia dianggap menjual barang yang belum wujud, ada yang menganggapnya sebagai bagian dari akad salam, dan ada juga yang memperbolehkannya serta menganggap akad ini sebagai akad yang terpisah dari akad salam.

Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha, dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syâfi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000) menyatakan bahwa meskipun terjadi perbedaan pendapat, namun jika kita melihat realita yang ada di masyarakat dimana akad ini sudah sangat lumrah terjadi (ghalib; umum), maka kita bisa menggunakan pendapat yang memperbolehkan dan menganggapnya sebagai akad yang independen.

Ulama yang memperbolehkan praktik akad istishna’ ini kemudian memberikan beberapa persyaratan sebagaimana berlaku pada akad salam, agar akad istishna’ ini menjadi sah, dengan penambahan penjelasan syarat-syarat khusus, yakni:

  1. Memperjelas dan mensepakati spesifikasi barang yang dipesan. Misalkan jika yang dipesan adalah bangunan rumah maka dijelaskan tipe, jumlah kamar dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari perselisihan antara kedua belah pihak pada saat penyerahterimaan barang dilangsungkan.
  2. Waktu penyerahan barang tidak dibatasi. Apabila dibatasi, maka otomatis akad berubah menjadi akad salam. Pendapat semacam ini ialah pendapat Imam Abu Hanifah, yang berbeda dengan pendapat Abu Yusuf yang menyatakan bahwa boleh saja akad istishna’ ini dibatasi waktunya.

Jika kita mengikuti pendapat Abu Yusuf tentang pembatasan waktu, maka kita akan menganggap bahwa kedua belah pihak sama-sama terikat kontrak akad sehingga tidak boleh secara serampangan membatalkan akad mereka. hal ini didukung pula oleh hadits yang menyatakan:

Baca Juga :  Thahir Haddad: Pejuang Feminis Tunisia yang Meninggal Dalam Pengasingan

المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ. رواه أبو داود

“Kaum muslimin senantiasa memenuhi persyaratan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here