Apa Saja Syarat dan Rukun Akad Salam?

0
1628

BincangSyariah.Com – Sebagaimana kita ketahui, akad salam merupakan akad pemesanan barang yang spesifikasinya telah terjelaskan oleh pembeli dan penyediaannya telah disanggupi oleh penjual. Agar menjadi sah, akad salam ini memiliki rukun dan mesti menepati berbagai persyaratan yang telah ditentukan oleh syariat.

Rukun akad salam ada empat, yakni: pertama, kedua belah pihak yang berakad, yang terdiri dari muslim (pihak pembeli yang memesan barang) dan muslam (pihak penjual yang menyanggupi penyediaan barang). Kedua, shighat ijab-kabul. Ketiga, ra’sul maal atau uang panjar, dan keempat, muslam fih (komoditi barang yang dipesan).

Pada masing-masing rukun akad salam, terdapat beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi.

Untuk rukun pertama, dua belah pihak yang melakukan akad salam, yaitu pembeli yang memesan barang dan penjual yang menyanggupi pengadaan barang, keduanya disyaratkan haruslah memenuhi kriteria persyaratan sebagaimana yang ada pada akad bai’ (jual beli). Kriteria persyaratannya adalah berakal, baligh, memiliki potensi ikhtiar (artinya tidak terpaksa ataupun tidak sedang dalam posisi bangkrut) dan persyaratan lainnya.

Agak sedikit berbeda dengan akad jual beli, pada akad salam diperbolehkan transaksi salam yang melibatkan orang buta. Alasannya jika dalam akad jual beli, disyaratkan kedua belah pihak sama-sama melihat barang yang diperjualbelikan. Sementara dalam akad salam, cukup hanya dengan mengetahui sifat atau spesifikasinya saja meskipun hanya dengan mendengar. Selanjutnya serah terima barang ia wakilkan kepada orang yang mampu melihat agar memastikan spesifikasi yang ia inginkan terpenuhi.

Rukun kedua, yakni shighat ijab-kabul. Syaratnya ialah sama dengan syarat ijab-kabul yang ada pada akad jual beli, yaitu kedua belah pihak berada pada majelis akad yang sama, dan kecocokan antara ijab dengan kabulnya. Tentu saja dalam akad ini mesti menggunakan kata”salam” atau “pesan/order”. Demikian pula, dalam akad salam ini harus meniadakan khiyar syarat, sehingga akad haruslah spontan, karena khiyar syarat disyariatkan sebagai pengecualian pada akad jual beli yang mutlak, sehingga tidak berlaku pada lainnya. Karena pada akad salam ini disyaratkan untuk menyerahkan uang panjar dalam majelis akad, maka khiyar syarat menjadi tidak berlaku dan hanya menyisakan khiyar majlis.

Rukun ketiga, yakni uang panjar. Ialah uang yang diserahkan oleh pembeli kepada penjual sebagai pertanda pemesanan. Syaratnya ialah: harus jelas kadar dan sifatnya seperti 100 dinar, 100 dirham, 10 juta rupiah, 1.000 dolar, ataupun lainnya. Jika pembayarannya bukan menggunakan uang, namun menggunakan barang yang lain yang biasanya ditakar atau ditimbang, semisal dibayar menggunakan beras, maka harus diperjelas takaran atau timbangannya serta jenis komoditinya. Misalkan: dibayar pakai beras cianjur premium sebanyak 100 kwintal.

Baca Juga :  Meminjamkan Barang Pinjaman, Apakah Boleh?

Rukun keempat ialah muslam fih; komoditi barang yang dipesan. Syaratnya ialah: berupa sesuatu yang bisa dispesifikasi menggunakan kriteria tertentu. Selanjutnya, jenis, macam, kadar serta sifat benda tersebut sama-sama diketahui dengan maklum oleh penjual dan pembeli. Berikutnya, spesifikasi yang disebutkan haruslah jelas sehingga tidak ada potensi tertukar dengan komoditi lainnya. Terakhir, ia mesti berupa barang yang memungkinkan untuk diserahterimakan pada saat waktu penyerahan barang telah tiba di tempat yang telah ditentukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here